Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Mal Jarang Memasang Jam Dinding? Ternyata Ada Strateginya!
ilustrasi mal (unsplash.com/WeLoveBarcelona.de)
  • Kebanyakan mal modern tidak memasang jam dinding karena pengunjung kini mengandalkan smartphone dan layar digital untuk melihat waktu.
  • Desain interior mal masa kini menonjolkan tampilan minimalis, sehingga ruang dinding lebih dimanfaatkan untuk dekorasi atau iklan daripada jam dinding.
  • Penghapusan jam dinding juga menjadi strategi agar pengunjung betah berlama-lama, meningkatkan peluang belanja tanpa sadar waktu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat sedang jalan-jalan di mal, pernahkah kamu memerhatikan bahwa di sana hampir tidak ada jam dinding? Di berbagai sudut ada papan petunjuk, layar iklan digital, hingga dekorasi yang menarik perhatian. Namun, benda sederhana seperti jam justru sering kali tidak terlihat. Padahal, di tempat umum lain seperti stasiun, rumah sakit, atau bandara, jam dinding biasanya dipasang di banyak titik.

Fenomena ini ternyata bukan terjadi secara kebetulan. Ada berbagai alasan mengapa sebagian besar mal modern memilih untuk tidak memasang jam dinding secara mencolok. Mulai dari perubahan kebiasaan masyarakat yang kini mengandalkan smartphone, hingga strategi desain dan pemasaran yang diterapkan pengelola pusat perbelanjaan. Lantas, apa sebenarnya alasan di balik keputusan tersebut?

1. Hampir semua orang sudah membawa jam sendiri

ilustrasi jam tangan (unsplash.com/Erik Mclean)

Dulu, jam dinding sangat penting karena tidak semua orang memakai jam tangan atau membawa alat penunjuk waktu. Sekarang kondisinya sudah berbeda. Sebagian besar pengunjung cukup melihat layar HP untuk mengetahui pukul berapa saat itu.

Karena sebagian besar orang sudah bisa melihat waktu melalui HP, keberadaan jam dinding di dalam mal tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan utama. Selain itu, banyak layar digital di area mal, seperti papan informasi atau direktori, juga dapat menampilkan waktu. Alhasil, fungsi jam dinding kini telah banyak digantikan oleh perangkat digital yang lebih praktis.

2. Desain mal modern mengutamakan tampilan yang bersih

ilustrasi mal (unsplash.com/mostafa meraji)

Mal masa kini umumnya mengusung konsep interior yang minimalis dan modern. Dinding serta langit-langit didesain agar terlihat rapi dengan pencahayaan, dekorasi, serta papan iklan yang menarik perhatian. Jam dinding berukuran besar terkadang dianggap mengganggu kesan tersebut. Dibanding memasang jam, pengelola lebih memilih memanfaatkan ruang dinding untuk petunjuk arah, layar digital, atau dekorasi yang memperkuat identitas mal.

3. Membuat pengunjung lebih betah berlama-lama

ilustrasi mal (unsplash.com/Valent Lau)

Semakin lama seseorang berada di pusat perbelanjaan, semakin besar kemungkinan ia melakukan pembelian. Jam dinding merupakan pengingat yang sangat jelas bahwa waktu terus berjalan. Ketika seseorang melihat sudah sore atau malam, mereka mungkin langsung berpikir untuk pulang. Sebaliknya, tanpa melihat jam, pengunjung cenderung tidak terlalu sadar sudah berapa lama mereka berbelanja. Tentu saja bukan berarti semua orang langsung lupa waktu hanya karena tidak ada jam. Namun, mengurangi petunjuk waktu dapat menjadi salah satu cara halus untuk menciptakan suasana yang membuat orang lebih santai saat berkeliling.

4. Ruang dinding lebih menguntungkan untuk iklan

ilustrasi mal (unsplash.com/WeLoveBarcelona.de)

Setiap sudut di dalam mal memiliki nilai komersial. Dinding bisa digunakan untuk memasang promosi toko, papan petunjuk, atau layar digital yang menampilkan berbagai iklan secara bergantian. Dari sisi bisnis, ruang tersebut jauh lebih bernilai dibanding digunakan untuk memasang jam dinding yang tidak menghasilkan pemasukan. Karena itulah, pengelola lebih memilih memaksimalkan area visual untuk kepentingan promosi.

5. Jam dinding juga membutuhkan perawatan

ilustrasi jam dinding dari kayu (freepik.com/wirestock)

Mungkin terdengar sepele, tetapi jam dinding tetap membutuhkan perawatan rutin. Baterainya harus diganti, waktunya harus disesuaikan, dan kondisinya perlu dibersihkan agar tetap berfungsi dengan baik. Bayangkan jika sebuah mal memiliki puluhan jam yang tersebar di berbagai lantai. Pengelola harus memastikan semuanya menunjukkan waktu yang sama. Dibanding melakukan perawatan tersebut, menggunakan sistem layar digital yang terhubung dalam satu jaringan jauh lebih praktis.

Jadi, kalau lain kali kamu kesulitan menemukan jam saat sedang berjalan-jalan di mal, kemungkinan besar itu memang disengaja. Bukan karena pengelolanya lupa memasang jam, melainkan karena ada berbagai pertimbangan desain, teknologi, dan strategi pemasaran di balik keputusan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article