Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Melihat Pahitnya Dunia Pro Player lewat Film Nobody Loves Kay

Melihat Pahitnya Dunia Pro Player lewat Film Nobody Loves Kay
Bima Azriel sebagai Kay dalam Nobody Loves Kay (dok. Visinema Pictures/Nobody Loves Kay)
Intinya Sih
  • Film Nobody Loves Kay menggambarkan perjuangan Kay, remaja yang ingin jadi pro player meski ditentang ibunya dan menghadapi stereotip negatif terhadap karier di dunia esports.
  • Kisahnya menyoroti tantangan menyeimbangkan pendidikan dengan karier esports, menunjukkan pentingnya manajemen waktu agar prestasi akademik dan impian profesional bisa berjalan beriringan.
  • Film ini memperlihatkan tekanan mental, rivalitas antar sahabat, serta kedewasaan yang dibutuhkan seorang pro player untuk bertahan dan sukses di dunia kompetitif esports.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Nobody Loves Kay (2026) adalah film drama coming-of-age asal Indonesia yang tengah menjadi topik pembicaraan di kalangan fans game Mobile Legends: Bang Bang. Terinspirasi dari Kairi Ygnacio Rayosdelsol, atau biasa dipanggil Kairi, yang kini membela tim ONIC Esports (ONIC), film ini menceritakan seorang pemuda SMA bernama Kay yang bercita-cita menjadi pro player. Namun, untuk menembus dunia esports profesional, dirinya harus menghadapi berbagai rintangan dan hambatan yang tidak selalu berjalan mulus.

Nobody Loves Kay bukan sebatas film yang terinspirasi dari ONIC Kairi. Ia juga memperlihatkan sisi lain dunia esports yang jarang tersorot kamera. Lewat perjalanan Kay, Nobody Loves Kay mengajakmu menyelami dan merasakan peliknya menjadi pro player.

1. Terjun ke dunia esports berarti harus siap menghadapi penolakan orangtua

cuplikan Nobody Loves Kay
cuplikan Nobody Loves Kay (dok. Visinema Pictures/Nobody Loves Kay)

Sering kali, tantangan terbesar yang dihadapi anak muda saat ingin terjun ke dunia esports bukan hanya soal fasilitas, melainkan juga minimnya dukungan dari orangtua. Dalam Nobody Loves Kay, kamu akan diperlihatkan perjuangan Kay yang harus menghadapi pertentangan dari ibunya. Bagi sang ibu, bermain game hanya dapat mengganggu pendidikan buah hatinya sehingga dia tidak ingin Kay terjun ke dunia esports.

Mengutip jurnal ilmiah berjudul "Parental support in esports through the lens of the theory of planned behaviour", sejumlah orangtua masih ragu dalam mendukung anak mereka berkarier di esports. Keraguan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya stereotip negatif yang masih melekat pada kalangan gamer. Selain itu, perkembangan dunia esports yang masih relatif baru membuat sebagian orangtua belum memahami betul ekosistem serta peluang karier yang ada di dalamnya.

Karena perbedaan pemahaman inilah, Nobody Loves Kay tak hanya terasa relate bagi anak muda yang ingin terjun ke esports, tetapi juga bagi mereka yang memiliki impian yang bertentangan dengan keinginan orangtuanya. Di satu sisi, sang anak ingin mengejar passion, sementara orangtuanya cenderung mencari karier yang dianggap lebih aman berdasarkan pengalaman mereka semasa muda. Kay membuktikan selama mampu bekerja keras dan bertanggung jawab atas pilihan yang kamu buat, mewujudkan mimpi bukanlah sesuatu yang mustahil.

2. Dunia esports sering kali dianggap berbenturan dengan pendidikan

Kay dan Amanda dalam Nobody Loves Kay
Kay dan Amanda dalam Nobody Loves Kay (dok. Visinema Pictures/Nobody Loves Kay)

Kay tak hanya berjuang mendapatkan restu dari ibunya, tetapi juga mempertahankan prestasi akademiknya. Di tengah kesibukan meniti karier sebagai pro player, nilai sekolah Kay diceritakan merosot tajam hingga memaksa sang ibu mengeluarkan ultimatum, yaitu memperbaiki nilai sekolah atau ikut pindah ke Arab bersama keluarganya. Tak mau mimpinya kandas begitu saja, Kay meminta bantuan Amanda, murid terpintar di kelasnya, untuk membantunya mengejar materi pelajaran yang tertinggal.

Secara tidak langsung, konflik internal yang dialami Kay juga menyoroti stigma yang masih menempel di masyarakat, yaitu anggapan kalau pendidikan dan esports adalah dua hal yang sulit berjalan beriringan. Tidak sedikit dari mereka yang menilai bahwa bermain game hanya akan menghambat prestasi akademik peserta didik. Padahal, sejumlah pro player Mobile Legends: Bang Bang, sebut saja AE Celiboy dan EVOS Caramel, sukses membuktikan bahwa pendidikan dan esports bisa berada di satu sisi yang sama.

Nobody Loves Kay menegaskan pentingnya manajemen waktu bagi seseorang yang berminat terjun ke esports sejak usia muda. Film ini juga memperlihatkan betapa besar kesungguhan Kay untuk belajar membagi waktu antara latihan, kompetisi, dan kegiatan sekolah secara seimbang. Tak hanya bagi para pro player, kemampuan manajemen waktu menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin menyeimbangkan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan pribadi.

3. Seorang pro player harus siap menjaga performanya di tengah tekanan mental

cuplikan Nobody Loves Kay
cuplikan Nobody Loves Kay (dok. Visinema Pictures/Nobody Loves Kay)

Banyak orang masih beranggapan bahwa pro player adalah profesi yang mudah dan menyenangkan. Mereka mengira bahwa seorang pro player hanya perlu berlatih dan berusaha memenangkan kompetisi. Padahal, melalui Nobody Loves Kay, Kay merasakan kehidupan pro player tidak selamanya indah di depan kamera maupun di atas panggung.

Walau tidak menuntut aktivitas fisik seberat olahraga konvensional, cabang esports telah menyumbang tekanan mental yang signifikan bagi para pro player. Hal ini merujuk pada temuan Poulus dkk. dalam penelitian berjudul "Perceived Stressors Experienced by Competitive Esports Athletes" yang menyatakan bahwa tekanan untuk menampilkan performa terbaik saat bertanding menjadi salah satu sumber stres utama yang dialami pro player. Bahkan, di luar pertandingan, mereka juga harus menghadapi tuntutan dari fans, tim, dan pihak sponsor yang turut menjadi faktor pemicu stres.

Bernardus Raka selaku sutradara Nobody Loves Kay menekankan bahwa film ini gak hanya berpusat pada perjalanan Kay sebagai bintang muda ONIC, tetapi juga membongkar sisi lain dunia esports yang jarang diketahui publik. Kamu diperlihatkan bahwa menjadi seorang pro player tidak hanya tentang jago bermain game. Sebagaimana dirasakan Kay, menjadi pro player membutuhkan mental yang kuat untuk menghadapi tekanan yang muncul sepanjang karier.

4. Menjadi pro player harus siap menghadapi sahabat sendiri

Bima Azriel sebagai Kay dalam Nobody Loves Kay
Bima Azriel sebagai Kay dalam Nobody Loves Kay (dok. Visinema Pictures/Nobody Loves Kay)

Dunia esports memang penuh dinamika yang sulit ditebak. Tidak jarang seorang sahabat yang selama ini berdiri di samping kita ternyata harus menjadi lawan. Inilah yang menjadi titik paling emosional dalam Nobody Loves Kay ketika Kay harus berhadapan dengan Ido, sahabat yang pernah menemaninya membangun tim esports semasa SMA, demi memperebutkan gelar juara dunia dalam kompetisi Mobile Legends: Bang Bang.

Skenario friend-to-foe ini sudah menjadi hal yang lumrah terjadi dalam esports. Hadji dan Oheb, misalnya, pernah menjadi rekan setim sekaligus sahabat saat membela tim Blacklist International sebelum akhirnya berpisah dan menjadi lawan yang sengit. Adapun, Kairi yang telah berhijrah ke Indonesia pun juga sering kali melawan mantan rekan seperjuangannya dari Filipina saat berkompetisi di ajang internasional, seperti M-Series dan Esports World Cup (EWC).

Layaknya dalam dunia kompetisi, ada saatnya seseorang harus melupakan sejenak status pertemanan demi mengejar tujuan yang besar, yaitu menjadi juara. Nobody Loves Kay menggarisbawahi bahwa untuk menjadi pro player, dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapi rivalitas. Rivalitas adalah hal yang normal, tetapi tidak menjadi alasan untuk menghapus persahabatan hanya karena tidak berada di tim esports yang sama.

Nobody Loves Kay menjadi pengingat bahwa menembus dunia esports bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan tekad dan usaha yang serius. Dibintangi Bima Azriel, Rey Bong, dan Aurora Ribero, film ini memberikan potret realistis bagi kamu yang berminat menjadi pro player. Apakah kamu siap menyaksikan Nobody Loves Kay yang menguras air mata di bioskop XXI dan CGV Indonesia?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More