Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengalaman Nonton Linkin Park: Unshatter di Jakarta, Haru dan Seru!
Suasana special screening film "Linkin Park: Unshatter" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (24/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Dokumenter 107 menit ini merekam perjalanan Linkin Park dari sesi studio 2022 hingga album From Zero dan konser di São Paulo, termasuk proses bangkit setelah kepergian Chester Bennington.
  • Pemutaran awal di CGV Grand Indonesia dimeriahkan LP Underground Jakarta melalui photobooth, poster, dan kuis berhadiah, sementara penonton meneriakkan jawaban dengan gaya scream.
  • Penonton ikut bernyanyi saat lagu-lagu hit diputar; film menyorot arah baru bersama Emily Armstrong dan Colin Brittain, dengan tribute Chester terbatas, serta tayang 30 September–4 Oktober 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bagaimana rasanya menyaksikan comeback Linkin Park setelah melewati salah satu fase paling berat dalam sejarah band tersebut? Jawabannya bisa ditemukan lewat Linkin Park: Unshatter (2026), film dokumenter yang merekam perjalanan mereka dari sesi rekaman studio pada tahun 2022 hingga lahirnya album From Zero dan tentunya konser tak terlupakan di Stadion Allianz Parque, São Paulo, Brasil.

IDN Times mendapat kesempatan untuk menonton terlebih dahulu Linkin Park: Unshatter di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis malam (24/9/2026). Berdurasi 107 menit, dokumenter ini menggabungkan cuplikan arsip, penampilan langsung dari sejumlah konser, serta kesaksian para anggota band dan penggemar untuk memperlihatkan bagaimana Linkin Park mencoba memulai kembali perjalanan mereka. Bagaimana keseruannya?

1. Screening Linkin Park: Unshatter dibuka dan ditutup oleh LP Underground Jakarta

Suasana special screening film "Linkin Park: Unshatter" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (24/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Suasana pemutaran perdana Linkin Park: Unshatter di Jakarta sudah terasa berbeda bahkan sebelum film dimulai. Acara dibuka sekitar pukul 19.00 oleh komunitas LP Underground, sebelum screening resmi dimulai pada pukul 19.20. Tersedia photobooth yang bisa dipakai sebelum dan sesudah nonton. Nuansa screening terasa semakin seperti pertemuan para penggemar Linkin Park daripada sekadar pemutaran film dokumenter.

Keseruan berlanjut setelah film selesai. Penonton mendapatkan poster Linkin Park: Unshatter sebagai kenang-kenangan. Namun, kejutan tak berhenti sampai di sana. Setelah kredit film berakhir, digelar kuis berhadiah CD, T-shirt, hingga vinyl Linkin Park. Cara menjawabnya pun cukup unik. Penonton yang ingin menjawab pertanyaan harus meneriakkan nama mereka dengan gaya scream ala vokalis metal.

Pertanyaannya dimulai dari yang cukup mudah, seperti album debut Linkin Park, Hybrid Theory, hingga pertanyaan mengenai perjalanan dan karya terbaru mereka. Alhasil, suasana bioskop yang sebelumnya tenang berubah menjadi arena adu cepat para LP Underground.

2. LP Underground bikin suasana bioskop seperti konser mini

Suasana special screening film "Linkin Park: Unshatter" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (24/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Salah satu pengalaman paling menyenangkan dari screening ini justru datang dari penontonnya. Kehadiran para anggota LP Underground membuat atmosfer di dalam studio bioskop terasa jauh lebih hidup. Ketika lagu-lagu Linkin Park mulai terdengar, beberapa penonton ikut berjingkrak dari bangku mereka. Rasanya seperti mendapat potongan kecil energi konser Linkin Park di dalam ruang bioskop.

Hal tersebut paling terasa ketika In the End, Somewhere I Belong, hingga The Emptiness Machine dimainkan. Penonton tidak sekadar duduk diam menyaksikan layar, tetapi ikut bernyanyi dan memberikan respons terhadap setiap lagu. Dengan durasi 107 menit, Linkin Park: Unshatter menjadi dokumenter yang cukup asyik untuk disaksikan, terutama bagi penggemar baru yang ingin melihat proses di balik lahirnya kembali Linkin Park setelah kehilangan Chester Bennington.

3. Unshatter memperlihatkan bagaimana Linkin Park mencoba bangkit kembali

Suasana special screening film "Linkin Park: Unshatter" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (24/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Sebagai dokumenter, Unshatter tidak langsung membawa penonton pada euforia kembalinya Linkin Park. Film justru dimulai dari fase yang jauh lebih emosional, yakni kondisi para anggota setelah kepergian Chester Bennington. Dari sana, film perlahan mengikuti proses mereka untuk kembali bergerak. Penonton diajak melihat bagaimana para anggota Linkin Park mencoba menemukan arah baru, menggarap proyek musik, hingga akhirnya bertemu dengan Emily Armstrong dan Colin Brittain.

Perjalanan tersebut membuat Unshatter terasa seperti cerita tentang memulai kembali, bukan sekadar dokumentasi comeback sebuah band besar. Film ini juga memadukan berbagai cuplikan arsip langka dengan penampilan langsung dari konser-konser Linkin Park. Momen ketika lagu-lagu hit dimainkan menjadi salah satu bagian yang paling menghidupkan suasana.

Meski begitu, ada satu hal yang mungkin terasa kurang bagi penggemar lama Linkin Park. Porsi tribute untuk Chester Bennington terbilang terbatas. Momen yang paling terasa justru hadir menjelang bagian kredit, ketika cuplikan Chester bersama Linkin Park menyanyikan A Place for My Head ditampilkan. Pilihan tersebut membuat film lebih berfokus pada perjalanan Linkin Park untuk move on ketimbang terus stuck di masa lalu.

Secara keseluruhan, pengalaman nonton Linkin Park: Unshatter di Jakarta terasa lengkap berkat aktivitas bersama LP Underground dan penonton yang membuat bioskop sesekali terasa seperti venue konser. Bagimu yang ingin menonton, Linkin Park: Unshatter dijadwalkan tayang mulai 30 September hingga 4 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article