Review The Odyssey, Sebuah Absolute Cinema dari Christopher Nolan

- Christopher Nolan menghadirkan The Odyssey (2026) sebagai adaptasi epik Homer dengan pendekatan filosofis tentang waktu, rasa bersalah, dan pencarian jati diri manusia melalui perjalanan pulang Odysseus.
- Visual IMAX kolosal karya Hoyte van Hoytema dan desain suara Ludwig Göransson menciptakan pengalaman sinematik yang imersif, menonjolkan efek praktis serta atmosfer laut yang megah dan mencekam.
- Penampilan Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, hingga Zendaya memperkuat narasi emosional film ini, menjadikannya refleksi modern tentang konsekuensi moral, keberanian, dan iman dalam menghadapi ketidakpastian.
Deretan bintang papan atas, ribuan figuran, dan lebih dari dua juta kaki (609 km) seluloid IMAX yang hampir setara jarak Jakarta hingga Ngawi. Semua digunakan Christopher Nolan untuk mewujudkan The Odyssey (2026), adaptasi paling ambisius dari karya epik Homer yang telah bertahan hampir tiga milenium. Rasanya memang hanya Nolan yang cukup nekat, sekaligus piawai untuk menerjemahkan kisah sebesar ini ke layar lebar.
Setelah mengubah perang menjadi meditasi tentang waktu di Dunkirk (2017), mimpi menjadi teka-teki filosofis lewat Inception (2010), hingga pembuatan bom atom menjadi refleksi moral dalam Oppenheimer (2023), Nolan kembali menunjukkan bahwa ia tak pernah sekadar membuat film spektakuler. Di balik kisah mitologi, monster, perang, dan petualangan laut, The Odyssey sejatinya adalah kisah tentang rasa bersalah, iman, dan perjuangan manusia menemukan jalan pulang. Lantas, seperti apa hasil akhirnya? Simak ulasannya di bawah ini!
Sinopsis The Odyssey (2026)
The Odyssey mengikuti perjalanan Odysseus, Raja Ithaka, yang berusaha pulang setelah Perang Troya berakhir. Namun, perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu singkat berubah menjadi pengembaraan selama bertahun-tahun akibat murka para dewa.
Dalam perjalanannya, Odysseus menghadapi berbagai makhluk mitologis seperti Cyclops Polyphemus, penyihir Circe, para Siren, Scylla, hingga nimfa Calypso. Setiap rintangan memaksanya mengandalkan kecerdasan, keberanian, sekaligus keteguhan hati agar dapat kembali bertemu istri tercintanya, Penelope, dan putra semata wayangnya, Telemachus.
Namun musuh terbesar Odysseus bukan hanya monster atau lautan luas, melainkan konsekuensi dari keputusan-keputusan yang pernah ia ambil sebagai raja. Mampukah ia pulang ke Ithaka dan bertemu kembali dengan keluarganya?
| Producer | Christopher Nolan, Emma Thomas |
| Writer | Christopher Nolan, Homer |
| Age Rating | R13 |
| Genre | Adventure, fantasy |
| Duration | 172 Minutes |
| Release Date | 15 Juli |
| Theme | Historical action, historical epic, fantasy epic, quest, drama, romance |
| Production House | Universal Pictures |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Robert Pattinson, Lupita Nyong'o, Samantha Morton, Zendaya, Charlize Theron, Benny Safdie, Jon Bernthal, John Leguizamo, Bill Irwin, Himesh Patel, Corey Hawkins, Mia Goth, Logan Marshall-Green, Travis Scott, Elliot Page, James Remar |
Trailer The Odyssey (2026)
Cuplikan film The Odyssey (2026)
1. Epik Homer bertemu dilatasi waktu khas Christopher Nolan
Christopher Nolan tidak mengadaptasi The Odyssey secara harfiah. Ia justru mengemas kisah Homer menjadi sebuah pengalaman sinematik yang bermain dengan persepsi waktu, sesuatu yang telah menjadi ciri khasnya selama dua dekade terakhir. Layaknya Memento (2000), Interstellar (2014), hingga Oppenheimer, waktu kembali menjadi karakter utama.
Nolan merangkai tiga alur yang berjalan bersamaan, yakni perjalanan Odysseus di lautan, perjuangan Penelope mempertahankan Ithaka di tengah gempuran para pelamarnya, dan pencarian Telemachus terhadap sang ayah. Ketiganya saling bertemu melalui penyuntingan Jennifer Lame yang nyaris tanpa cela, membuat film berdurasi hampir tiga jam ini terasa seperti dua jam saja.
Tak cuma itu, yang membuat film ini begitu memikat adalah bagaimana Nolan mengubah perjalanan pulang menjadi sesuatu yang filosofis. Ithaka bukan lagi sekadar tempat tujuan, melainkan simbol identitas yang perlahan terkikis oleh perang, rasa bersalah, dan waktu itu sendiri. Laut bukan hanya arena petualangan, tetapi metafora tentang entropi, hilangnya arah, sekaligus pencarian makna hidup.
Tak heran jika sepanjang film kita diajak terus berpikir tanpa pernah kehilangan keterikatan emosional terhadap karakter-karakternya. The Odyssey bukan cuma kisah kepahlawanan Yunani, melainkan refleksi universal tentang bagaimana manusia menghadapi konsekuensi dari pilihan hidupnya.
2. Visual IMAX yang kolosal dipadukan desain suara yang menggelegar
Jika ada satu film yang wajib ditonton di IMAX tahun ini, jelas kalau The Odyssey adalah jawabannya. Hoyte van Hoytema sekali lagi membuktikan dirinya sebagai kolaborator terbaik Nolan. Setiap lanskap laut, tebing, kapal perang, hingga kemunculan Cyclops, Scylla, dan para Siren terasa nyata. Terdengar agak mustahil kalau semuanya dibuat dengan dominasi efek praktis, meskipun nyatanya iya.
Seperti film-film terdahulunya, Nolan kembali menolak bergantung pada CGI berlebihan agar setiap adegan memiliki bobot fisik yang benar-benar terasa nyata. Namun, bintang sesungguhnya justru datang dari departemen suara.
Ludwig Göransson menghadirkan komposisi musik yang memadukan instrumen klasik dengan tekstur modern, sementara desain suaranya menjadi salah satu pencapaian terbaik Nolan sejauh ini. Dentuman ombak, desir angin, hingga bunyi tali busur yang ditarik Odysseus terdengar begitu detail dan mengancam.
Ada momen ketika kapal Odysseus dihantam badai yang membuat kursi bioskop seolah ikut bergetar. Penonton tidak sekadar melihat perjalanan itu, tetapi benar-benar merasakannya. Saat kapal dihantam ombak, kita pun ikut terombang-ambing. Saat Siren mulai bernyanyi, atmosfer berubah menjadi begitu mencekam. Bahkan beberapa adegan "jump scare"-nya cukup efektif hingga muncul pertanyaan: bagaimana jadinya jika suatu hari Christopher Nolan menyutradarai film horor?
3. Ensemble cast bertabur bintang yang tampil luar biasa
Dengan jajaran pemain yang begitu padat, awalnya ada kekhawatiran kalau beberapa karakter hanya akan jadi tempelan. Apakah semuanya mendapat "porsi" yang pas di film ini? Untungnya, kekhawatiran tersebut tidak pernah terjadi.
Matt Damon memberikan salah satu penampilan terbaik dalam kariernya sebagai Odysseus. Ia berhasil menampilkan sosok pemimpin yang tangguh sekaligus rapuh, seorang pahlawan yang terus dihantui konsekuensi dari siasatnya sendiri. Karakternya terasa jauh lebih manusiawi dibanding sekadar legenda perang Yunani yang tampil di film Troy (2004).
Anne Hathaway juga tampil emosional sebagai Penelope. Di tangannya, sosok istri yang menunggu bertahun-tahun (20 tahun, tepatnya) tidak terkesan pasif. Ia menjadi penjaga terakhir Ithaka, menghadapi tekanan politik maupun ancaman para pelamar tanpa kehilangan martabatnya.
Tom Holland berhasil mencuri perhatian sebagai Telemachus. Anak yang tumbuh tanpa sosok ayah itu mengalami character development yang kuat sepanjang cerita, sekaligus menunjukkan bahwa Holland kini semakin matang sebagai aktor drama.
Bagaimana dengan Robert Pattinson? Ia sukses menjadi sosok villain, Antinous. Kehadiran Zendaya sebagai Athena pun akhirnya masuk akal ketika seluruh konteks cerita mulai terungkap di akhir film. Bahkan, karakter-karakter pendukung seperti Calypso yang diperankan Charlize Theron hingga sederet aktor lain tetap memiliki ruang untuk bersinar tanpa mengalihkan fokus utama dari perjalanan Odysseus.
Meski sempat menuai kontroversi terkait pilihan pemeran berdasarkan ras maupun gender, isu tersebut nyaris menghilang begitu film dimulai. Kekuatan akting para pemain membuat penonton sepenuhnya larut dalam dunia yang dibangun Nolan.
4. Sebuah kisah tentang konsekuensi, keberanian, dan iman
Di balik seluruh monster mitologi dan peperangan kolosal, The Odyssey sebenarnya berbicara tentang satu hal sederhana: setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Odysseus bukanlah pahlawan tanpa cela. Ia memenangkan Perang Troya melalui tipu daya Kuda Troya. Miris, kemenangan itu justru menjadi awal dari penderitaannya sendiri. Sepanjang perjalanan pulang, ia dipaksa menghadapi konsekuensi moral atas setiap keputusan yang pernah diambil.
Menariknya, perjalanan tersebut mengingatkan kita pada gagasan filsuf Søren Kierkegaard mengenai "Knight of Faith". Bila Agamemnon adalah sosok yang menyerah pada pengorbanan tanpa harapan (Knight of Infinite Resignation), Odysseus justru terus melangkah dengan keyakinan bahwa rumah masih menunggunya, meskipun seluruh dunia tampak berusaha menggagalkan usahanya.
Kepercayaan tersebut tak hadir karena ia tahu segalanya akan berakhir baik. Sebaliknya, ia terus bergerak justru ketika semuanya tak pasti. Dalam konteks The Odyssey, perjalanan pulang Odysseus bukan sekadar petualangan, melainkan proses penebusan dosa dan rekonsiliasi terhadap dirinya sendiri.
Lewat tangan dingin Nolan, mitologi Yunani berubah menjadi refleksi modern tentang kepemimpinan, rasa malu, pengampunan, dan keberanian untuk tetap percaya ketika seluruh dunia berkata sebaliknya.
5. Apakah The Odyssey recommended untuk ditonton?
The Odyssey tak cuma jadi salah satu film terbaik Christopher Nolan, tetapi juga salah satu adaptasi epik sejarah terbaik abad ini. Film ini berhasil menyeimbangkan visual, kedalaman filosofis, drama keluarga, hingga aksi petualangan tanpa pernah kehilangan fokus pada inti ceritanya.
Tentu saja, film ini bukan tanpa kekurangan. Kompleksitas narasinya mungkin terasa menantang bagi sebagian penonton, terlebih jika belum familiar dengan kisah Homer. Namun justru di situlah kekuatannya. Nolan memperlakukan penontonnya sebagai orang yang mau berpikir, bukan sekadar "disuapi."
Kesimpulannya, The Odyssey adalah definisi sempurna dari istilah absolute cinema. Sebuah film yang memanfaatkan seluruh kekuatan medium film, mulai dari gambar, suara, akting, musik, hingga penyuntingan untuk menciptakan pengalaman yang mustahil didapatkan di tempat lain selain bioskop. Film ini adalah jenis cinematic experience yang memang dibuat untuk layar terbesar dengan sistem suara terbaik.
Jadi, kalau ada satu film yang wajib ditonton di layar IMAX bulan ini, maka The Odyssey adalah jawabannya. Kalau pun kamu tidak bisa menontonnya di IMAX, maka carilah layar terbesar yang ada di kotamu. Dan mungkin, ketika lampu studio kembali menyala, kamu akan merasa baru saja ikut berlayar bersama Odysseus menuju rumah yang selama ini kamu cari.
















![[QUIZ] Jika Member Tim Dream JKT48 Jadi Panitia MPLS, Siapa yang Jadi Kakak Pendampingmu?](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_c418a35766753c8ada45101cc54c7c00_458bcc12-0bc5-4638-955a-0fe83639a99a.png)




