Review Film Street Fighter (2026): Seberapa Mirip dengan Game-nya?

Street Fighter (2026) mengikuti Ryu dan Ken yang kembali dipertemukan dalam turnamen M. Bison, sambil menghadapi konflik masa lalu serta kekuatan gelap Satsui no Hado.
Film ini dinilai lebih dekat dengan game melalui desain karakter, jurus ikonik, dan adegan laga Ryu-Ken yang menonjol, termasuk aksi Chun-Li menghadapi para lawannya.
Visual live action dipadukan dengan animasi 2D bergaya anime untuk pertarungan dan kilas balik; banyaknya karakter menjadi fan service, tetapi tak selalu beri dampak yang sama untuk cerita.
Jakarta, IDN Times – Menghadirkan pertarungan dari sebuah game ke dalam film live action jelas punya tantangan tersendiri. Gerakan yang terlihat seru saat dimainkan menggunakan controller belum tentu terasa sama ketika diperagakan oleh aktor di layar lebar. Namun, Street Fighter (2026) berhasil menghadirkan pertarungan yang membuat saya menikmati setiap aksinya. Pertemuan Ryu dan Ken yang diwarnai adu serangan sampai kelincahan Chun-Li saat mengeluarkan jurus di hadapan lawannya menjadi momen yang paling membekas.
Sebelum menghadiri premiere pada Senin (12/10/2026), saya sengaja menyempatkan diri menyaksikan Street Fighter (1994) untuk mengetahui seperti apa cerita film sebelumnya. Setelah menyaksikan keduanya, saya merasa kalau film terbaru ini memberikan pengalaman yang berbeda, terutama dalam menyajikan karakter dan pertarungan yang lebih terasa dekat dengan game-nya. Walau begitu, film ini tetap tidak lepas dari kekurangannya tersendiri.
Lalu, seperti apa film Street Fighter menghidupkan cerita dan memperlihatkan hubungan Ryu dan Ken? Selengkapnya, berikut review film Street Fighter dari IDN Times.
Hati-hati, artikel ini mengandung spoiler.
Sinopsis Street Fighter (2026)
Kisah Street Fighter (2026) dimulai dari pertandingan Ryu melawan Sagat dalam ajang World Warrior Tournament pertama. Kala itu, Ryu tak datang seorang diri karena ditemani Ken Masters dan sang guru, Gouken. Namun, bayang-bayang kekuatan Satsui no Hado ternyata ada di dalam diri Ryu hingga membuatnya berhasil mengalahkan Sagat. Kekuatan tersebut rupanya berkaitan dengan Akuma, sosok bengis yang membuat Gouken khawatir Ryu akan semakin terjerumus ke dalam kegelapan. Sayangnya, Gouken terbunuh di tangan Akuma. Sebelum meninggal, Gouken sempat berpesan kepada Ken untuk menjaga Ryu.
Cerita kemudian berlanjut ke tahun 1993, ketika Ken sudah memiliki ketenaran. Di sisi lain, M. Bison memilih mengadakan World Warrior Tournament kedua untuk memancing Ryu keluar dari persembunyian agar bisa menyerap Hado dalam diri Ryu demi memperkuat Psycho Power miliknya. Chun-Li pun muncul berpura-pura membantu Bison merekrut para petarung terhebat, termasuk Ryu dan Ken yang sudah lama berpisah. Turnamen kali ini tidak sekadar mempertemukan dua saudara seperguruan, Ryu dan Ken. Pasalnya, mereka juga harus berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Di sisi lain, Chun-Li juga punya misi tersendiri di balik keterlibatannya membantu Bison.
Street Fighter20263.7/5Directed by Kitao SakuraiProducer Mary Parent, Cale Boyter, Jason Momoa, Takayuki Nakayama, Stefan Makhoul
Writer T.J. Fixman, Kitao Sakurai
Age Rating 13+
Genre Aksi, Fantasi
Duration 119 Minutes
Release Date 14-10-2026
Theme martial arts, based on video game, martial arts tournament, wuxia, hand to hand combat, 1990s, battle royale, power, powers
Production House Capcom, Legendary Pictures
Where to Watch CGV, Cinepolis, Cinema XXI
Cast Andrew Koji, Noah Centineo, Callina Liang, Joe Anoa'i, David Dastmalchian
Trailer Street Fighter (2026)
Cuplikan Street Fighter (2026)
1. Film live action yang lebih dekat dengan game-nya
Bagi mereka yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, nama Street Fighter mungkin sudah tidak asing. Jauh sebelum diadaptasi menjadi film, Street Fighter lebih dikenal sebagai game pertarungan besutan Capcom yang populer di mesin arkade atau dingdong. Popularitas gim tersebut mendorong terciptanya film live action pertama pada 1994 yang dibintangi Jean-Claude Van Damme sebagai Guile dan Raul Julia sebagai Bison. Setelah itu, Hollywood kembali mengadaptasi waralaba ini lewat Street Fighter: The Legend of Chun-Li (2009), yang berfokus pada kisah Chun-Li.
Dari berbagai adaptasi tersebut, Street Fighter (2026) terasa lebih dekat dengan akar gimnya. Secara visual, penampilan para karakternya dibuat menyerupai versi yang dikenal penggemar. Ryu, misalnya, tampil dengan headband merah dan pakaian putih, sedangkan Ken mengenakan baju merahnya dengan rambut panjang. Guile juga hadir dengan rambut flattop khasnya dan pakaian bergaya militer. Bukan hanya penampilan, penggambaran Ryu dan Ken juga terasa lebih sesuai dengan identitas mereka sebagai petarung. Hal ini berbeda dari rilisan 1994 yang menggambarkan keduanya sebagai penipu yang mencoba mengelabui Sagat dengan menjual senjata palsu.
Kedekatan dengan gim juga terlihat dari jurus-jurus yang diperlihatkan tiap karakter. Chun-Li yang diperankan Callina Liang menjadi salah satu karakter yang menarik perhatian saya. Awalnya, saya mengira kehadirannya hanya menjadi pelengkap dan tidak akan banyak memperlihatkan kemampuan bertarungnya. Namun, perkiraan itu meleset setelah melihat kelincahannya saat melawan Vega dan anak buah M. Bison. Ketika menghadapi lawannya, Chun-Li begitu lihai memperlihatkan sejumlah jurus khasnya, seperti Spinning Bird Kick, Hundred Lightning Kicks, Falling Crane, hingga Hazanshu ditambah gerakan yang berakhir dengan posisi split.
Gak ketinggalan ada Ken yang menampilkan sejumlah jurus menarik, mulai dari Hell Wheel, Chin Buster, serta Shoryuken sembari melompat ke udara. Bahkan, salah satu bonus stage menghancurkan mobil yang ikonik di gim Street Fighter II juga diperagakan Ken. Sementara itu, Ryu memperlihatkan jurus Hadoken hingga Tatsumaki Senpu-Kyaku, yaitu tendangan berputar yang menjadi salah satu ciri khasnya. Kehadiran jurus-jurus tersebut tidak hanya melengkapi kemampuan para karakter, tetapi juga menjadi salah satu bentuk fan service untuk penggemar setianya.
2. Fighting scene Ryu dan Ken sukses bikin mata gak bisa berpaling
Pemilihan Noah Centineo dan Andrew Koji untuk memerankan Ken dan Ryu bisa dibilang cukup tepat karena mereka punya cara masing-masing dalam membawakan karakter. Misalnya saja, Noah menggambarkan Ken sebagai petarung tengil, narsis, dan ceroboh. Namun, di balik sikapnya tersebut, Ken juga tampak kehilangan arah setelah kematian Gouken dan hubungannya dengan Ryu merenggang.
Sementara itu, Andrew Koji membawakan Ryu sebagai sosok yang lebih serius dan tertutup dibandingkan Ken. Walau begitu, Ryu juga bergulat dengan konflik dalam dirinya, terutama Satsui no Hado, kekuatan gelap yang membuatnya dapat dipenuhi dengan amarah. Kontras ini pun membuat karakter Ken maupun Ryu terasa lebih kompleks di mata penonton.
Pertemuan Ryu dan Ken setelah berpisah sekian lamanya menghadirkan suasana berbeda. Tensi di antara keduanya pun meningkat setelah Ryu mengungkapkan sesuatu yang selama ini terpendam. Situasi tersebut kemudian memuncak dalam fighting scene yang sukses bikin mata gak bisa berpaling. Di tengah rintik hujan, keduanya saling melancarkan serangan dengan jurus masing-masing, termasuk Hadoken yang dilepaskan Ryu ke arah Ken, seperti yang terlihat dalam trailer.
3. Sajian anime yang diselipkan dalam cerita bikin visual jadi terlihat menarik
Salah satu bagian menarik dari Street Fighter adalah visualnya. Film ini tidak hanya mengandalkan format live action karena turut membawa sentuhan visual animasi 2D bergaya anime yang memiliki bagian gak kalah penting dalam cerita. Bagi saya yang menyaksikannya dari layar IMAX, sajian anime yang dihadirkan sudah terasa pas dengan adegan pertarungan hingga emosi karakternya begitu hidup. Bahkan, pendekatan secara visual tersebut sudah terlihat sejak awal film.
Salah satunya fighting scene seru nan mendebarkan antara Ryu dan Sagat di World Warrior Tournament edisi perdana. Pertarungan sengit itu berada pada puncaknya saat Ryu, dengan kekuatan Hado, melancarkan serangan terhadap Sagat sekaligus membuatnya keluar sebagai juara. Walau kesannya lebih terasa modern, kehadiran adegan ini tampak menjadi bentuk penghormatan terhadap Street Fighter II: The Animated Movie (1994) yang juga menampilkan adegan serupa.
Penyajian anime dalam film ini gak berhenti di situ saja. Sejumlah adegan flashback yang berkaitan dengan masa lalu Ryu, Ken, dan Gouken dihadirkan pula lewat visualisasi anime. Pengemasannya pun tampak memakai pendekatan yang serius, sehingga adegan seperti saat Gouken terbunuh di tangan Akuma tepat di hadapan Ryu dan Ken terasa lebih ngena di penonton. Transisi dari anime ke live action pun tidak terasa tumpang tindih dan masih bisa diterima dengan baik.
4. Street Fighter (2026) menjadi film untuk para penggemarnya
Meski menawarkan sejumlah hal menarik, film berdurasi 119 menit ini tetap gak luput dari kekurangan. Saya harus akui, hadirnya banyak karakter menjadi salah satu upaya pihak produksi demi menghadirkan fan service untuk fans setia. Akan tetapi, terlalu banyak karakter yang muncul tidak selalu membawa dampak yang signifikan bagi ceritanya.
Zangief, misalnya, salah satu petarung yang diundang Chun-Li ke turnamen. Ia tampak tidak mendapatkan banyak porsi untuk tampil, sehingga menurut saya tanpanya cerita mungkin bisa berjalan baik-baik saja. Hal tersebut berbeda dengan E. Honda yang perannya memiliki dampak pada alur cerita, meski hanya muncul sebentar. Adegan adu jotosnya dengan Ryu pun terbilang sukses mengubah suasana sauna yang awalnya hening menjadi seru dan menegangkan lewat serangan yang ia gencarkan. Terlebih lagi, Honda juga menghadirkan jurus andalannya, seperti Hundred Hand Slap serta Sumo Headbutt.
Dengan penggambaran karakter yang dekat dengan game beserta beberapa jurus ikonik, jelas film ini ditujukan kepada penggemar yang sudah lama mengikuti Street Fighter. Meski begitu, bukan berarti film ini tidak bisa disaksikan penonton awam. Hanya saja, mereka yang belum familier dengan Street Fighter mungkin akan merasa bingung saat menyaksikan jalan ceritanya.
Satu hal yang perlu diingat, kamu juga gak perlu menonton film animasi atau rilisan live action sebelumnya untuk memahami cerita karena film terbaru ini memiliki alur tersendiri. Film Street Fighter kini sudah tayang di bioskop Indonesia.






















![[QUIZ] Yuk Cari Tahu Karakter Kartun 90-an yang Manakah Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20260415/upload_a86a28cb1bec31a7aa894e868ce8397c_bbb26bdf-2a75-4d3b-9cbd-a8f2a072a6c7.jpg)
