5 Kegamangan Kang Da Wit di Ending Drakor Pro Bono

Menjelang akhir drama Korea Pro Bono, Kang Da Wit (Jung Kyoung Ho) berdiri di titik paling rapuh dalam hidupnya. Setelah melalui perjalanan panjang sebagai hakim, tersingkir karena konspirasi, lalu bangkit sebagai pengacara pro bono, ia justru kembali dihadapkan pada pilihan yang menguji seluruh keyakinannya tentang hukum dan keadilan. Ending drama ini tidak menyajikan kemenangan sederhana, melainkan pergulatan batin yang kompleks dan menyakitkan.
Kegamangan Kang Da Wit bukan semata konflik eksternal, melainkan benturan antara ambisi lama, trauma masa lalu, dan nilai moral yang telah tumbuh bersama tim pro bono. Semua yang dulu ia kejar kini datang kembali dengan wajah yang berbeda, memaksanya bertanya pada diri sendiri: apakah kekuasaan masih layak diperjuangkan jika harus dibayar dengan hati nurani? Dari sinilah muncul lima kegamangan besar Kang Da Wit di ending Pro Bono yang menentukan arah hidupnya selanjutnya.
1. Tawaran jabatan hakim agung dari Oh Gyu Jang

Godaan terbesar datang ketika Oh Gyu Jang (Kim Kap Soo) menawarkan posisi hakim agung kepada Kang Da Wit. Tawaran ini adalah mimpi lama yang dulu hampir ia raih sebelum kariernya runtuh.
Secara rasional, posisi tersebut memberinya kesempatan memperbaiki sistem dari dalam dan memulihkan reputasi yang tercoreng. Namun secara moral, tawaran itu datang dari sosok yang justru menjadi dalang manipulasi hukum selama bertahun-tahun. Kang Da Wit terjebak antara ambisi lama dan kesadaran bahwa jabatan tersebut lahir dari sistem yang busuk.
2. Ingatan akan pesan ibunya tentang jalan yang benar

Di tengah godaan kekuasaan, Kang Da Wit kembali teringat pesan ibunya yang selalu menekankan pentingnya berjalan di jalan yang benar, meski sunyi dan penuh luka. Pesan sederhana itu menjadi jangkar moral yang menahan langkahnya.
Ibunya adalah sosok yang berjuang keras menyekolahkannya demi satu harapan, anaknya menjadi penegak hukum yang jujur. Ingatan ini membuat Kang Da Wit bertanya, apakah menerima jabatan hakim agung justru mengkhianati pengorbanan ibunya selama ini.
3. Pergantian hakim ketua yang memanaskan sidang gugatan

Kegamangan Kang Da Wit semakin dalam ketika sidang gugatan terhadap dirinya memanas akibat pergantian hakim ketua. Perubahan ini bukan sekadar teknis, melainkan sinyal bahwa ruang sidang kembali menjadi arena kepentingan politik.
Kang Da Wit menyadari betapa rapuhnya keadilan ketika struktur kekuasaan ikut bermain. Situasi ini menghidupkan kembali traumanya sebagai mantan hakim yang pernah terjebak di tengah pusaran politik hukum.
4. Kenyataan pahit tentang mentor yang ia hormati

Hakim Agung Shin Jung Seok (Lee Moon Sik), sosok yang dulu ia hormati dan jadikan panutan, terbukti hanyalah pejabat korup yang berkolusi demi kepentingan pribadi. Fakta ini menghantam Kang Da Wit secara emosional.
Ia bukan hanya kehilangan figur mentor, tetapi juga kehilangan kepercayaan pada sistem yang membentuknya. Kegamangan ini membuatnya mempertanyakan, apakah ia ingin kembali menjadi bagian dari dunia yang membesarkan orang-orang seperti Shin Jung Seok.
5. Penjahat yang saling melindungi di ruang sidang

Puncak kegamangan Kang Da Wit muncul saat ia menyaksikan bagaimana para penjahat saling menutupi kesalahan, bahkan di ruang sidang yang seharusnya menjadi simbol keadilan. Fakta bahwa hukum bisa dipelintir bersama-sama oleh mereka yang berkuasa membuatnya muak sekaligus lelah. Di titik ini, Kang Da Wit sadar bahwa melawan sistem dari dalam sering kali berarti ikut terseret dalam lumpur yang sama, bukan membersihkannya.
Kegamangan Kang Da Wit di ending Pro Bono bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan moral seorang penegak hukum yang telah melihat wajah asli sistem yang ia layani. Ia tidak lagi memilih jalan berdasarkan ambisi atau gengsi, melainkan berdasarkan nilai yang ingin ia pertahankan sebagai manusia. Melalui konflik batin Kang Da Wit, Pro Bono menutup ceritanya dengan pesan getir bahwa keadilan sejati sering kali menuntut keberanian untuk melepaskan kekuasaan, bukan merebutnya.


















