Soal Inspirasi Badut Gendong, Filmmaker: Bukan Chucky atau Annabelle

- Film horor Badut Gendong karya Charles Gozali terinspirasi dari tradisi ledek gogek Jawa Tengah dan Yogyakarta, bukan dari karakter boneka horor seperti Chucky atau Annabelle.
- Kisahnya menyoroti hubungan kompleks antara Darso dan boneka Badut Gendong yang berisi dua entitas: manusia dan kuasa gelap, menciptakan pertarungan batin dalam satu tubuh.
- Karakter Badut Gendong digambarkan sebagai sosok abu-abu dengan konflik emosional mendalam, menggambarkan tarik-menarik antara hati nurani dan nafsu manusia yang ekstrem.
Jakarta, IDN Times - Badut Gendong (2026) menjadi salah satu proyek horor Indonesia yang paling diantisipasi berkat konsepnya yang berbeda. Film garapan Charles Gozali ini mengambil inspirasi dari budaya tradisional Jawa Tengah dan Yogyakarta bernama ledek gogek, kesenian yang menampilkan penari dengan boneka terikat di bagian depan tubuh hingga tampak seperti sedang menggendong seseorang.
Dalam versi filmnya, penonton akan mengikuti kisah Darso yang diperankan Marthino Lio. Dari seorang pengamen jalanan biasa, hidup Darso berubah total setelah dihantam kehilangan dan tragedi yang perlahan menyeretnya ke dalam kegelapan emosional. Namun, menurut para filmmaker, sosok Badut Gendong sama sekali tidak bisa disamakan dengan karakter boneka horor populer seperti Child's Play (Chucky) atau Annabelle.
1. Badut Gendong tidak sama dengan Chucky atau Annabelle

Penulis naskah Asaf Antariksa menjelaskan bahwa ide awal Badut Gendong muncul setelah tim kreatif berdiskusi usai membuat film tentang Didi Kempot beberapa tahun lalu.
"Ya memang ini salah satu skenario yang menantang karena waktu itu gagasannya memang dari Charles, dari tim. Waktu itu habis syuting Sobat Ambyar (2021) ya?" ucapnya sembari menengok ke arah Charles.
Asaf kemudian menjelaskan bagaimana Charles tertarik dengan visual dan makna dari tradisi ledek gogek yang akhirnya berkembang menjadi konsep film Badut Gendong.
"Charles menemukan bahwa, 'Saya tertarik dengan sebuah boneka yang namanya, kalau di Sleman itu ledek gogek' gitu. Itu sebenarnya badut gendong, atau secara umum disebut badut gendong," jelasnya.
Menurut Asaf, perbedaan utama Badut Gendong dengan Chucky maupun Annabelle terletak pada kompleksitas relasi antara manusia dan boneka yang ada di dalam cerita.
"Lalu saya melihat, 'Oh Badut Gendong itu beda ya dengan Chucky dan beda dengan Annabelle'," imbuhnya.
2. Badut Gendong berisi dua entitas, alih-alih satu seperti Chucky atau Annabelle

Lebih dalam, Asaf menjelaskan kalau film ini tidak hanya berbicara tentang boneka berhantu semata. Ada hubungan psikologis dan spiritual yang jauh lebih rumit antara Darso dan sosok Badut Gendong.
"Kalau Chucky dan Annabelle itu benar-benar mati dan hanya satu entitas. Ketika kuasa gelap atau iblis menguasai boneka Chucky atau Annabelle, ya sudah. Kita ngomong satu entitas," jelasnya.
Berbeda dengan dua franchise horor populer tersebut, Badut Gendong justru memperlihatkan pertarungan dua kesadaran yang saling tarik-menarik di dalam satu tubuh.
"Tapi kita ngomong Badut Gendong, kita ngomongin dua entitas. Kuasa gelap yang masuk ke dalam boneka dan Darso sebagai manusia. Maka ini lebih kompleks dari Chucky, ini lebih kompleks dari Annabelle," tutur Asaf.
Ia pun memberi analogi menarik soal hubungan Darso dan boneka tersebut. Awalnya seperti dalang dan wayang, tapi kemudian berubah 180 derajat ketika kuasa gelap mengambil alih.
"Dalam situasi normal, Darso adalah dalangnya dan Badut Gendong adalah wayangnya. Tapi ketika kuasa gelap menguasai boneka itu, maka wayangnya menjadi dalang. Darso menjadi wayangnya. Darso dikendalikan oleh kuasa gelap yang menyaru (meniru) menjadi Darsi. Darso menganggap itu Darsi, padahal bukan. Itu kuasa gelap. Di situ kompleksitasnya," kata Asaf.
3. Kompleksitas Badut Gendong membuatnya jadi karakter abu-abu

Asaf juga menilai kekuatan utama Badut Gendong terletak pada emosinya yang terus mengoyak hati penonton. Penonton dibuat simpati pada Darso, tapi di saat bersamaan juga takut dan marah terhadap tindakan-tindakannya.
"Emosi kita pun kayak dikoyak-koyak. Karena tadinya kita simpati, kita sedih. Kemudian kita ikut marah. Kemudian kita simpati, tapi sekaligus kita juga menyalahkan. Nah, tarik menarik antara hati, Darso sebagai manusia, dan nafsu yang ada di dalam boneka Badut Gendong yang mewakili kuasa gelap itu selalu tarik menarik," lanjutnya.
Menurutnya, konflik itu sebenarnya menjadi representasi sisi manusia yang selalu bergulat antara hati nurani dan hawa nafsu.
"Itu yang membuat ketika kita nonton ya emosi kita kayak ditarik, tarik menarik gitu ya. Sebenarnya itu juga mewakili diri manusia yang terdiri dari hati nurani dan nafsu. Hanya karena di sini diwakili oleh kuasa gelap, maka nafsunya menjadi ekstrem. Mewakili nafsu primitif dari diri manusia. Ingin membunuh ketika ditindas, ingin merampas dan menguasai ketika ingin menebus rasa kehilangan," ungkap Asaf.
Asaf pun memuji keberhasilan Charles Gozali dan seluruh tim produksi. Baginya, mereka sukses dalam menerjemahkan karakter abu-abu yang jauh lebih sulit ketimbang villain hitam-putih yang sering ditemui.
"Saya rasa tim ya, kru produksi Charles dan tim dia, dan juga para bintang di sini, setelah saya menyaksikan hasilnya, harus diacungi jempol, karena mampu menghadirkan kompleksitas film itu dibandingkan kalau kita misalnya menonton (film-film) Chucky atau Annabelle. Karena sosok Badut Gendong itu abu-abu," jelasnya.
Ia bahkan membandingkan karakter Badut Gendong dengan monster ikonik dari kisah Frankenstein yang sama-sama berada di wilayah moral abu-abu.
"Jika kita nonton Frankenstein, itu kan juga karakternya abu-abu ya. Dan karakter abu-abu ini sebetulnya susah sekali untuk diproyeksikan dibandingkan kalau kita bicara mengenai karakter hitam-putih. Tapi ternyata Charles mampu menghadirkan itu," pungkasnya.



















