Review Lastri Arwah Kembang Desa, Film Horor Terakhir Gary Iskak

- Film Lastri: Arwah Kembang Desa (2026) menggabungkan horor supranatural dan drama desa era 1990-an, menjadi penampilan layar lebar terakhir mendiang Gary Iskak bersama Hana Saraswati dan Yama Carlos.
- Visual dan atmosfer film berhasil membangkitkan nuansa horor klasik Indonesia, namun naskahnya dinilai terlalu padat konflik serta kehilangan fokus akibat alur maju-mundur yang kurang mulus.
- Meskipun memiliki kelemahan cerita, film ini tetap menarik berkat kritik sosialnya dan menjadi penghormatan bagi Gary Iskak serta upaya menghidupkan kembali gaya horor klasik Indonesia.
Dunia perfilman Indonesia kembali menghadirkan kisah yang terinspirasi dari mitos dan cerita rakyat. Kali ini, Abelle Pictures mempersembahkan Lastri: Arwah Kembang Desa (2026), sebuah film yang memadukan teror supranatural dengan drama berlatar kehidupan desa di Pati pada era 1990-an.
Disutradarai Hendry Tivo, film ini juga menjadi salah satu karya yang paling dinantikan karena menjadi penampilan layar lebar terakhir Gary Iskak yang tutup usia pada tahun 2025 lalu. Dibintangi Hana Saraswati, Audy Bella, dan Yama Carlos, mampukah film ini menghadirkan horor yang mencekam sekaligus menyentuh? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Sinopsis Lastri Arwah Kembang Desa (2026)
Lastri: Arwah Kembang Desa berangkat dari legenda urban yang berkembang di sekitar Pati, Jawa Tengah. Namun, film ini bukan adaptasi langsung dari kisah nyata karena cerita dan karakternya telah banyak dikembangkan.
Film ini mengikuti teror gaib yang dialami Atmi (Audy Bella) dan sejumlah warga desa. Teror tersebut berasal dari arwah Lastri (Hana Saraswati), seorang kembang desa yang meninggal secara tragis setelah difitnah dan dikhianati orang-orang terdekatnya.
Di masa lalu, Lastri dinikahi oleh juragan tambang pasir kaya bernama Turenggo (Gary Iskak). Pernikahan itu memicu kecemburuan Darman (Yama Carlos) yang kemudian menyebarkan fitnah bersama Atmi hingga membuat Lastri dikucilkan, diceraikan, dan kehilangan segalanya.
Puluhan tahun berselang, arwah Lastri kembali menuntut balas. Satu per satu orang yang pernah menghancurkan hidupnya mulai diteror, sementara berbagai rahasia kelam desa perlahan terungkap ke permukaan.
| Producer | Joe Richard, Hendry Tivo |
| Writer | Puji Lestari |
| Age Rating | D17 |
| Genre | Drama, horror |
| Duration | 102 Minutes |
| Release Date | 16 Juli |
| Theme | Urban legend, domestic drama, melodrama, horror comedy |
| Production House | Abelle Pictures |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Hana Saraswati, Gary Iskak, Audy Bella, Yama Carlos, Joe Richard, Dodit Mulyanto, Debby Sahertian, Nando Hilmy |
Trailer Lastri Arwah Kembang Desa (2026)
Cuplikan film Lastri Arwah Kembang Desa (2026)
1. Penampilan terakhir Gary Iskak yang penuh totalitas
Nilai plus Lastri: Arwah Kembang Desa justru datang dari jajaran pemainnya, terutama mendiang Gary Iskak. Meski porsinya tidak mendominasi keseluruhan cerita, setiap kemunculannya selalu meninggalkan kesan kuat. Karisma Gary mampu menghidupkan sosok Turenggo sebagai pria berpengaruh yang berada di tengah pusaran cerita.
Hana Saraswati pun tampil cukup meyakinkan sebagai Lastri. Ia berhasil memperlihatkan transformasi emosional dari perempuan desa yang lembut menjadi arwah penuh dendam tanpa kehilangan sisi tragis karakternya. Sebagai penonton, kita bisa merasakan luka dan ketidakadilan yang dialami Lastri, sehingga aksi balas dendamnya terasa memiliki dasar yang kuat.
Sayangnya, kualitas akting tersebut tidak sepenuhnya diimbangi para pemain pendukung. Beberapa karakter penting hanya hadir sebagai pelengkap konflik tanpa mendapatkan pendalaman yang memadai. Akibatnya, sejumlah momen yang seharusnya terasa menyakitkan justru lewat begitu saja karena penonton belum benar-benar terikat dengan karakter-karakter tersebut.
2. Mengandalkan ambience, tapi gagal menyajikan naskah yang kuat
Dari sisi atmosfer, Lastri: Arwah Kembang Desa cukup berhasil membangkitkan nuansa horor klasik Indonesia. Tata artistik, kostum, hingga desain lokasi membawa nostalgia pada film-film horor maupun FTV era 1990-an dan awal 2000-an. Hendry Tivo juga cukup piawai membangun ambience melalui pencahayaan redup, rumah-rumah desa, hingga kemunculan sosok Lastri yang lebih mengandalkan suasana dibanding jumpscare murahan.
Namun, kekuatan visual tersebut justru berbanding terbalik dengan kualitas naskahnya. Film ini tampak terlalu ambisius memasukkan banyak persoalan sekaligus, mulai dari perselingkuhan, stigma terhadap perempuan, kekerasan seksual, hubungan ayah-anak, hingga berbagai plot twist yang terus bermunculan. Di atas kertas, semua isu tersebut memang menarik. Sayangnya, alih-alih memperdalam salah satunya, film justru menumpuk konflik demi konflik hingga kehilangan fokus.
Struktur penceritaannya yang maju-mundur juga tidak selalu berjalan mulus. Bukannya membuat misteri semakin menarik, perpindahan waktu ala film Christopher Nolan terkadang justru membingungkan ritme cerita. Beberapa twist memang berhasil mengejutkan penonton, tetapi sebagian lainnya terasa hanya hadir untuk menambah kerumitan tanpa memberikan dampak emosional yang berarti.
Ironisnya, drama kehidupan Lastri sebenarnya jauh lebih menarik dibanding elemen horornya. Sayang, aspek horor yang lebih banyak dijadikan daya tarik film justru membuat drama tersebut tidak berkembang maksimal. Padahal, jika film lebih percaya diri mengeksplorasi tragedi hidup Lastri dan ketidakadilan yang ia alami, hasil akhirnya mungkin akan jauh lebih menyentuh.
3. Apakah Lastri: Arwah Kembang Desa recommended untuk ditonton?
Bagi pencinta film horor Indonesia, Lastri: Arwah Kembang Desa menawarkan atmosfer yang cukup berbeda dibanding tren horor modern yang mengandalkan jumpscare tanpa henti. Film ini juga menyisipkan kritik sosial tentang perselingkuhan, KDRT terhadap perempuan, hingga bagaimana stigma masyarakat mampu menghancurkan hidup seseorang hanya berdasarkan gosip dan prasangka.
Meski begitu, kelemahan pada naskah membuat pengalaman menontonnya terasa naik turun. Terlalu banyak konflik, terlalu banyak twist, tapi terlalu sedikit ruang bagi setiap permasalahan untuk berkembang secara emosional. Ambisi besar film ini akhirnya menjadi pedang bermata dua. Ia berhasil menghadirkan cerita yang sulit ditebak, tetapi juga membuat fokus narasinya tercerai-berai.
Terlepas dari kekurangannya, Lastri: Arwah Kembang Desa tetap menjadi usaha menarik untuk menghidupkan kembali formula horor klasik Indonesia dengan sentuhan produksi yang lebih modern. Ditambah penampilan terakhir Gary Iskak yang begitu berkesan, film ini layak disaksikan sebagai penghormatan terhadap salah satu aktor terbaik Tanah Air sekaligus nostalgia bagi pencinta horor lokal.
















![[QUIZ] Jika Member Tim Dream JKT48 Jadi Panitia MPLS, Siapa yang Jadi Kakak Pendampingmu?](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_c418a35766753c8ada45101cc54c7c00_458bcc12-0bc5-4638-955a-0fe83639a99a.png)



