Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Alasan Ending Drakor Four Hands, Two Sonatas Realistis
Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)
  • Kang Pi O dan Choi Jeong Yo mendapat penyelesaian konflik setelah ambisi orang dewasa memicu kehilangan, dendam, serta luka mereka; Kang Ji Hye mengakui kesalahan dan menerima hukuman.
  • Kang Seung Woon menyadari Pi O sungguh mencintai piano setelah komunikasinya yang keras melukai sang cucu, sementara Ji Hye memahami kebutuhan Pi O akan validasi.
  • Pi O meninggalkan pertunjukan komersial menjadi pianis anonim, sedangkan Jeong Yo memproduksi musik di desa terpencil; keduanya memilih jalur hidup sendiri dan perlahan berdamai dengan luka masa kecil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Drakor Four Hands, Two Sonatas (2026) telah menayangkan episode terakhirnya pada Minggu (4/10/2026) lalu. Cerita perjalanan hidup Kang Pi O (Song Kang) yang penuh luka dan bertemu dengan sahabat masa kecilnya, Choi Jeong Yo (Lee Jun Young). Keduanya harus berhadapan dengan kerumitan hidup karena keputusan orang dewasa.

Penonton setia cukup menantikan eksekusi akhir cerita Kang Pi O dan Choi Jeong Yo yang sangat rumit ini. Meskipun begitu, banyak teori bermunculan mengenai nasib Kang Pi O dan Choi Jeong Yo yang berakhir mengenaskan. Namun, kenapa ending drakor Four Hands, Two Sonatas ini dianggap realistis?

Peringatan, artikel ini mengandung spoiler.

1. Kang Pi O dan Choi Jeong Yo dapat penyelesaian

Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)

Cerita Kang Pi O dan Choi Jeong Yo ini pada dasarnya disebabkan tekanan dan keputusan dari beberapa orang dewasa di sekitar mereka. Kang Pi O harus menghadapi sisi ambisius ibunya, Kang Ji Hye (Yoon Se Ah), dan haus validasi dari kakeknya, Kang Seung Woo (Jung Jin Young). Choi Jeong Yo juga harus menjadi pembanding bagi sosok teman yang sangat dihargainya.

Pada akhirnya, Choi Jeong Yo harus menghadapi bahaya dan kehilangan kemampuannya bermain piano karena keputusan ambisius Kang Ji Hye. Dia bahkan berusaha membalas dendam pada Kang Pi O yang diduga menjadi otak dibalik kejadian buruk tersebut. Seiring berjalannya waktu, Kang Ji Hye mulai menyadari kesalahannya dan mengungkapkannya pada Kang Pi O.

Kang Pi O juga bisa mendapatkan pencerahan mengenai sudut pandang kakek dan ibunya terhadap hidupnya. Dia sadar jika selama ini keduanya terlalu memaksakan kehendak mereka pada anak yang seharusnya dibimbing. Gak hanya itu, Kang Ji Hye juga bertanggung jawab terhadap keputusan masa lalunya dan mendapatkan hukuman.

2. Kang Seung Woon dan Kang Ji Hye sadar akan kesalahan mereka

Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)

Selama ini, Kang Seung Woon merasa Kang Pi O sangat mirip dengannya. Dia akan mengusahakan kesempurnaan namun menghukum diri dengan keras ketika melakukan kesalahan. Kondisi ini membuat Kang Seung Woon ketakutan dan merasa khawatir dengan nasib cucunya di masa depan. 

Sayangnya, cara penyampaian Kang Seung Woon yang memaksa Kang Pi O berhenti bermain piano karena gak punya bakat membuat cucunya tersebut sakit hati. Sejak kecil, dia merasa kakeknya gak pernah memperhatikan dan mengapresiasi segala pencapaiannya. Kondisi ini membuat Kang Ji Hye sebagai ibu juga semakin ambisius membuat anaknya menjadi yang utama dan pertama.

Setelah beberapa kali membuka percakapan dengan Kang Pi O, Kang Seung Woon sadar jika cucunya ini memang sangat mencintai piano. Makanya, Kang Seung Woon mulai bersikap lunak pada cucunya ini.

Gak hanya itu, Kang Ji Hye yang merasa terpojok karena anaknya mengorbankan diri juga mulai mengeluarkan keluh kesahnya terhadap sang ayah. Dia bahkan mengaku jika anaknya hanya butuh validasi yang membuatnya berusaha keras memberikan hal tersebut. Pada akhirnya, Kang Ji Hye menyerahkan diri ke pihak berwajib dan bertanggung jawab atas keputusannya.

3. Kang Pi O dan Choi Jeong Yo memilih hidup atas kemauan pribadi

Cuplikan drakor Four Hands, Two Sonatas (dok.tvN/Four Hands, Two Sonatas)

Rasa cinta Kang Pi O terhadap piano sebenarnya telah muncul sejak kecil. Sayangnya, ambisi dan haus validasi membuatnya salah bersikap terhadap permainan piano itu sendiri. Setelah berhasil menemukan kebahagiaan, Kang Pi O kembali terpuruk karena rasa bersalahnya pada Choi Jeong Yo.

Kondisi ini membuat Kang Pi O memutuskan untuk berhenti melakukan pertunjukan komersial dan memilih berkeliling sebagai pianis anonim. Gak hanya itu, dia juga menyebarkan permainannya di media sosial. Situasi ini jelas merupakan impian Kang Pi O sejak lama. Dia gak hidup penuh sorotan dan ekspektasi banyak orang.

Kondisi yang sama juga dihadapi oleh Choi Jeong Yo. Dia bermain piano untuk menyalurkan emosinya apalagi setelah sang ibu meninggal dunia. Namun, dia juga gak pernah berhenti menghasilkan musik sekalipun berada di tengah kegelapan hidupnya.

Ketika hidup penuh sorotan membuat Choi Jeong Yo sadar jika belum pernah menemukan kebahagiaan kecuali bertemu Kang Pi O. Makanya, dia memutuskan untuk memproduksi musik yang menyebarkan kebahagiaan sekalipun harus tinggal di sebuah desa terpencil.

Perjalanan akhir Kang Pi O dan Choi Jeong Yo ini seakan membuktikan jika mereka telah menemukan kehidupan damai yang selama ini diidamkan. Bahkan, mereka juga perlahan sembuh dan berdamai dari luka mental yang mereka dapatkan sejak kecil. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article