Kalau menonton trailer-nya, Lobang Buaya mungkin terlihat seperti film horor-sejarah dengan hantu dan adegan gore. Padahal, elemen horor dalam film ini punya fungsi yang jauh lebih besar. Hanung sendiri menggunakan desa sebagai semacam miniatur negara. Orang-orang yang terlihat terhormat di permukaan ternyata menyimpan kepentingan dan dosa masing-masing. Aparat keamanan, tokoh agama, pejabat, hingga masyarakat biasa tidak sepenuhnya terbebas dari persoalan tersebut.
Nah, di sinilah elemen supernatural terasa menarik untuk dikulik. Hantu dalam film bukan sekadar sosok yang mengejutkan penonton, melainkan representasi dari sesuatu yang belum selesai. Masa lalu yang dikubur justru kembali menghantui orang-orang yang berusaha melupakannya.
Lobang Buaya juga sukses memperlihatkan bagaimana narasi tentang komunisme dapat digunakan sebagai alasan untuk melakukan tindakan kekerasan. Dengan demikian, tragedi sejarah tidak hanya menjadi latar, tetapi juga bagian dari kritik yang ingin disampaikan. Ada alegori politik tentang korupsi, propaganda, kekerasan, dan bagaimana mitos dapat mengaburkan tanggung jawab manusia. Pendekatan tersebut membuat film ini terasa lebih lekat dengan horor politik daripada sekadar film hantu.
Secara atmosfer, Lobang Buaya cukup ngeri. Sinematografinya memanfaatkan lingkungan desa, ruang gelap, serta pencahayaan bernuansa merah, biru, dan oranye untuk menciptakan dunia yang terasa ganjil sekaligus tidak nyaman. Kekerasan fisiknya pun cukup brutal dan visual, sementara horornya sering dibangun melalui ketegangan alih-alih mengandalkan jumpscare.
Meski begitu, tidak semuanya sempurna. Beberapa efek visual dan CGI masih terasa kurang mulus, terlihat seperti film horor era 2000-an. Ada pula bagian cerita yang terasa terlalu padat dan beberapa karakter tidak memperoleh ruang pengembangan yang cukup. Namun, ketidaksempurnaan itu tidak sepenuhnya menghilangkan ambisi Hanung. Lobang Buaya jelas ingin memberikan sesuatu yang lebih dari menakut-nakuti penonton.