Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
VisionQuest Cerminan Humanoid Juga Manusia, Punya Rasa Punya Hati
adegan dalam serial VisionQuest (dok. Disney+/VisionQuest)
  • VisionQuest melanjutkan White Vision, synthezoid hasil rekonstruksi S.W.O.R.D. yang membawa memori Vision, saat ia bersembunyi, belajar hidup bersama manusia, dan menghadapi peran sebagai ayah.

  • Serial delapan episode ini memadukan visual eklektik, humor, serta intrik lima AI di tubuh White Vision, meski kepadatan dialog dan eksposisi berpotensi membuat penonton kewalahan.

  • Paul Bettany dan James Spader menonjol sebagai Vision dan Ultron; cerita mengangkat pencarian jati diri, hubungan ayah-anak, serta konflik dengan Paladin dan ButcherBird.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat pertama kali menyaksikan 'kelahirannya' di Avengers: Age of Ultron pada 2015, jujur saja saya tidak menyangka bahwa kelak Vision akan punya 'rumah megah' sendiri. Serialnya sendiri, ceritanya sendiri, dan kepribadian yang gak kalah kompleks dari Avengers organisme hidup manapun. Satu unit humanoid dengan kecerdasan buatan, yang di MCU disebut synthezoid, kini menjelma jadi berbagai hal yang tak terbayangkan. Termasuk jadi seorang ayah!

Kisah makhluk bertubuh vibranium ini tentu tak bisa lepas dari tragedi yang secara apik dijabarkan dalam WandaVision (2020). Saya sendiri percaya, cara Wanda Maximoff menghadapi nestapa tersebut, adalah salah satu serial terbaik Marvel Television yang pernah ada. Maka, ketika IDN Times berkesempatan menyaksikan langsung 8 episode VisionQuest lebih dulu, saya sangat bersemangat untuk hanyut kembali dalam kisah cinta berbalut laga, petualangan, dan pencarian jati diri. Apa saja yang saya dapatkan dari VisionQuest (2026)?

Sinopsis VisionQuest

VisionQuest melanjutkan nasib Vision yang kini berhasil dibangkitkan kembali oleh S.W.O.R.D sebagai White Vision. Sebagai synthezoid yang dirangkai ulang dari bangkai Vision, ia punya memori dari kekasih Wanda Maximoff itu. Namun secara hakikat, ia bukanlah individu yang sama.

White Vision pun kabur. Ditemani lima AI lain, ia 'merangkak,' perlahan belajar berasimilasi dengan manusia lain. Namun, kedamaian itu tak akan pernah bertahan lama. Sambil berusaha menghadapi pihak-pihak yang memburunya, White Vision menghadapi fakta bahwa ia harus menjalankan peran sebagai ayah, walau semua itu hasil dari coping up mechanism Wanda, tanpa persetujuannya. Seperti apa ceritanya berusaha mencari jati diri, sembari menghadapi dinamika kehidupan sebuah synthezoid?

VisionQuest
2026
4.7/5★
Directed by Terry Matalas
ProducerRoopesh Parekh
WriterTerry Matalas
Age RatingPG
GenreSci-fi & Fantasy, Drama
Duration45-55 Minute/episode Minutes
Release Date13-10-2026
Themeandroid, identity crisis, based on comic, on the run, miniseries, self identity, marvel cinematic universe (mcu), father son relationship
Production HouseMarvel Studios, Kevin Feige Productions
Where to WatchDisney+
CastPaul Bettany, James Spader, Ruaridh Mollica, Todd Stashwick, Lauren Morais

Trailer VisionQuest

1. Sukses hidangkan visual unik dan konsep cerita visioner, yang kadang agak mencekoki

Adegan di serial VisionQuest (dok. Marvel Television/VisionQuest)

Kesuksesan tangan dingin Jac Schaeffer, yang telah sukses menggodok WandaVision dan Agatha All Along, membuat ekspektasi saya sangat tinggi pada series lanjutan ini. Sayangnya, ia harus menyerahkan kursi pilot proyek ini ke Terry Matalas. Syukurlah, sang show runner baru punya semangat, ambisi, dan kecintaan yang sama terhadap cerita ini.

Hal itu tercermin dari bagaimana VisionQuest dihidangkan ke penonton. Sisa-sisa visual eclectic yang terinspirasi dari berbagai era serial televisi, masih menyisakan remah-remah yang bikin fans setia senyam-senyum. Setting yang terbagi antara isi prosesor White Vision yang penuh warna dan dunia nyata yang mendung, juga menambah keunikan. Dan seperti sebagian besar Marvel Cinematic Universe, humor punya tempat cukup substansial di tengah tema yang suram.

Ekosistem lima AI dalam tubuh White Vision dikemas dengan menghibur dan mudah dipahami. Intrik yang diangkat pun selaras dengan perhatian masyarakat dunia modern saat ini. Namun, tiap episode yang padat informasi dan dialog bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi cerita yang ambisius bisa tersampaikan dalam delapan episode. Di sisi lain, ada momen-momen yang terasa terlalu penuh eksposisi dan berisiko bikin overwhelmed penonton.

2. Penampilan cemerlang para pion cerita, terutama Vision dan Ultron alias Paul Bettany dan James Spader

James Spader dan Paul Bettany kembali sebagai Ultron dan Vision di VisionQuest (dok. Marvel Televisions/VisionQuest)

Paul Bettany memang sudah tak perlu diragukan lagi dalam menghidupan Vision. Ia pun sekali lagi berhasil mewujudkan varian White Vision yang punya semua kualitas Vision, namun diliputi kebingungan dan rasa sakit. Jangan dikira ini hal mudah! Bagi sebuah humanoid yang telah menyerap banyak emosi dan kesadaran diri sehingga menyerupai manusia, penampilan rumit dan menyentuh perlu dieksekusi secara apik.

Apalagi White Vision punya masalahnya sendiri. Ia terus mencari inti jiwa sejatinya, menghadapi kehilangan, sekaligus menavigasi kehidupan sebagai ayah tanpa persetujuannya sendiri! Paul Bettany secara mulus menjiwai sosok robot yang juga punya rasa punya hati, walau tubuhnya lebih berbahaya dari belati.

Aksi ciamik Paul, diimbangi juga dengan performa bintang lima James Spader. Sebelumnya hanya tampil lewat suara dan motion capture, kini ia menunjukkan wujud Ultron bila diandaikan seperti manusia. Walau mengambil rupa pria tua kebapakan, tetapi di beberapa bagian Spader berhasil bikin bergidik lewat pembawaan dan suaranya kala mengutarakan ide-ide culas Ultron.

Selain akting keduanya, penampilan Ruaridh Mollica yang perdana memerankan Tommy Maximoff remaja juga tak mengecewakan. Chemistry-nya sebagai anak yang mencari jawaban dari ayah yang lama terpisah begitu menghanyutkan. Jangan lupakan akting para pemeran AI teman-teman Vision, yaitu Orla Brady sebagai F.R.I.D.A.Y., Emily Hampshire sebagai E.D.I.T.H., hingga James D'Arcy sebagai J.A.R.V.I.S.

3. Membedah tema humanisme, eksistensialisme, dan kekeluargaan yang menyelimuti si robot galau

still cut serial VisionQuest (dok. Marvel Television)

Punya tubuh anti peluru dan otak super cerdas, ternyata White Vision punya berbagai kekhawatiran, pertanyaan, hingga kesedihan. Padahal ia sejatinya adalah robot, namun lika-liku emosionalnya sukses bikin saya larut dalam cerita. Dan mungkin kamu juga. Semakin ia belajar dan mengingat apa saja yang sudah didapatkan Vision sebelumnya dari cinta kasih manusia, semakin ia masuk dalam pusaran dilema.

VisionQuest juga mengeksplorasi hubungan ayah dan anak yang rumit antara Tommy dan Vision. Sesuatu yang terasa terlalu tak masuk akal, bahkan bagi para karakter di dalamnya, tetapi punya dampak nyata dalam jalannya cerita. Tak hanya dengan Tommy, Vision baru harus bermanuver menghadapi Ultron, cikal bakal sekaligus nemesis-nya. Tarik ulur di antara mereka bikin nuansa keluarga yang problematik tapi relatable nyampai kepada pemirsa.

Di antara semua krisis di dalam dan di luar dirinya, Vision masih harus menghadapi pemburu yang disebut Paladin, dan sesosok pembunuh berantai bernama ButcherBird. Kesemuanya akan memantik pertanyaan tentang jati diri, tujuan hidup, dan mengaduk-aduk perasaan yang para tokohnya berusaha untuk bekap erat-erat. Tema-tema ini menarik disimak dan masih cukup jarang dieksplorasi di serial dan film jagoan super.

4. Sebaiknya nonton pendahulunya dan paham MCU lore sebelum menyaksikan VisionQuest

Ruaridh Mollica sebagai Tommy Maximoff di VisionQuest (dok. Marvel Television)

Sudah saya duga, debut VisionQuest di Disney+ dapat respons positif juga di kalangan fans Marvel hingga situs agregator kritik. Ambil contoh Rotten Tomatoes yang mengganjar serial ini dengan 82% Fresh Tomatometer dan 88% Popcorn Meter. IMDb memberi angka 8,7/10, sesuatu yang tak mudah dicapai ditengah lesunya performa banyak film dan serial MCU beberapa tahun terakhir.

Meski begitu, saya sendiri membantin, "mampukah penonton kasual menikmati serial yang lore alias latar belakangnya sudah sangat jauh ini?" Pasalnya, sebagai penonton yang sudah (berusaha) istikamah mengikuti franchise ini sejak IronMan (2008), saya saja perlu beberapa kali berhenti untuk mengingat-ingat referensi yang muncul. Apalagi beberapa karakter yang kini jadi sangat menonjol dan penting datangnya sudah dari berfilm-film dan serial yang lampau.

Sebaiknya jika ingin menikmati sepenuhnya VisionQuest, tamatkan dulu beberapa tontonan yang menjadi rujukannya ya! Pada akhirnya serial ini patut disimak sebelum menyongsong langkah berikutnya di MCU, yaitu Avengers: Doomsday. Meskipun, prekuel langsungnya seperti WandaVision dan Agatha All Along masih jauh lebih 'magis' bagi saya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article