Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Perbedaan Film Wuthering Height (2026) dengan Buku Emily Brontë

cuplikan adegan dalam film Wuthering Heights
cuplikan adegan dalam film Wuthering Heights (dok. LuckyChap Entertainment/Wuthering Heights)
Intinya sih...
  • Adaptasi Wuthering Heights hanya mengadaptasi setengah dari novel Emily Brontë
  • Pemilihan pemeran dalam Wuthering Heights mengubah implikasi dalam cerita tersebut
  • Karakter-karakter dalam film Wuthering Heights ada yang dihilangkan, digabungkan, atau diubah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Adaptasi Wuthering Heights oleh Emerald Fennell yang sangat dinantikan akhirnya sudah dirilis di bioskop. Bisa dibilang, sutradara Saltburn (2023) dan Promising Young Woman (2020) ini banyak melakukan perubahan dari materi sumbernya. Itulah sebabnya, Wuthering Heights menjadi salah satu film paling kontroversial dan adaptasinya seolah-olah memang dibuat untuk menimbulkan perdebatan.

Apalagi, adaptasi ini diangkat dari novel klasik karya Emily Brontë, dan punya judul yang sama. Jika kamu belum familiar dengan buku Emily Brontë, adaptasi Wuthering Heights karya Emerald Fennell itu lebih condong pada suguhan visual yang berbau sensual. Terus, perubahan apa saja yang dilakukan Emerald Fennell dari novel aslinya?

1. Wuthering Heights hanya mengadaptasi setengah dari novel Emily Brontë

cuplikan adegan dalam film Wuthering Heights
cuplikan adegan dalam film Wuthering Heights (dok. LuckyChap Entertainment/Wuthering Heights)

Sebagian besar adaptasi Wuthering Heights cenderung berfokus pada bagian pertama novelnya—hubungan Catherine dan Heathcliff—ketimbang menangkap keseluruhan cerita karya Emily Brontë. Gak hanya itu, film garapan Fennell ini mengesampingkan banyak elemen Gotik dalam novelnya, seperti gak adanya perasaan bersalah yang menghantui Heathcliff setelah meninggalnya Cathy (Catherine), dan hal-hal supranatural yang punya intensitas emosional pada buku tersebut. Dengan begitu, film ini pun gak mengeksplorasi generasi dari kedua karakter, khususnya anak-anak Cathy dan Heathcliff, yang kehidupannya dipenuhi dengan kekerasan dan balas dendam yang diwarisi dari orangtua mereka. Nah, dengan hilangnya hal ini, adaptasi Fennell kehilangan salah satu tema sentral Brontë, yaitu obsesi dan balas dendam.

Selain itu, film ini gak menghadirkan Tuan Lockwood untuk menengahi cerita. Gak ada Nelly Dean untuk memperumit jalan ceritanya dan gak ada perspektif dari Isabella atau Zillah untuk memperluas lensa emosionalnya. Jadi dalam film, hubungan antara Cathy dan Heathcliff disajikan secara lugas. Nah, hal inilah yang membuat penonton kurang memahami karakter Cathy.

Namun, perubahan yang paling kontroversial adalah dihapusnya adegan kematian Cathy setelah melahirkan bayinya secara prematur, karena masalah kesehatan dan mental yang dihadapinya. Dalam film, Cathy digambarkan meninggal karena depresi dan sakit parah saja. Dialog terakhir Heathcliff di menit-menit terakhir kematian Cathy, membuat filmnya terasa kosong. Kalimat terakhir Heathcliff kepada Cathy ini berbunyi, "Aku mencintai pembunuhku. Tapi pembunuhmu, bagaimana mungkin aku bisa?" Meskipun begitu, kalimat ini diucapkan di adegan lain dalam film. Nah, menghilangkan momen ini sama saja dengan mengadaptasi Romeo dan Juliet tanpa adegan balkon.

2. Pemilihan pemeran dalam Wuthering Heights mengubah implikasi dalam cerita tersebut

cuplikan adegan Heathcliff yang diperankan Jacob Elordi dalam Wuthering Heights
cuplikan adegan Heathcliff yang diperankan Jacob Elordi dalam Wuthering Heights (dok. LuckyChap Entertainment/Wuthering Heights)

Salah satu kontroversi terbesar seputar adaptasi Emerald Fennell dari Wuthering Heights adalah pemilihan pemerannya, yakni Jacob Elordi sebagai Heathcliff. Bagi kamu yang gak tahu tentang novel Emily Brontë, Heathcliff bukanlah orang kulit putih, lho. Meskipun ras/etnisnya gak disebutkan secara eksplisit, tapi Heathcliff digambarkan punya kulit yang lebih gelap, dan sering disebut sebagai "Lascar" (istilah untuk pelaut Asia Selatan/India). Heathcliff sering kali dihina dengan sebutan yang merujuk pada para pelancong Romani.

Jadi, alasan kenapa Cathy dan Heathcliff gak bisa bersama adalah karena Heathcliff bukan orang kulit putih. Itulah sebabnya, Heathcliff sering menerima perlakuan rasis sepanjang hidupnya. Alhasil, Heathcliff tumbuh dengan rasa kemarahan.

Emerald Fennell sendiri memperumit hal ini dengan memilih aktor Pakistan bernama Shazad Latif sebagai suami Cathy yang kaya raya, yaitu Edgar Linton. Heathcliff pun sering cemburu kepada Edgar bukan hanya karena Edgar menikahi Cathy, tetapi juga karena warna kulitnya yang putih ngasih Edgar hak istimewa yang gak bisa didapat Heathcliff. Jadi bisa kita simpulkan kalau pemilihan aktor sangat memengaruhi makna cerita.

Demikian pula, aktris Hong Chau yang memerankan Nelly Dean dalam film Wuthering Heights, yang digambarkan sebagai antagonis utama. Nah, sebagai salah satu dari sedikit aktor non-kulit putih dalam film tersebut, Wuthering Heights menampilkan Nelly dan Edgar sebagai dua rintangan terbesarnya. Pilihan ini pun dipertanyakan dan dianggap rasis.

3. Karakter-karakter dalam film Wuthering Heights ada yang dihilangkan, digabungkan, atau diubah

cuplikan adegan dalam film Wuthering Heights
cuplikan adegan dalam film Wuthering Heights (dok. LuckyChap Entertainment/Wuthering Heights)

Perubahan utama lainnya dalam cerita novel klasik Wuthering Heights menyangkut para laki-laki dalam keluarga Cathy. Pasalnya, dalam buku, Tuan Earnshaw dikenal baik hati dan saudara laki-laki Cathy yang pendendam, yaitu Hindley, gak suka kalau ayahnya lebih menyayangi anak angkatnya, yakni Heathcliff. Hal ini pun mengubah Tuan Earnshaw dalam film (diperankan oleh Martin Clunes) menjadi seorang penjudi yang mabuk dan kasar. Nah, dirubahnya sifat karakter ini mengurangi ketegangan cerita.

Demikian pula, pelayan bernama Joseph yang sangat religius, tua, dan pemarah pun menjadi seorang laki-laki tampan yang diperankan oleh Ewan Mitchell, pemeran antagonis dalam film anime House of the Dragon, yang sama jahatnya dengan Cathy dan Heathcliff. Sifatnya gak mirip seperti orang tua. Hal inilah yang semakin mengurangi konflik antara Cathy dan Heathcliff dengan karakter-karakter di sekelilingnya.

Perubahan lain yang cukup kontroversial adalah berubahnya kepribadian Isabella, adik perempuan Edgar. Alison Oliver yang memerankan Isabella digambarkan sebagai seorang yang canggung, kekanakan, penurut, dan gak punya power. Meskipun ia tahu kalau Heathcliff gak akan pernah mencintainya dan hanya memanfaatkannya untuk balas dendam pada Cathy, Isabella pun dengan senang hati menerima, bahkan sampai nurut banget.

Bahkan dalam film, Isabella diperlakukan layaknya seekor anjing beneran, seperti di rantai dan semacamnya. Padahal dalam novel klasiknya, Isabella gak menjadi anjing secara fisik, melainkan hanya diperlakukan layaknya binatang oleh Heathcliff. Yap, seperti selalu nurut dan gak punya pendirian.

Adaptasi Wuthering Heights yang dibintangi Margot Robbie dan Jacob Elordi memang menuai banyak kontroversi. Memang dalam film adegan sensualnya sangat kental terasa, berbeda dengan novel klasiknya. Gak hanya itu, ada juga beberapa perubahan lain, seperti yang sudah kita bahas di atas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Hype

See More

Gofar Hilman Tiba-tiba Rilis Lagu Sobat Till Jannah, Berikut Liriknya

17 Feb 2026, 16:38 WIBHype