Setelah tahun lalu sukses meraih banyak penghargaan melalui Mad Unicorn (2025), Nottapon Boonprakob kembali menunjukkan keahliannya dengan menyutradarai serial Netflix, The Evil Lawyer (2026), serial Thailand bertema hukum yang berani menunjukkan intrik di ruang persidangan. The Evil Lawyer menyajikan cerita tentang mencari keadilan yang penuh tipu daya, kekuasaan, dan manipulasi.
[REVIEW] The Evil Lawyer, Pertarungan Penuh Intrik di Ruang Sidang
![[REVIEW] The Evil Lawyer, Pertarungan Penuh Intrik di Ruang Sidang](https://image.idntimes.com/post/20260615/evl_q34_20250713_42163_1f42f020-45c4-4d92-9fb0-825ccb3f3604.jpg)
- The Evil Lawyer menampilkan kisah hukum Thailand yang kompleks, penuh intrik moral, politik, dan sosial, dengan fokus pada perjuangan Mek menghadapi tuduhan pembunuhan yang mengguncang idealismenya.
- Karakter Jittri sebagai pengacara iblis menjadi pusat perhatian berkat pendekatan pragmatisnya terhadap hukum, memunculkan dilema etika dan ketegangan ideologis di antara para tokoh utama.
- Riset mendalam tim produksi menghadirkan detail hukum realistis dan kritik sosial tajam tentang ketimpangan kekuasaan dalam sistem peradilan, diperkuat akting kuat serta atmosfer kelam nan menekan.
Cerita The Evil Lawyer berpusat pada Mek (Nat Kitcharit), seorang pengacara muda yang idealis dan teguh memegang prinsip keadilan. Namun, hidupnya berubah drastis ketika ia terjebak dalam tuduhan pembunuhan putra seorang perwira polisi berpengaruh. Akibat tuduhan tersebut, Mek yang selama ini memperjuangkan keadilan untuk orang lain justru berubah menjadi terdakwa dalam sebuah kasus yang terlihat mustahil dimenangkan.
Merasa sistem hukum yang selama ini ia percayai gagal melindunginya, Mek terpaksa menerima ajakan kerja sama Jittri (Ying Rhatha), seorang pengacara kontroversial yang dikenal dengan julukan “Pengacara Iblis”. Jittri mendapat julukan tersebut karena ia ahli dalam memanfaatkan celah hukum dan menggunakan strategi berbahaya demi memenangkan semua perkaranya. Telah tayang pada 11 Juni 2026 lalu, simak review serial The Evil Lawyer yang tayang di Netflix berikut ini, yuk!
1. Serial Thailand bertema hukum yang sangat serius

The Evil Lawyer menjadi serial bertema hukum yang berani keluar dari formula cerita tentang pengadilan Thailand yang biasanya sederhana dan melodramatis. Serial ini menghadirkan dunia hukum yang lebih kompleks, dipenuhi dilema moral, celah hukum, serta pertarungan ideologi antartokohnya. Cerita hukum dan proses peradilan dalam serial ini juga ditampilkan secara mendalam, realistis, dan penuh detail.
Namun, banyaknya isu yang dibahas secara bersamaan, seperti politik partai, korupsi, kesenjangan sosial, perdagangan orang, imigran ilegal, dan berbagai tindak pidana lainnya, membuat beberapa bagian cerita terasa terlalu padat dan menuntut perhatian penuh dari penonton. Pasalnya, ketika tidak fokus menontonnya, kita akan lupa dengan konflik utama yang berusaha dipecahkan dalam The Evil Lawyer. Hal ini membuat The Evil Lawyer tidak ramah bagi penonton yang hanya sekadar mencari hiburan.
2. Tokoh utama wanita menjadi jantung cerita sesungguhnya

Meskipun Mek diposisikan sebagai protagonis utama yang tengah berkonflik dengan hukum. Sosok Jittri sang pengacara iblis, justru tampil sebagai karakter yang paling menarik. Ia bukanlah pahlawan yang membela kebenaran, bukan pula penjahat yang melakukan berbagai tindakan keji. Pola berpikir pragmatis dan kemampuannya memanfaatkan celah hukum memunculkan pertanyaan moral yang terus menghantui penonton.
Mencoloknya tokoh Jittri dalam serial ini membuat beberapa momen karakter lain terlihat kurang kuat. Akibatnya, kesimbangan antartokoh terkadang terasa timpang. Meski begitu, semua aktor yang berperan dalam serial ini berhasil menampilkan kualitas akting yang memukau, sehingga karakter yang mereka bawakan menghasilkan perkembangan cerita yang sangat meyakinkan dan lebih hidup.
3. Riset mendalam tim produksi berhasil membuat kisah hukum terasa meyakinkan

Tim kreatif The Evil Lawyer mengungkapkan bahwa proyek ini dikembangkan selama beberapa tahun. Riset mendalam dilakukan mengenai sistem hukum Thailand. Mereka rajin mengunjungi pengadilan serta berkonsultasi dengan pengacara, hakim, jaksa, dan pekerja LSM agar setiap kasus terasa realistis. Setiap naskah ditinjau oleh pakar hukum untuk memastikan prosedur persidangan, strategi hukum, hingga celah-celah hukum yang ditampilkan dalam cerita memiliki dasar yang masuk akal dan realistis.
Meski sesekali masih mengorbankan realisme demi efek dramatis yang meningkatkan ketegangan cerita. Riset mendalam yang dilakukan oleh tim kreatif ini berhasil membuat cerita The Evil Lawyer terasa semakin kuat dan nyata. Adegan persidangan, strategi pembelaan, serta perdebatan hukum di serial ini juga terasa lebih realistis dibandingkan dengan drama Thailand bertema hukum lainnya.
4. Kritik sosial yang tajam, tetapi tidak terselesaikan

Salah satu kekuatan terbesar The Evil Lawyer adalah kemampuannya mengangkat berbagai persoalan struktural dalam sistem peradilan Thailand. Rangkaian kasus yang saling terhubung berhasil menggambarkan bagaimana kekuasaan, status sosial, dan politik berpengaruh terhadap proses hukum. Pengadilan tidak ditampilkan sebagai ruang netral di mana kebenaran selalu menang, melainkan sebagai arena pertarungan kepentingan. Membuat mereka yang memiliki akses terhadap kekuasaan sering kali berada di posisi yang lebih unggul.
Kritik sosial semacam ini terasa relevan dan valid karena disampaikan melalui konflik karakter dan situasi yang konkret, bukan sekadar dialog yang memberi pesan pada penonton. Namun, beberapa isu besar yang dibangun sepanjang cerita terkadang dibiarkan menggantung atau terselesaikan secara samar. Membuat serial ini seakan-akan lebih fokus pada pertanyaan daripada jawaban atas kritik yang diajukan. Akibatnya, keadilan dan moralitas masih terus dipertanyakan oleh penonton karena tidak mendapatkan penyelesaian yang tegas dan memuaskan.
5. Akting kuat dan atmosfer yang kelam serta menekan

Penampilan Ying Rhatha sebagai Jittra dan Nat Kitcharit sebagai Mek yang berseberangan ideologi menjadi fondasi utama serial ini. Keduanya mampu membawa ketegangan emosional yang membuat konflik hukum semakin terasa. Perdebatan, adu argumen, serta dinamika kerja sama menjadi warna utama yang membuat serial ini lebih hidup dan lebih kompleks.
Desain visual dan atmosfer dalam serial ini juga menjadi hal lain yang perlu diapresiasi. Penggunaan palet warna yang cenderung gelap secara efektif merefleksikan dunia yang penuh ketidakjelasan moral. Meski terkadang tempo alur cerita terkesan lambat dan membuat penonton menunggu kejutannya. Sinematografi yang kuat dan konsisten membuat penonton terus merasa tegang, tertekan, dan mempertanyakan taktik seperti apa lagi yang akan dilakukan oleh para karakter untuk meraih kemenangan di ruang sidang.
The Evil Lawyer bukan hanya sekadar serial yang membahas bagaimana prosedur hukum berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Serial ini menampilkan realita proses hukum di persidangan yang terkadang bukan mencari keadilan, melainkan strategi untuk meraih kemenangan dengan memanfaatkan celah bahkan kekosongan hukum. Bahkan, dalam mengungkap kebenaran, terkadang perlu muslihat yang berlawan dengan idealisme dan hati nurani. Ceritanya begitu intens sejak episode awal. The Evil Lawyer sangat layak ditonton, apalagi bagi kamu yang menyukai serial bertema hukum dan thriller.







![[QUIZ] Menurut Tes Ini, Berikut Karakter Toy Story 5 yang Mirip Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260617/upload_7162666f9eb0a7aaaf1e33393dd8a401_784dfd08-7df7-4fc6-b5b6-38f9e5f8356c.jpg)










