Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Badut Gendong, Kisah Kelahiran 'Joker' di Qodrat Universe
Badut Gendong (dok. Magma Entertainment/Badut Gendong)

Kehadiran Badut Gendong (2026) membawa napas segar untuk genre horor yang selama ini mendominasi perfilman Indonesia. Film garapan Charles Gozali ini tidak bergantung pada setan bermuka menyeramkan atau jumpscare murahan yang muncul lima menit sekali. Sebaliknya, film ini memilih jalur yang lebih kelam: kisah tragedi tentang manusia yang perlahan berubah menjadi monster.

Berada dalam semesta yang sama dengan Ustad Qodrat, Badut Gendong terasa seperti origin story untuk sosok antagonis besar di masa depan. Jika Qodrat (2022) adalah kisah tentang iman dan cahaya, maka film ini adalah tentang luka, kehilangan, dan manusia yang akhirnya menyerah pada kegelapan. Lalu, apa saja kelebihan dan kekurangan film ini? Mari simak di bawah!

Sinopsis Badut Gendong (2026)

Badut Gendong mengisahkan pasangan suami istri Darso (Marthino Lio) dan Darsi (Dayinta Melira), dua pengamen jalanan yang hidup serba kekurangan. Demi mencari nafkah, Darso mengamen menggunakan boneka badut yang digendong di bagian depan tubuhnya. Meski miskin, mereka hidup bahagia. Terlebih ketika Darsi memberi kabar bahwa dirinya tengah hamil.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Darsi meninggal secara tragis dan meninggalkan Darso dalam duka yang begitu dalam. Hancur secara mental, Darso memutuskan kembali ke kampung halamannya tanpa menyadari bahwa desanya sedang berada di tengah konflik berdarah dengan perusahaan rakus yang ingin menguasai kebun tebu milik warga.

Situasi makin kacau ketika Ki Kamboja (Barry Prima), tetua desa yang murka terhadap ketidakadilan itu, melontarkan kutukan lewat ritual misterius. Dalam momen tersebut, matanya tertuju pada boneka yang selalu digendong Darso. Sejak saat itu, rentetan pembunuhan brutal mulai terjadi. Warga ditemukan tewas tanpa wajah dan Darso mulai mengalami kejadian aneh setiap kali dirinya kehilangan kesadaran. Apa sebenarnya yang merasuki Darso?

Badut Gendong
2026
3.5/5
Directed by Charles Gozali
ProducerLinda Gozali
WriterAsaf Antariksa, Dharma Putra, Charles Gozali
Age RatingD17
GenreHorror, action, drama
Duration101 Minutes
Release Date27 Mei
ThemeSlasher, gore, dark fantasy, martial arts, supernatural horror
Production HouseMagma Entertainment
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
CastMarthino Lio, Clara Bernadeth, Derby Romero, Dayinta Melira, Khiva Rayanka (Iskak Khivano), Vonny Anggraini, Totos Rasiti, Barry Prima, Akbar Kobar, Jose Rizal Manua

Trailer Badut Gendong (2026)

1. Kisah pria yang dikhianati takdirnya sendiri bak Joker (2019)

Salah satu keputusan paling cerdas dari Badut Gendong adalah membuat penonton jatuh simpati pada Darso sejak menit awal. Ia bukan pria jahat. Justru sebaliknya, Darso digambarkan sebagai sosok lugu, baik hati, dan rapuh ketika dunia terus menginjak-injaknya. Film ini memahami bahwa monster terbaik dari kisah horor bukanlah yang lahir jahat, melainkan manusia biasa yang dihancurkan sedikit demi sedikit.

Di titik inilah Badut Gendong terasa mengingatkan penonton pada Joker (2019). Sama seperti Arthur Fleck, Darso adalah pria yang dipermainkan takdir, kehilangan orang yang paling ia cintai, lalu perlahan menjadi wadah bagi sesuatu yang lebih gelap. Bedanya, jika Joker lahir dari chaos sosial di Kota Gotham, maka Darso lahir dari kombinasi trauma personal, ketidakadilan sosial, dan kutukan mistis khas semesta Qodrat.

Film ini juga cukup menarik karena menempatkan Darso sebagai antitesis dari Qodrat. Keduanya sama-sama manusia yang dipengaruhi kekuatan gaib, tetapi memilih jalan berbeda. Satu berdiri di sisi terang, satu lagi tenggelam dalam luka dan kemarahan. Rasanya jelas sekali kalau Badut Gendong seolah dipersiapkan sebagai "Joker"-nya Qodrat Universe di masa depan.

2. Sajikan slasher brutal yang bikin bioskop penuh teriakan

Berharap datang ke bioskop untuk menonton horor yang aman-aman saja? Awas, Badut Gendong bakal jadi pengalaman yang cukup mengejutkan. Sejak awal, Charles Gozali langsung menegaskan bahwa film ini tidak takut bermain di ranah slasher yang sadis.

Dari trailer saja, kita sudah dapat melihat adegan tubuh dijahit, dicabik, hingga wajah korban yang hilang dengan cara yang bikin ngilu. Beberapa momen bahkan terasa sengaja dibuat panjang supaya penonton gak bisa kabur dari rasa tidak nyaman itu. Selama pemutaran, bukan cuma suara teriakan yang terdengar di studio, tapi juga banyak penonton yang refleks menutup wajah karena gak tahan melihat detail gore-nya.

Namun yang membuat horornya efektif bukan sekadar darah berceceran. Charles Gozali berhasil membangun mood yang kelam sepanjang film. Atmosfer desa terpencil dengan nuansa tahun 80-an terasa suram dan seperti terisolasi dari dunia luar. Ketika Darso mulai dirasuki dan bergerak di luar kendali, film ini berubah jadi perpaduan antara horor supranatural dan aksi slasher brutal yang terus bikin tegang.

Koreografi aksinya juga layak dipuji. Gerakan Darso saat berada di bawah pengaruh kekuatan gaib terasa liar tapi tetap presisi. Ada adegan kejar-kejaran dengan mobil dan pertarungan yang dieksekusi dengan kamera lincah, membuat Badut Gendong terasa seperti film monster slasher yang dikawinkan dengan genre pendekar maut.

3. Naskahnya kurang kuat, beberapa bagian terasa pincang

Sayangnya, di balik semua kekuatan teknisnya, Badut Gendong punya masalah besar di naskah. Film ini seperti rumah megah dengan desain keren, efek praktikal apik, dan aktor hebat, tetapi pondasinya terasa kurang kokoh.

Masalah paling terasa ada pada pembangunan konflik dan urgensi cerita. Film berkali-kali menekankan bahwa desa sedang terisolasi dan warga terjebak bersama entitas mengerikan. Namun sebagai penonton, kita gagal dibuat benar-benar merasa terperangkap bersama mereka. Ketegangan atmosferiknya kuat, tapi dramanya sendiri kadang terasa kosong.

Penokohan Darso sebenarnya menarik, apalagi berkat performa luar biasa Marthino Lio. Namun, eksplorasi psikologisnya terasa kurang dalam. Setelah setup emosional yang menjanjikan di awal, film malah sering membagi fokus ke subplot investigasi Babinsa yang kurang menarik. Ada banyak adegan motoran dan investigasi yang terasa seperti filler dibanding benar-benar memperkaya elemen misterinya.

Padahal, kalau film ini lebih fokus menggali kehancuran mental Darso dan relasinya dengan kutukan tersebut, seperti Joker, hasil akhirnya mungkin bisa jauh lebih menghantui secara emosional.

4. Apakah Badut Gendong recommended untuk ditonton?

Meski punya kelemahan, Badut Gendong tetap jadi salah satu film horor Indonesia paling menarik tahun ini. Film ini berani tampil beda dibanding horor lokal kebanyakan yang terlalu sibuk mengandalkan jumpscare receh atau setan CGI.

Charles Gozali sukses menghadirkan origin story villain yang tragis, brutal, dan penuh potensi untuk masa depan Qodrat Universe. Akting Marthino Lio benar-benar jadi tulang punggung utama film ini. Ia berhasil membuat Darso terasa menyedihkan sekaligus menakutkan dalam waktu bersamaan.

Film ini juga kemungkinan besar bakal memicu banyak diskusi netizen. Ada yang mungkin bakal menganggapnya masterpiece horor aksi lokal, atau frustrasi dengan ceritanya yang terasa berantakan. Namun satu hal yang pasti, Badut Gendong bukan film horor yang mudah dilupakan.

Dan ya, kalau kamu mencari tontonan penuh adegan "potong-memotong" yang cocok menemani libur Idul Adha, Badut Gendong jelas sangat direkomendasikan untuk ditonton di bioskop. Jangan kaget kalau habis nonton, kamu malah jadi takut lihat boneka badut yang digendong orang. Badut Gendong tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai Rabu, 27 Mei 2026.

Editorial Team

Related Article