Review Film Thailand My Dearest Assassin, Romansanya Manis Getir!

Apa mood tontonanmu di akhir pekan ini? Kalau kamu lagi mencari film bergenre laga yang dibalut adegan memacu adrenalin, brutal, dan menegangkan, My Dearest Assassin (2026) bisa masuk daftar tontonan.
Film asal Thailand ini menampilkan aksi Baifern, Tor, dan Porsche menantang maut demi menyelamatkan diri mereka. Buat kamu yang masih maju mundur buat nonton, simak ulasan film My Dearest Assassin (2026) di bawah ini, ya!
Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler, ya!
Sinopsis film Thailand My Dearest Assassin
Setiap anggota keluarga Rumah 89 pasti memiliki tugas, kecuali Lhan. Sejak ia diselamatkan oleh Po, kepala keluarga Rumah 89, Lhan tidak diperbolehkan keluar dari kediaman mereka. Alasannya karena Lhan memiliki Darah Aurum, golongan darah paling langka.
Suatu hari, para pemburu dan pembunuh bayaran menyerbu Rumah 89 untuk menangkap Lhan. Apakah Lhan dan Pran mampu menyelamatkan diri dari kejaran para pemburu?
| Producer | Bew Oraphan, Jeab Wattana |
| Writer | Jeab Wattana |
| Age Rating | 18+ |
| Genre | Action, Romance |
| Duration | 128 Minutes |
| Release Date | 7 Mei 2026 |
| Theme | Assassin, Bitter Sweet, Brutal |
| Production House | Sunwrite Moonact |
| Where to Watch | Netflix |
| Cast | Baifern Pimchanok, Tor Thanapob, Porsche Sivakorn, Toni Rakkaen, Chai Chartayodom |
Trailer film Thailand My Dearest Assassin
Cuplikan film Thailand My Dearest Assassin
Review film Thailand My Dearest Assassin
1. Lhan tipe karakter femme fatale modern yang harus kehilangan untuk menang
Lhan (Baifern Pimchanok) sebagai karakter utama memang memiliki porsi yang sangat besar di film ini. Dia harus berkutat dengan kisah cinta manis getir bersama Pran (Tor Thanapob), melindungi diri dari para pemburu karena darah langkanya, hingga termotivasi untuk membalas dendam kepada Phruek (Toni Rakkaen).
Sebagaimana karakter femme fatale, Lhan harus mengalami segala macam kemalangan dan kehilangan sebelum meraih kemenangan. Meski diawal Lhan digambarkan bak "putri" yang harus diselamatkan, tapi lambat laun dia mampu membela dan melindungi diri sendiri. Penggambaran perempuan yang selalu beririsan dengan kemalangan umumnya memiliki daya tarik tersendiri di mata penonton.
2. Adegan laga menjadi bintang di film My Dearest Assassin
Salah satu bintang utama film ini adalah adegan laga memacu adrenalin, menegangkan, dan brutal. Adegan tersebut divisualisasikan secara eksplisit dan berpotensi bikin penonton mengernyit, ngilu, hingga mual.
Pujian bisa diberikan kepada Baifern, Tor, hingga M yang sepertinya melakukan beberapa adegan laga sendiri. Maka dari itu, gerakan menangkap pisau hingga me-nyelengkat pergelangan kaki yang dilakukan Lhan tidak gesit. Namun, detail tersebut mungkin tidak akan penonton sadari, kalau mereka hanyut ke dalam adegan-adegan menegangkan yang disajikan.
3. Kisah romansanya gak berlebihan, tapi berhasil bikin getir
My Dearest Assassin (2026) tidak terasa monoton, karena juga menyisipkan kisah romansa hingga kekeluargaan. Namun, kisah-kisah tersebut disajikan tidak berlebihan dan terasa pas bagi penonton. Setelah adegan menegangkan dan memacu adrenalin, penonton pasti diajak merasakan kegetiran, karena kepergiaan para karakter protagonis.
Sejujurnya, saya cukup menyukai adegan saat anggota Rumah 89 melakukan aksi secara tim untuk membunuh salah satu klien mereka di sebuah acara mewah. Sayangnya, adegan seperti itu hanya dimunculkan sekali. Seandainya film ini memiliki prekuel, pasti menyenangkan bisa melihat Rumah 89 beraksi sebagai pembunuh bayaran, bukan orang-orang yang diburu.
Selama dua jam menonton My Dearest Assassin (2026), saya dimanjakan dengan adegan laga yang menegangkan dan brutal. Alur cerita yang disajikan pun ringan dan cukup mudah untuk dipahami. Apakah kamu berniat untuk nonton?



















