5 Perbedaan Gumiho dan Palmiho yang Disorot di No Tail to Tell

- Perbedaan utama antara Gumiho dan Palmiho terletak pada jumlah ekor, dengan Gumiho memiliki sembilan ekor dan Palmiho memiliki delapan ekor.
- Gumiho telah mencapai tahap tertinggi dalam evolusi spiritual, sementara Palmiho masih berada satu tingkat di bawahnya dalam hal kekuatan spiritual.
- Gumiho mampu membaca masa depan, memanipulasi takdir, dan hidup berdampingan dengan manusia, sementara Palmiho masih belajar memahami dunia manusia dan hidup terisolasi di alam.
Di drama No Tail to Tell (2026), kemunculan Palmiho atau rubah ekor delapan membuka lapisan baru dalam dunia mitologi yang sebelumnya hanya mengenal gumiho sebagai rubah ekor sembilan. Kehadiran sosok Palmiho ini mengejutkan, bukan hanya bagi Eun Ho (Kim Hye Yoon), tetapi juga penonton, terlebih karena penampilannya yang sangat mirip dengan Geum Ho (Lee Si Woo).
Meski sama-sama makhluk rubah spiritual, Gumiho dan Palmiho ternyata berada di tingkat yang berbeda, baik dari sisi kekuatan, naluri, maupun peran dalam takdir manusia. Lantas, apa saja perbedaan utama antara Gumiho dan Palmiho? Berikut penjelasannya.
1. Jumlah ekor yang dimiliki

Perbedaan paling mencolok dari keduanya terletak pada jumlah ekor. Palmiho memiliki delapan ekor, sementara gumiho memiliki sembilan ekor. Keduanya sebenarnya berasal dari proses yang sama, yakni rubah yang menapaki jalan pencerahan untuk mendekati eksistensi manusia.
Ekor akan tumbuh satu per satu seiring meningkatnya fase pencerahan. Gumiho berada di kasta tertinggi, karena angka sembilan dianggap sebagai simbol kepenuhan dan kesempurnaan, menandakan selesainya siklus seribu tahun pelatihan. Sementara itu, Palmiho berada di fase transisi, dimana ia memiliki kekuatan besar, tetapi belum mencapai pencerahan penuh atau penyelesaian takdirnya.
2. Tingkat kekuatan spiritual

Gumiho merupakan rubah yang telah mencapai tahap tertinggi dalam evolusi spiritual. Mereka sudah melewati fase naluri hewani dan memiliki kendali penuh atas emosi, moral, serta keputusan yang diambil. Karena itu, gumiho mampu hidup berdampingan dengan manusia dalam waktu lama tanpa kehilangan jati diri.
Sementara itu, Palmiho masih berada satu tingkat di bawah gumiho. Naluri binatangnya masih kuat, sehingga tindakannya cenderung lebih instingtif dan belum sepenuhnya rasional. Palmiho masih dalam tahap belajar memahami dunia manusia dan belum siap menanggung tanggung jawab besar.
3. Kekuatan dan otoritas takdir

Gumiho memiliki mutiara rubah sebagai inti kekuatan spiritual. Dari sinilah mereka mampu membaca masa depan, memanipulasi takdir, dan mengabulkan permintaan manusia, tentu dengan harga tertentu. Otoritas ini menjadikan gumiho sebagai makhluk yang sangat berpengaruh dalam alur takdir manusia.
Sebaliknya, Palmiho belum memiliki atau belum menyempurnakan mutiara rubahnya. Akibatnya, kekuatan mereka jauh lebih terbatas. Palmiho tidak bisa mengubah atau menukar takdir besar, dan hanya mampu memengaruhi hal-hal kecil di sekitar mereka.
4. Hubungan dengan dunia manusia

Gumiho sudah mampu beradaptasi penuh dengan kehidupan manusia. Mereka bisa hidup di kota, memahami norma sosial, dan bahkan menjalani kehidupan modern tanpa kehilangan kendali.
Berbeda dengan itu, Palmiho cenderung hidup terisolasi di alam, seperti gunung atau hutan. Kedekatan mereka dengan alam menunjukkan bahwa sisi hewani masih dominan, sehingga interaksi dengan manusia pun sangat terbatas dan penuh kehati-hatian.
5. Tujuan akhir dan pilihan hidup

Gumiho berada di tahap di mana mereka harus memilih, tetap mempertahankan keabadian atau menjadi manusia seutuhnya. Pilihan ini bersifat final dan sarat konsekuensi.
Sementara, Palmiho belum sampai pada fase memilih. Tujuan utamanya masih mengumpulkan kebajikan dan menyempurnakan diri agar bisa naik ke tahap berikutnya. Artinya, Palmiho masih mengejar takdir, sementara gumiho justru berhadapan langsung dengannya.
Singkatnya, Gumiho dan Palmiho memang berasal dari akar yang sama, tetapi berada di tahap evolusi yang berbeda dalam cerita drakor No Tail to Tell. Gumiho adalah pengendali takdir yang telah melampaui naluri, sementara Palmiho masih berada di fase transisi, setengah spiritual, setengah naluriah.

















