4 Luka Batin yang Membentuk Karakter Im Jae I di To My Beloved Thief

Sikap kasar dan segala perilaku tak sopan Im Jae I (Hong Min Gi) di To My Beloved Thief memang memicu rasa kesal penonton. Kendati demikian, karakter Jae I di drama tersebut tetap tak bisa dibenci. Apalagi setelah penonton tahu ada alasan mengapa Jae I bisa bersikap seperti itu.
Ada luka batin yang disembunyikan oleh Im Jae I sejak kecil hingga akhirnya luka tersebut membentuk karakternya yang sekarang ini. Luka batin yang membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang kasar dan tak sopan. Berikut adalah luka batin yang membentuk karakter Im Jae I di To My Beloved Thief.
1. Tekanan yang berlebihan dari sang ayah

Im Jae I selama ini hidup dalam tekanan penuh dari sang ayah. Sejak kecil ia terus ditekan untuk bisa menjadi sosok yang kuat dan tak terkalahkan. Ayahnya juga selalu menekannya agar menjadi anak yang berguna. Bahkan sang ayah tak segan menghukumnya karena kesalahan sekecil apapun yang ia lakukan.
Maka dari itu, Jae I tumbuh menjadi sosok yang kasar dan kurang memiliki sopan santun. Ia bahkan tak memiliki perasaan bersalah usai berbuat kasar pada orang lain. Sebab, selama ini Jae I selalu melihat ayahnya berbuat seperti itu padanya tanpa merasa bersalah sama sekali, sekalipun hal itu menyakiti perasaan putra kandungnya sendiri.
2. Penghinaan soal identitas aslinya

Sebuah fakta menyakitkan yang harus diterima Im Jae I adalah fakta bahwa ia sebenarnya anak dari seorang Gisaeng. Di mana statusnya tak jauh berbeda dengan anak-anak budak yang dinilai rendah dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang lain bahkan mungkin juga dirinya sendiri.
Selama ini sang ayah menyembunyikan fakta itu darinya bukan karena ingin menjaga hatinya, tetapi untuk menjaga kehormatannya sendiri. Sang ayah tak mau kalau orang-orang tahu ia memiliki putra dari seorang Gisaeng. Selain itu, sang ayah mau memanfaatkan Jae I sebaik mungkin untuk mencapai tujuannya, makanya tak boleh ada yang tahu soal status anak tersebut.
Hal ini justru jadi penghinaan bagi Jae I. Ia merasa terhina lantaran sikap sang ayah yang juga merendahkannya. Sehingga luka atas penghinaan itu membuat Jae I bersikeras menjaga citra dirinya agar tak ada satu pun yang bisa merendahkannya. Demi citra itu, Jae I pun tak segan berbuat kasar atau melakukan semaunya saat ada hal-hal yang menggores harga dirinya.
3. Luka karena tidak diberi ruang untuk meluapkan emosi

Selama ini, Im Jae tak pernah bebas mengekspreksikan dirinya sendiri. Ia tak hanya hidup dalam tekanan, tetapi ruang geraknya juga dibatasi oleh sang ayah. Ia benar-benar tak boleh keluar atau melampaui batas yang ditetapkan ayahnya.
Layaknya boneka, Jae I hidup di bawah kendali sang ayah hingga ia pun tak bisa melupakan emosinya sendiri. Ia tumbuh tanpa validasi emosional yang cukup. Luka tersebutlah yang membuatnya terbiasa memendam emosi dan mengekspresikannya dengan cara yang keliru.
Sehingga emosi negatif yang dipendam terus-menerus akhirnya keluar dalam bentuk sikap kerasnya. Alih-alih berkata jujur tentang apa yang ia rasakan, ia memilih nada dingin dan kata-kata tajam sebagai pengganti.
4. Kekurangan perhatian atau kasih sayang

Selama ini, Im Jae I tumbuh di lingkungan yang serba menuntut, tetapi minim kasih sayang. Tak ada kehangatan di dalam keluarganya. Kasih sayang yang hadir pun hanya berbentuk tuntutan dan ekspektasi. Tidak ada perhatian sama sekali.
Im Jae I dibesarkan untuk menjalankan peran, bukan untuk dipeluk atau didengarkan. Ia terbiasa dinilai dari fungsi dan perannya, bukan dari perasaannya. Tidak ada ruang untuk dimanja, dipeluk, atau didengarkan tanpa syarat. Akibatnya, Im Jae I tumbuh sebagai pribadi yang tidak terbiasa menerima cinta secara utuh. Jae I tak bisa merasakan emosi dan hanya bisa bersikap dingin dan acuh tak acuh.
Di balik kata-kata tajam Im Jae I, ada hati yang tak pernah benar-benar dipeluk. Kekasarannya bukan bentuk kejahatan, melainkan kumpulan dari luka batin yang tak pernah sembuh. Melalui karakternya di drama ini kita seakan diajari untuk tidak menilai seseorang hanya dari satu sisi, sebab kita tak pernah luka apa yang sebenarnya tersembunyi.



















