7 Detail Persidangan Kang Da Wit yang Terungkap di Ending Pro Bono

Salah satu momen paling dinanti di episode ending Pro Bono akhirnya tiba lewat persidangan Kang Da Wit (Jung Kyung Ho). Setelah serangkaian konflik, tuduhan, dan spekulasi yang menggantung di episode sebelumnya, ruang sidang menjadi tempat di mana potongan kebenaran yang lama terkubur akhirnya muncul ke permukaan.
Kasus yang semula terlihat seperti aksi balas dendam seorang hakim terhadap masa lalunya, perlahan berubah arah. Persidangan ini justru membuka potret gelap sistem hukum, kebohongan yang dibiarkan tumbuh, dan keadilan yang datang terlambat. Berikut tujuh detail penting dari persidangan Kang Da Wit yang akhirnya terungkap.
1. Tuduhan bahwa Da Wit merekayasa sidang runtuh setelah terungkap bahwa foto bekas cup mi yang ia ajukan memang benar milik korban, bukan manipulasi

2. Di saat semua meragukan ibu korban, Da Wit justru menjadi satu-satunya figur otoritas yang mau mendengarkan kesaksiannya

3. Dugaan kekerasan dan kelalaian pabrik bukan asumsi, tapi berasal dari suara korban yang selama ini diabaikan

4. Manajer pabrik terbukti memberi kesaksian palsu, membuat arah persidangan lama sudah timpang sejak awal

5. Terungkap bahwa pintu darurat pabrik sengaja dikunci, bukan rusak seperti klaim sebelumnya, sehingga menutup peluang korban untuk menyelamatkan dir

6. Kebohongan inilah yang membuat putusan lama jadi ringan karena tindakan aktif tak bisa dibuktikan saat itu

7. Pada akhirnya, persadangan menympulkan bahwa meski menyimpan luka pribadi, Da Wit tetap dinilai tidak melanggar prosedur hukum sebagai hakim

Terungkapnya detail-detail ini membuat kasus Kang Da Wit tak lagi bisa dilihat secara hitam-putih. Ia bukan sosok yang sepenuhnya bersih, tapi juga tidak sesederhana figur yang menyalahgunakan kekuasaan demi dendam pribadi.
Lewat persidangan ini, Pro Bono kembali melempar pertanyaan besar kepada penontonnya, jika hukum dijalankan sesuai prosedur tetapi gagal melindungi korban, apakah itu masih layak disebut keadilan? Ending ini menegaskan bahwa kebenaran kadang datang terlambat, dan saat ia akhirnya muncul, yang tersisa bukan hanya jawaban, tapi juga luka yang tak mudah sembuh.


















