7 Tamparan Realitas Dunia Hukum di Ending Pro Bono, Sulit Diabaikan!

Pro Bono akhirnya tamat dengan 12 episode pada 11 Januari 2026. Drama ini memang cukup ramai diperbincangkan di internet, terutama saat diketahui penulisnya adalah seorang mantan hakim, lulusan Seoul National University dan Harvard University.
Bukan soal itu saja, Jung Kyung Ho dan So Ju Yeon juga sukses membawakan drama ini sebagai drama hukum anti mainstream. Di mana latarnya bukan soal profesi hukum saja, melainkan divisi pro bono, divisi yang memang membela klien-klien tanpa biaya sama sekali.
Menyoroti bagaimana hukum seringkali pincang sebelah dari orang lemah, inilah tujuh tamparan realitas dunia hukum yang disajikan dalam ending drama Pro Bono.
1. Hukum bisa sah, tapi tidak selalu adil. Banyak putusan di pro bono yang memang benar secara hukum, tapi menyakitkan secara kemanusiaan

2. Drama ini menekankan, bahwa keadilan tidak selalu berjalan seiring dengan legalitas. Korban bisa tetap kalah karena kalah kuasa, uang, dan posisi

3. Bukan lagi soal kekuasaan, atau memang ada yang 'jahat'. Namun, korban pro bono kalah duluan hanya karena sistem yang tidak ramah pada orang kecil

4. Banyak argumen tim pro bono dinilai tidak logis di ruang sidang. Pengadilan hanya percaya sama bukti, sementara hal selain itu dianggap tabu

5. Keadilan juga bisa dicari dan diperjuangkan, meski datang lewat jalan memutar. Seperti tim pro bono yang bisa menang, meski harus membalik narasi

6. Dunia hukum juga bukan dunia suci meski sistemnya sudah ada. Semua orang yang menjalani sistemnya, seringkali menjadikannya medan kepentingan

7. Keadilan tidak datang dari sistem semata, harus ada intervensi manusia yang berani melawannya, sebagaimana yang dilakukan tim pro bono

Pro Bono tidak menjual mimpi tentang dunia yang adil. Ia justru menampilkan kenyataan pahit tentang hukum yang sering gagal melindungi mereka yang paling membutuhkan perlindungan. Setuju?


















