Review 28 Years Later: The Bone Temple, Sekuel yang Tak Mengecewakan

Film keempat dari waralaba 28 Days Later akhirnya rilis di Indonesia. 28 Years Later: The Bone Temple (2026) melanjutkan semesta pasca-apokaliptik yang sebelumnya dibangun dalam 28 Years Later (2025), kali ini dengan pendekatan yang lebih berani. Film ini disutradarai oleh Nia DaCosta dengan naskah ditulis oleh Alex Garland, sementara Danny Boyle duduk di kursi produser.
Alih-alih sekadar mengulang teror film sebelumnya, The Bone Temple bergerak ke wilayah yang lebih eksperimental. Nia DaCosta dengan cepat menunjukkan bahwa ia tidak sekadar "mengisi kursi" Boyle, tetapi benar-benar mengambil alih tongkat estafet dan menjadikannya miliknya sendiri. Humor gelap, adegan gore, dan renungan spiritual berpadu apik. Berikut ulasan lengkapnya.
Sinopsis 28 Years Later: The Bone Temple (2026)
The Bone Temple berfokus pada Spike (Alfie Williams), seorang penyintas muda yang bertemu dengan sebuah sekte ekstrem yang dipimpin oleh Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connell). Di sisi lain, Dr. Kelson (Ralph Fiennes) menyimpan pengetahuan yang berpotensi mengubah dunia yang tersisa. Seiring cerita berjalan, film ini menegaskan bahwa sisi gelap manusia sering kali jauh lebih mengerikan dibanding para Infected yang terus berevolusi.
Sesuai tagline-nya, "FEAR IS THE NEW FAITH," The Bone Temple mengeksplorasi bagaimana ketakutan bisa berubah menjadi sistem kepercayaan baru. Bertahan hidup bukan lagi soal menghindari kematian semata, melainkan tentang bagaimana manusia mempertahankan sisi kemanusiaannya di tengah dunia yang runtuh.
| Producer | Danny Boyle, Alex Garland |
| Writer | Alex Garland |
| Age Rating | D17 |
| Genre | Psychological horror, zombie, body horror |
| Duration | 109 Minutes |
| Release Date | 14 Januari |
| Theme | Post-apocalyptic Horror |
| Production House | Columbia Pictures, Sony Pictures Releasing |
| Where to Watch | Bioskop |
| Cast | Ralph Fiennes, Jack O'Connell, Alfie Williams, Erin Kellyman, Chi Lewis-Parry, Emma Laird, Cillian Murphy |
Trailer 28 Years Later: The Bone Temple (2026)
Cuplikan film 28 Years Later: The Bone Temple (2026)
1. Duel akting antara Ralph Fiennes dan Jack O'Connell
Salah satu kekuatan terbesar The Bone Temple terletak pada duel akting sang protagonis dan antagonis. Jack O'Connell tampil luar biasa sebagai Sir Jimmy, antagonis yang menjijikan sekaligus nyentrik dengan cara yang sering kali… lucu. Karisma O'Connell membuat Jimmy terasa hidup, bukan sekadar monster karikatural. Ia mampu menampilkan kebrutalan ekstrem sekaligus momen-momen refleksi kecil yang membuat kejahatannya terasa nyata.
Di sisi lain, Ralph Fiennes memberikan penampilan yang emosional dan membumi. Ada ketulusan dan rasa kemanusiaan yang membuat karakternya menjadi jangkar moral. Wajar saja, karena film ini berfokus pada karakter Dr. kelson. Setelah sekian lama sering muncul dalam film-film "prestise" Eropa, menyaksikan Fiennes tampil penuh yodium berwarna kuning di awal 2026 terasa menyegarkan. Aktingnya bukan hanya hebat, tapi menggetarkan jiwa. Langsung saja, berikan Oscar padanya.
Tak kalah mengejutkan, jajaran aktor muda seperti Emma Laird, Erin Kellymann, dan Alfie Williams juga tampil sangat solid. Mereka tidak tenggelam di antara para veteran, justru menyatu dengan intensitas emosional yang sama kuatnya.
2. Tak lagi fokus pada kematian, tapi harapan dan belas kasih
Jika 28 Years Later terasa kasar, penuh energi, dan brutal, The Bone Temple bergerak ke arah yang lebih psikedelik dan metodis. Nia DaCosta tampak sadar betul akan "warisan" waralaba ini, tapi memilih untuk tidak meniru gaya penyutradaraan Danny Boyle. Ia menciptakan sesuatu yang personal, bahkan spiritual, sembari tetap menjaga DNA horor zombie yang melekat kuat dengan waralaba ini.
Boyle dan Garland memberi DaCosta kebebasan penuh dan itu terasa di setiap adegan. Jika Boyle membuat kita merenungkan makna kematian, DaCosta justru mengingatkan kita tentang kehidupan, harapan, dan pentingnya belas kasih bahkan ketika dunia terbakar dan kekerasan mengintai di setiap sudut. Film ini bukan hanya sekuel, tapi juga pergeseran perspektif yang berani.
3. Scoring dan soundtrack yang fenomenal, bikin ikut bergoyang
Difilmkan berurutan dengan 28 Years Later, The Bone Temple mengambil arah visual yang sedikit berbeda, meski di beberapa bagian masih sama. DaCosta bekerja sama dengan sinematografer Sean Bobbitt (film sebelumnya, Anthony Dod Mantle) serta komposer pemenang Oscar Hildur Guðnadóttir untuk menangkap Inggris pasca-apokaliptik yang ditinggalkan, sunyi, dan sarat konflik batin.
Musiknya tak cuma bagus, tapi sering kali tak terduga. Soundtrack yang memadukan lagu-lagu Duran Duran, Radiohead, hingga Iron Maiden terasa gila namun efektif. Jujur, adegan yang diiringi Iron Maiden menjadi salah satu momen paling luar biasa yang pernah penulis saksikan di layar bioskop. The Bone Temple bukan sekadar film zombie, melainkan pengalaman audio-visual yang membuat tubuh ikut bergoyang.
4. Memiliki banyak plot hole seperti film terdahulunya
Seperti film sebelumnya, The Bone Temple tidak lepas dari plot hole. Meski saya sendiri mengapresiasi empatinya terhadap para "monster" yang terkena Rage Virus dan ketertarikannya pada bagaimana mereka terbentuk, film ini pada akhirnya runtuh ke arah ending yang terlalu bisa diprediksi.
Keputusan menghadirkan salah satu karakter OG terasa kurang organik. Alih-alih untuk kebutuhan naratif, kehadirannya lebih mirip isyarat terhadap nilai IP dari waralaba ini. Ada kesan oportunistik yang sedikit merusak ambisi eksperimental DaCosta. Beberapa motivasi karakter, termasuk kekejaman Sir Jimmy, juga tidak sepenuhnya terjelaskan meski latar belakangnya unik.
5. Apakah 28 Years Later: The Bone Temple recommended untuk ditonton?
Sangat direkomendasikan, terutama bagi kamu yang menikmati horor dengan tema eksistensial dan pendekatan berani. Jika kamu cemas karena kurang menyukai akhir 28 Years Later yang dar-der-dor, tenang saja. Nia DaCosta sama sekali tidak mengambil jalur yang sama, kok.
The Bone Temple juga terasa orisinal meski lahir dari naskah Garland. Secara visual, tonal, dan emosional, film ini seolah berdiri sendiri. Mengatakan film ini melampaui ekspektasi adalah pernyataan yang meremehkan. Bahkan di awal tahun, sulit membayangkan film ini tidak masuk "Daftar Film Favorit" hingga akhir tahun nanti. 28 Years Later: The Bone Temple tayang di bioskop Indonesia mulai 14 januari 2026.


















