Fajar Nugros saat roundtable interview film "Bapak Paling Jujur" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (6/10/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Produser Aoura Lovenson Chandra menjelaskan bahwa tim produksi tetap mempertahankan sejumlah elemen penting dari film Brasil. Salah satunya adalah esensi cerita serta beberapa bagian plot yang dianggap menjadi fondasi perjalanan karakter utamanya.
"Kalau dari yang kita ambil dari Brasil itu tuh esensi dan beberapa plotnya. Jadi kayak point of realization-nya si karakter utama, kemudian point set up-nya of course juga banyak yang kita pakai dari original material-nya," jelas Aoura.
Namun, menurut Aoura, Indonesia pada 2026 berada dalam situasi sosial dan politik yang sangat berbeda dari ketika film original dirilis pada 2014. Salah satu perubahan terbesar adalah peran media sosial dalam kehidupan politik.
"Satu hal yang memang kita hidup di zaman yang berbeda dibanding 2014, sosial media. Itu politik social media ini kan ya sekarang gitu kan, baru aja mungkin lima tahun, sepuluh tahun terakhir gitu ya, mungkin enggak sampai sepuluh tahun malah," tuturnya.
Karena itu, media sosial menjadi salah satu elemen besar yang ditambahkan ke dalam versi Indonesia. Hal tersebut juga menjadi cara bagi film Bapak Paling Jujur untuk memasukkan fenomena politik yang lebih dekat dengan keseharian penonton saat ini.
"Itu sih elemen besar yang kami tambahkan, yang kami rasa relevan dengan Indonesia, kami rasa relevan dengan zaman sekarang ini. Semua sosial media-sosial media itu enggak ada lah di original version-nya, including mereka itu diadaptasi dari Brasil itu di Meksiko dan di Korea. Itu juga dua-duanya enggak ada referensi social media. Social media, politik joget itu semua itu ya kita tambahin di sini lah," ucap Aoura.