Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Film Pelangi di Mars, Hidupkan Nostalgia Sci-Fi Milenial
cuplikan film Pelangi di Mars (youtube.com/MAHAKARYACHANNEL)
  • Film Pelangi di Mars menghadirkan kisah petualangan anak bernama Pelangi dan robot-robotnya di Mars, mencari mineral langka Zeolit Omega sambil melawan korporasi Nerotek yang serakah.
  • Meski alur awal terasa lambat, babak ketiga film ini memunculkan emosi hangat, aksi menegangkan, serta persahabatan tulus yang membuat penonton, terutama anak-anak, semakin terlibat dalam cerita.
  • Perpaduan budaya lokal seperti lagu tradisional dengan elemen global seperti nuansa KPop menjadikan film ini segar, relevan lintas generasi, dan menyampaikan pesan penting tentang menjaga bumi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Siapa sangka petualangan Pelangi di Planet Mars bersama teman-teman robotnya bisa seseru itu. Awalnya, saya sempat kesulitan terbawa ke dalam petualangan film ini, terutama karena alur pada babak pertama dan keduanya berjalan cukup lambat.

Namun, semuanya berubah di babak ketiga. Saat konflik memuncak, saya mulai menikmati ceritanya. Tidak hanya ketegangan yang terasa, film ini juga menghadirkan nuansa emosional yang hangat, terutama dalam adegan pertemuan dan persahabatan Pelangi dengan para robot yang terancam dimusnahkan karena dianggap tak berguna.

Saat menonton film Pelangi di Mars lebih dulu di acara press screening pada Sabtu (14/3/2026), saya menyaksikan anak-anak yang memenuhi studio bioskop tampak takjub hingga berteriak heboh melihat karakter-karakter robot yang muncul. Lantas, apakah film Pelangi di Mars memang sebagus itu? Yuk, simak review-nya di bawah ini.

Sinopsis Film Pelangi di Mars (2026)

Berlatar tahun 2100-an, ketika krisis air mengancam kehidupan, film Pelangi di Mars mengikuti kisah Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars. Ia memulai petualangan menegangkan bersama robot-robot sahabatnya untuk menemukan Zeolit Omega, sebuah mineral langka yang diyakini dapat membawanya pulang ke Bumi.

Perjalanan tersebut pun tidak mudah. Selain harus menghadapi medan Mars yang ekstrem, mereka juga harus melawan Nerotek, korporasi raksasa yang berambisi menguasai Zeolit Omega demi kepentingan sendiri.

Pelangi di Mars
2026
4.7/5
Directed by Upie Guava
ProducerDendi Reynando
WriterAlim Sudio, Upie Guava
Age RatingSU (All Ages)
GenreAnimasi, sci-fi
Duration112 Minutes
Release Date18-03-2026
ThemePetualangan luar angkasa, drama keluarga
Production HouseMahakarya Pictures
Where to WatchXXI, CGV, Cinepolis, Flix Cinema
CastMessi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Livy Renata

Trailer Film Pelangi di Mars (2026)

1. Alurnya terasa lambat di awal, tapi nendang kemudian!

Sejujurnya, saya sempat merasa bosan saat menonton babak pertama dan kedua film Pelangi di Mars ini karena alurnya terasa lambat. Namun, semuanya berubah ketika babak ketiga dimulai. Dengan konflik yang mulai memuncak, pertemuan serta persahabatan Pelangi dan robot-robot yang membangun suasana emosional, hingga petualangan mereka yang penuh aksi, film ini pun berhasil menarik perhatian saya sepenuhnya.

Seiring berjalannya babak ini, saya pun mulai menyadari bahwa lambatnya dua babak awal ternyata bukan kebetulan. Film ini dengan sengaja membangun dunia Mars dan memperkenalkan karakter-karakternya dengan detail, sehingga saat cerita mulai bergerak, semuanya terasa lebih kuat dan hidup. Alhasil, babak berikutnya pun menjadi jauh lebih seru dan memuaskan, terutama bagi anak-anak agar mereka bisa menikmati petualangan ini dengan santai, tanpa harus memikirkan jalan ceritanya dengan keras.

2. Hidupkan nostalgia sci-fi Milenial

Saat film ini mulai memperkenalkan satu per satu robot ikoniknya, entah kenapa saya merasakan suasana yang berbeda. Lebih dari sekadar tontonan, Pelangi di Mars seakan membangkitkan nostalgia sci‑fi bagi generasi milenial. Sebagai penonton yang tumbuh di era 90-an, saat itu saya langsung teringat pada berbagai tontonan masa kecil yang penuh imajinasi dan petualangan.

Selain menghadirkan keajaiban dunia fiksi ilmiah, film Pelangi di Mars juga memiliki daya tarik tersendiri dari sisi komedinya. Meski beberapa adegan terkesan cringe, banyak juga adegan lucu yang sukses membuat anak-anak di studio tertawa lepas. Bagi saya, salah satu yang paling berkesan adalah celetukan-celetukan para robot, kadang terdengar berisik dan konyol, tapi tak jarang juga bikin ngakak berjemaah.

Film ini juga membuat hati saya terasa penuh karena dibungkus dengan drama keluarga dan persahabatan yang menyentuh. Hubungan Pelangi dengan robot-robotnya bukan sekadar soal petualangan atau misi mencari Zeolit Omega, tetapi juga tentang kebersamaan dan pengorbanan yang tulus.

Di sisi lain, film ini juga menyuguhkan aksi yang tegang dan mendebarkan. Petualangan mereka di Mars yang harus menghadapi rintangan ekstrem, mulai dari medan planet yang berbahaya hingga konflik dengan korporasi Nerotek yang mengincar Zeolit Omega tak jarang membuat saya dan penonton yang lain sampai menahan napas, terbawa suasana.

3. Padukan budaya lokal dan global dengan cara yang apik!

Satu hal yang mencuri perhatian saya adalah film ini diam-diam memasukkan banyak unsur lokal yang terasa Indonesia banget, namun dikemas dengan cara yang out of the box. Pasalnya, robot-robot di film ini tiba-tiba bisa kesurupan aing maung, membaca puisi, hingga menyanyikan “Cublak-Cublak Suweng”.

Menurut saya, pendekatan ini terasa kreatif dan menyegarkan. Tidak hanya menghibur, tetapi juga sekaligus menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada anak-anak.

Di sisi lain, film ini juga terasa relevan dengan tren budaya masa kini karena menghadirkan unsur-unsur internasional lainnya. Misalnya, karakter robot Kimchi yang membawa nuansa KPop. Saat acara screening, beberapa anak-anak bahkan menjadikan robot ekspresif berwarna merah muda dan suka mukbang tersebut sebagai favorit mereka.

Tentu saja, kombinasi budaya lokal dan global ini membuat cerita Pelangi di Mars tidak hanya terasa seru, tetapi juga relevan dan menyenangkan bagi penonton lintas generasi. Tak ketinggalan, film ini juga diperkaya dengan sentuhan musikal yang menyenangkan, lho. Beberapa adegan bahkan secara spontan sukses membuat anak-anak di studio saat itu ikut menggerakkan tubuh mereka dan menari bersama.

Setelah petualangan panjangnya, film ini juga menarik perhatian karena menutup ceritanya dengan menyelipkan pesan menyentuh tentang pentingnya menjaga bumi serta merawat hutan dan air sebagai sumber kehidupan.

Secara keseluruhan, Pelangi di Mars memang seseru itu untuk disaksikan. Mungkin akan terasa membosankan di awal, namun pada babak ketiga, ceritanya justru terasa lebih gacor. Dengan porsi drama, aksi, humor, dan emosi yang pas, film ini pun cocok banget jadi tontonan keluarga yang di momen Lebaran 2026.

Editorial Team