Dari sisi atmosfer, Lastri: Arwah Kembang Desa cukup berhasil membangkitkan nuansa horor klasik Indonesia. Tata artistik, kostum, hingga desain lokasi membawa nostalgia pada film-film horor maupun FTV era 1990-an dan awal 2000-an. Hendry Tivo juga cukup piawai membangun ambience melalui pencahayaan redup, rumah-rumah desa, hingga kemunculan sosok Lastri yang lebih mengandalkan suasana dibanding jumpscare murahan.
Namun, kekuatan visual tersebut justru berbanding terbalik dengan kualitas naskahnya. Film ini tampak terlalu ambisius memasukkan banyak persoalan sekaligus, mulai dari perselingkuhan, stigma terhadap perempuan, kekerasan seksual, hubungan ayah-anak, hingga berbagai plot twist yang terus bermunculan. Di atas kertas, semua isu tersebut memang menarik. Sayangnya, alih-alih memperdalam salah satunya, film justru menumpuk konflik demi konflik hingga kehilangan fokus.
Struktur penceritaannya yang maju-mundur juga tidak selalu berjalan mulus. Bukannya membuat misteri semakin menarik, perpindahan waktu ala film Christopher Nolan terkadang justru membingungkan ritme cerita. Beberapa twist memang berhasil mengejutkan penonton, tetapi sebagian lainnya terasa hanya hadir untuk menambah kerumitan tanpa memberikan dampak emosional yang berarti.
Ironisnya, drama kehidupan Lastri sebenarnya jauh lebih menarik dibanding elemen horornya. Sayang, aspek horor yang lebih banyak dijadikan daya tarik film justru membuat drama tersebut tidak berkembang maksimal. Padahal, jika film lebih percaya diri mengeksplorasi tragedi hidup Lastri dan ketidakadilan yang ia alami, hasil akhirnya mungkin akan jauh lebih menyentuh.