Secara premis, kasus predator anak sudah cukup mengerikan tanpa perlu banyak tambahan. Ketika film menempatkan empat jurnalis perempuan sebagai pihak yang mencoba mengungkap identitas sang pemangsa, muncul potensi crime thriller yang menarik. Bagian investigasinya menjadi salah satu kekuatan film. Misteri mengenai siapa pelaku sebenarnya, pencarian petunjuk, ancaman terhadap para jurnalis, hingga keterlibatan polisi mampu membangun tensi yang cukup baik.
Empat karakter utama juga memiliki pembagian peran yang cukup jelas. Brina lebih mengandalkan kemampuan fisik dan bela diri, Anya punya ketertarikan terhadap riset dan demonologi, Cia lebih impulsif serta berani mengambil risiko, sedangkan Agnes menjadi sosok yang memiliki keterikatan emosional lebih kuat terhadap kasus tersebut. Konsep ini sebenarnya menarik karena masing-masing karakter bisa memberikan pendekatan berbeda dalam investigasi.
Sayangnya, skill set mereka terasa muncul ketika cerita membutuhkannya. Cia tiba-tiba punya cara tertentu untuk menghadapi situasi, Anya menjadi sumber informasi, sementara kemampuan sixth sense Agnes menjadi jalan pintas untuk menemukan petunjuk. Di sinilah proses jurnalistiknya terasa kurang organik. Investigasi kriminal biasanya membutuhkan wawancara, pencarian fakta, penelusuran sumber, dan kemungkinan menemui jalan buntu. Beberapa kali film ini justru memotong proses tersebut dengan indra keenam Agnes.
Padahal, seandainya kemampuan Agnes lebih banyak dikaitkan dengan trauma atau konflik psikologis seperti di film The Dead Zone (1983) atau Unbreakable (2000), proses investigasinya berpotensi menjadi jauh lebih menarik. Penonton bisa melihat bagaimana para jurnalis benar-benar bekerja untuk membongkar kasus, bukan cuma menunggu petunjuk datang melalui kemampuan supernatural.