Deretan bintang papan atas, ribuan figuran, dan lebih dari dua juta kaki (609 km) seluloid IMAX yang hampir setara jarak Jakarta hingga Ngawi. Semua digunakan Christopher Nolan untuk mewujudkan The Odyssey (2026), adaptasi paling ambisius dari karya epik Homer yang telah bertahan hampir tiga milenium. Rasanya memang hanya Nolan yang cukup nekat, sekaligus piawai untuk menerjemahkan kisah sebesar ini ke layar lebar.
Setelah mengubah perang menjadi meditasi tentang waktu di Dunkirk (2017), mimpi menjadi teka-teki filosofis lewat Inception (2010), hingga pembuatan bom atom menjadi refleksi moral dalam Oppenheimer (2023), Nolan kembali menunjukkan bahwa ia tak pernah sekadar membuat film spektakuler. Di balik kisah mitologi, monster, perang, dan petualangan laut, The Odyssey sejatinya adalah kisah tentang rasa bersalah, iman, dan perjuangan manusia menemukan jalan pulang. Lantas, seperti apa hasil akhirnya? Simak ulasannya di bawah ini!
