Hari itu sangat melelahkan, aku pindah ke apartemen baru. Proses pemindahan dan pengaturan barang pun memakan waktu lama. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk bermalam di apartemen baru, sekalian 'test drive'. Namun, keputusan itu tampaknya salah.
Malam itu aku menikmati hasil jerih payah dengan pesta kecil-kecilan dengan sahabat. Aku undang mereka ke apartemen baru yang bisa dibilang masih berantakan. Kami pun ngobrol dan dilengkapi makanan. Semakin larut, salah satu temanku izin tidur duluan. Tinggal aku dan Mika. Mika juga dikenal sensitif terhadap makhluk gaib.
Saat kami menoton, Mika tiba-tiba mulai menangis. Aku bingung dan mencoba menanyakan sebabnya. Dia tidak mengangkat kepalanya. Namun, bulu kudukku merinding saat mendengar suara erangan dari Mika. Suara itu juga tidak mirip dengan dirinya. Mika tiba-tiba tertawa, temanku yang awalnya tidur pun terbangun.
Kami panik. Tiba-tiba Mika pingsan dan kamu mengistirahatkan badannya di ranjang. Aku dan Dodi pun berjaga, takut ada apa-apa lagi. Tiba-tiba jendela apartemenku seperti terkenal lemparan batu, karena suaranya cukup keras. Aku dan Dodi pun bingung, tapi takut. Tiba-tiba seperti ada yang mengetuk jendela dengan keras dan cepat. Kami mulai panik. Saat itu juga Mika terbangun dan mulai tertawa lagi sambil berkata, "Jangan macam-macam, tinggalkan tempat ini".
Setelah itu Mika kembali pingsan. Dodi yang cukup berani pun berjalan ke arah jendela dan berteriak untuk mengusir apapun atau siapapun itu. Tidak lama ketukan terhenti. Malam itu kami putuskan untuk tidur. Sampai paginya kami membawa Mika ke rumah sakit. Mika bercerita kalau 'penjaga' apartemenku marah karena tanahnya terusik.