5 Poin yang Membuat Se Na Bertahan jadi Pengacara Ra Ik di Idol I

Menjadi kuasa hukum Do Ra Ik (Kim Jae Young) bukan keputusan mudah bagi Maeng Se Na (Sooyoung) dalam darkor Idol I. Sejak awal, pilihan ini menempatkannya pada posisi paling rentan, disorot publik, diragukan integritasnya, dan terjebak konflik batin sebagai pengacara sekaligus fangirl. Banyak alasan yang seharusnya cukup untuk membuat Maeng Se Na mundur, mulai dari tekanan media hingga sistem hukum yang tidak berpihak. Namun alih-alih menyerah, ia justru bertahan hingga akhir.
Idol I dengan sengaja tidak menggambarkan keteguhan Maeng Se Na sebagai heroisme instan. Keputusannya untuk tetap berada di sisi Do Ra Ik lahir dari proses panjang yang melelahkan, penuh keraguan, dan sering kali menyakitkan. Ada alasan-alasan personal dan profesional yang membuatnya terus melangkah, meski setiap langkah membawa risiko baru. Berikut lima poin utama yang membuat Maeng Se Na bertahan sebagai pengacara Do Ra Ik.
1. Keyakinan awal bahwa ada ketidakadilan dalam kasus ini

Maeng Se Na sejak awal merasakan ada sesuatu yang tidak beres dalam penetapan Do Ra Ik sebagai tersangka. Tuduhan yang terlalu cepat, minimnya bukti konkret, serta arah penyelidikan yang terasa dipaksakan membuat naluri hukumnya terusik.
Keyakinan ini bukan sekadar pembelaan emosional sebagai fangirl, melainkan respons profesional terhadap proses hukum yang timpang. Selama ketidakadilan itu belum dibongkar, Maeng Se Na memilih untuk tidak pergi.
2. Tanggung jawab moral terhadap klien yang terisolasi

Do Ra Ik berada dalam kondisi paling rentan, sendirian, dibenci publik, dan kehilangan kepercayaan terhadap siapa pun. Bagi Maeng Se Na, mundur berarti meninggalkan kliennya di tengah sistem yang sudah memvonisnya bersalah.
Rasa tanggung jawab moral inilah yang membuatnya bertahan. Ia sadar bahwa kehadirannya bukan hanya soal pembelaan hukum, tetapi juga satu-satunya jangkar rasional bagi Do Ra Ik.
3. Dorongan profesional untuk menguji batas integritas diri

Kasus ini menjadi ujian terbesar bagi integritas Maeng Se Na sebagai pengacara. Bertahan berarti menghadapi biasnya sendiri, menantang etika profesi, dan terus mempertanyakan motif pribadinya.
Namun, justru di situlah Maeng Se Na menemukan alasan untuk tetap melanjutkan. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu memisahkan perasaan dan fakta, tanpa menyangkal keberadaan emosi itu sepenuhnya.
4. Kesadaran bahwa mundur tidak akan menghentikan kerusakan

Maeng Se Na memahami bahwa jika ia mundur, narasi yang sudah terlanjur dibangun tidak akan runtuh dengan sendirinya. Media tetap akan menyerang, jaksa tetap akan mendorong dakwaan, dan publik tetap akan menghakimi.
Bertahan menjadi satu-satunya cara untuk setidaknya memperlambat, atau bahkan membalikkan, kerusakan yang terjadi. Ia memilih berada di dalam pusaran konflik daripada menjadi penonton yang pasif.
5. Pencarian kebenaran sebagai bentuk penebusan pribadi

Di balik semua alasan rasional, ada kebutuhan personal yang tidak bisa diabaikan. Sebagai fangirl, Maeng Se Na menyadari bahwa selama ini ia hanya mengenal Do Ra Ik dari kejauhan, tanpa benar-benar memahami penderitaannya.
Bertahan sebagai pengacaranya menjadi bentuk penebusan, bukan untuk menyelamatkan idolanya, tetapi untuk memastikan bahwa kebenaran, apa pun bentuknya, akhirnya terungkap. Selama kebenaran belum ditemukan, Se Na merasa belum pantas untuk pergi.
Pada akhirnya, keteguhan Maeng Se Na di Idol I bukan tentang kesetiaan buta, melainkan tentang keberanian bertahan di tengah ketidakpastian. Ia tidak selalu yakin, tidak selalu kuat, dan tidak selalu benar. Namun, justru karena itulah keputusannya untuk tetap menjadi pengacara Do Ra Ik terasa manusiawi dan relevan di dunia yang terlalu cepat menyerah pada penghakiman.


















