5 Premis Choi Se Jin yang Membentuk Konflik di Spring Fever

Choi Se Jin (Lee Jae In) hadir dalam drama Korea Spring Fever sebagai karakter remaja yang sekilas tampak antagonis, tetapi sebenarnya menyimpan lapisan emosi yang kompleks. Ia bukan sekadar rival di lingkungan sekolah, melainkan representasi dari tekanan, kecemburuan, dan rasa kesepian yang kerap tersembunyi di balik prestasi akademik.
Sejak kemunculan perdananya, Spring Fever menempatkan Choi Se Jin sebagai tokoh yang berpotensi memicu konflik, baik bagi Sun Han Gyul (Jo Joon Young) maupun Yoon Bom (Lee Joo Bin) sebagai wali kelas. Berikut lima premis utama Choi Se Jin yang menjadi fondasi karakternya dan menjelaskan mengapa ia kerap bersikap keras serta sulit disukai.
1. Siswi pintar yang selalu terjebak di posisi nomor dua

Choi Se Jin dikenal sebagai salah satu siswa terpintar di sekolahnya. Nilai akademiknya tinggi, cara berpikirnya kritis, dan ia selalu tampil percaya diri saat berdiskusi di kelas. Namun, semua pencapaian itu terasa hambar karena hampir selalu berakhir di posisi kedua.
Berada di peringkat dua secara terus-menerus membuat Choi Se Jin hidup dalam bayang-bayang pencapaian orang lain. Premis ini menanamkan rasa frustrasi mendalam, karena sekeras apa pun ia berusaha, hasil akhirnya tetap terasa tidak pernah cukup.
2. Selalu kalah dari Sun Han Gyul

Sumber utama rasa kalah Se Jin adalah Sun Han Gyul, siswa berprestasi yang nyaris selalu unggul darinya. Kekalahan ini bukan hanya soal nilai, tetapi juga pengakuan dari guru dan lingkungan sekolah.
Bagi Se Jin, Sun Han Gyul menjadi simbol kegagalannya sendiri. Premis ini memperlihatkan bagaimana persaingan akademik yang tidak sehat bisa berkembang menjadi konflik emosional yang lebih dalam, bahkan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
3. Anti-fan di tengah kekaguman massal

Saat sebagian besar siswi mengagumi Sun Han Gyul sebagai siswa teladan, Choi Se Jin justru mengambil posisi sebaliknya. Ia menjadi anti-fan yang vokal, sering meremehkan, dan tidak ragu menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan.
Sikap ini bukan sekadar benci tanpa alasan, melainkan bentuk pertahanan diri. Dengan menolak mengagumi Sun Han Gyul, Choi Se Jin berusaha melindungi harga dirinya yang terus tergerus oleh perbandingan.
4. Tumbuh dengan orang tua yang sibuk

Kehidupan keluarga Choi Se Jin jauh dari hangat. Ayahnya adalah seorang gubernur yang sibuk mempersiapkan kampanye untuk periode kedua, sementara perhatian orang tua lebih banyak tersedot pada urusan politik.
Premis ini menjelaskan mengapa Choi Se Jin sering merasa sendirian dan tidak dipedulikan. Ketika rumah tidak menjadi tempat aman untuk menyalurkan emosi, sekolah pun berubah menjadi arena pelampiasan tekanan batin.
5. Sikap kasar sebagai bentuk pertahanan diri

Choi Se Jin dikenal sering bersikap kasar dan menyebalkan, terutama saat mempertahankan argumennya. Ia cenderung melawan apa pun yang tidak ia sukai tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Sikap ini bukan sekadar karakter buruk, melainkan mekanisme bertahan hidup. Premis ini menegaskan bahwa di balik ucapannya yang tajam, Choi Se Jin adalah remaja yang ketakutan jika kembali merasa kalah dan tidak dianggap.
Melalui lima premis ini, Spring Fever berhasil membangun Choi Se Jin sebagai karakter yang tidak hitam-putih. Drama Spring Fever memperlihatkan bahwa perilaku menyebalkan sering kali berakar dari luka yang tidak pernah benar-benar didengar. Dengan pendekatan emosional yang halus, Spring Fever mengajak penonton memahami bahwa di balik konflik remaja, selalu ada cerita tentang tekanan, kesepian, dan keinginan sederhana untuk diakui.



















