5 Tanda Bloody Flower Bakal Punya Season 2

Ending drakor Bloody Flower itu tipe yang kelihatan “tamat”, tapi tetap nyisain rasa ganjel yang susah diabaikan. Semua konflik besar memang ditutup dengan ledakan emosi yang rapi, tetapi beberapa detailnya sengaja dibiarkan mengambang, seperti pintu yang ditutup pelan-pelan tapi nggak benar-benar dikunci.
Justru dari celah-celah kecil itulah harapan season 2 muncul, bukan karena penonton kurang puas, tapi karena cerita masih punya “utang” yang belum dibayar. Berikut lima tanda paling kuat yang bikin Bloody Flower terasa belum benar-benar selesai, lengkap dengan petunjuk yang bisa jadi fondasi konflik baru di musim berikutnya.
1. Lee Woo Gyeom jatuh, tapi jasadnya tidak pernah ditemukan

Adegan Lee Woo Gyeom (Ryeo Un) ditembak lalu terjatuh ke sungai memang dibuat dramatis, seolah menutup nasibnya dengan satu tembakan final. Namun, begitu polisi tidak menemukan jasadnya, adegan itu langsung berubah status, bukan lagi penutup, melainkan tanda tanya. Dalam dunia drama, jasad yang hilang itu bukan detail kecil, tapi sinyal yang sengaja dinyalakan terang-terangan.
Kalau kematiannya benar-benar pasti, drama biasanya akan menegaskan dengan bukti yang nggak bisa diperdebatkan. Tetapi Bloody Flower memilih jalur sebaliknya, meninggalkan ruang bagi kemungkinan ia selamat, kabur, atau bahkan diselamatkan pihak yang tak terduga. Kalau karakter sebesar Lee Woo Gyeom dibiarkan “menghilang”, itu seperti plot yang memang sengaja disimpan untuk dibuka lagi.
2. Park Han Jun menerima telepon privat dengan suara Lee Woo Gyeom

Telepon dari nomor privat itu bukan sekadar gimmick penutup yang bikin merinding, karena pesan emosionalnya jelas, Lee Woo Gyeom masih ada. Suara di ujung telepon memberi efek yang lebih kuat daripada sekadar teks atau bayangan, karena ia memaksa penonton mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi setelah kejadian di sungai. Momen ini seperti sebuah “kode” yang hanya akan punya makna besar kalau cerita lanjut.
Hal yang bikin adegan ini terasa penting, Park Han Jun (Sung Dong Il) bukan karakter random yang dilempar buat jumpscare. Dia pengacara, sosok yang dekat dengan urusan legal dan rahasia, jadi panggilan itu terdengar seperti awal dari permainan baru, entah permintaan bantuan, ancaman, atau pengakuan. Saat Bloody Flower memilih menutup dengan suara, bukan keheningan, itu biasanya pertanda cerita sedang menyiapkan bab berikutnya.
3. Nasib Chae Jeong Soo setelah ditangkap masih kabur

Chae Jeong Soo (Kwon Soo Hyun) ditangkap memang terlihat seperti kemenangan, tetapi drama ini tidak pernah benar-benar memberi kepastian: apakah ia akan dihukum, dibungkam, atau justru lolos lewat celah hukum. Pimpinan grup medis Cheum jelas bukan tipe tokoh yang tumbang hanya karena borgol, apalagi kalau jaringan dan uangnya masih bernafas. Tanpa kejelasan lanjutan, penangkapannya terasa seperti “awal proses”, bukan akhir masalah.
Dalam cerita dengan tema kekuasaan dan manipulasi, ancaman sering kali tidak mati saat seseorang ditangkap. Justru di titik itu, kekuatan biasanya berevolusi: perang di pengadilan, kesaksian yang dibalik, atau pembongkaran nama-nama yang lebih besar. Jika Bloody Flower mau membangun season 2, Chae Jeong Soo adalah bahan bakar konflik yang tinggal disulut.
4. Konflik Cha Yi Yeon dan ayahnya belum menemukan titik temu

Perselisihan Cha Yi Yeon (Keum Sae Rok) dengan sang ayah itu bukan konflik sampingan, tapi inti moral yang menegangkan karena menyentuh identitas dan loyalitas. Sepanjang cerita, Cha Yi Yeon seperti berjalan di jalur retak, ia seorang jaksa yang percaya pada keadilan, tapi darahnya terikat pada sumber kejahatan. Dan yang bikin penonton tersangkut, drama tidak memberi resolusi yang benar-benar selesai untuk luka mereka.
Kita tidak melihat perdamaian, tidak juga melihat putus total, hanya sisa ketegangan yang belum diputuskan bentuknya. Itu artinya, konflik ini masih punya ruang tumbuh, Cha Yi Yeon bisa semakin keras, atau malah jatuh ke permainan ayahnya dengan cara yang tak disangka. Season 2 akan punya panggung besar kalau konflik keluarga ini diubah jadi perang terbuka, bukan sekadar adu prinsip dalam dialog.
5. Villain utama belum tertangkap, ayah Cha Yi Yeon masih bebas

Ini yang paling terang dan paling “tidak selesai”, villain utamanya belum tetangkap. Ayah Cha Yi Yeon, sebagai pimpinan firma hukum ternama, bukan hanya antagonis, tapi otak yang bisa membengkokkan sistem dari dalam. Selama ia masih bebas, semua kemenangan terasa rapuh, karena akar masalahnya masih berdiri tegak.
Drama ini juga sudah memberi gambaran bahwa ia bukan pelaku yang akan jatuh dengan mudah, sebab senjatanya bukan sekadar kekerasan, melainkan pengaruh, koneksi, dan legalitas yang dipelintir. Ketika antagonis utama dibiarkan berkeliaran, itu seperti cerita yang sengaja menyimpan “bos terakhir” untuk bab berikutnya. Kalau season 2 terjadi, ayah Cha Yi Yeon punya potensi jadi pusat badai yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Di titik ini, Bloody Flower terasa seperti menutup satu lingkaran sambil diam-diam menggambar lingkaran yang lebih besar di belakangnya, sehingga semua petunjuk yang ditinggalkan bukan sekadar pemanis, melainkan jembatan menuju konflik baru yang lebih tajam dan lebih berbahaya. Kalau benar ada kelanjutannya, season 2 Bloody Flower kemungkinan akan bergerak dari kisah bertahan hidup menjadi perang strategi yang lebih rapi, karena tokoh-tokoh kuncinya belum benar-benar selesai dengan rahasia, dendam, dan permainan kuasa yang mereka mulai sendiri.


















