3 Alasan Ending The Scarecrow Sangat Realistis, Sesuai Kenyataan!

- Drama The Scarecrow menutup kisahnya dengan akhir realistis, menggambarkan kasus pembunuhan berantai 1988 di Desa Gangseong yang terinspirasi dari kasus nyata Hwaseong.
- Aparat dan pejabat yang salah tangkap serta menyiksa tersangka tidak mendapat hukuman atau permintaan maaf, mencerminkan kenyataan pahit tanpa dramatisasi.
- Fokus cerita diarahkan pada korban salah tangkap Im Seok Man yang akhirnya dibebaskan dan dipulihkan namanya setelah puluhan tahun dipenjara.
Drama The Scarecrow sudah menyelesaikan penayangannya. Bercerita pembunuhan berantai 1988 di Desa Gangseong, akhir dari kasus ini menyisakan rasa penasaran. Meski sudah tamat, ada beberapa hal yang kurang memuaskan. Misalnya, para pejabat yang terlibat di pengusutan kasus tersebut tidak mendapatkan hukuman setimpal sesuai harapan penonton.
Meski demikian, drama satu ini sebenarnya memiliki ending yang realistis. Apalagi ini based on real case dari kasus Hwaseong yang memakan waktu puluhan tahun. Maka penyelesaiannya disesuaikan dengan kenyataan yang ada. Berikut adalah alasan drama ini berakhir realistis, meski terkesan menggantung. Silakan disimak ulasannya!
1. Tidak ada permintaan maaf dari para pejabat yang terlibat

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, drama satu ini terinspirasi dari kasus nyata di Hwaseong. Kasus ini sempat membuat kepolisian frustasi pada saat itu dan membutuhkan waktu penyelesaian puluhan tahun sampai akhirnya sang pelaku mengakui perbuatan kejinya.
Sama seperti kisah nyatanya, dalam drama ini juga diceritakan bahwa aparat kepolisian dan kejaksaan telah berbuat gegabah. Misalnya, salah tangkap pelaku dan melakukan pengancaman serta penyiksaan pada orang tersebut. Bahkan korban salah tangkap ini harus merasakan dipenjara puluhan tahun dan hidupnya menjadi hancur. Mirisnya, aparat yang melakukan kekejaman itu tidak mendapat hukuman setimpal bahkan terus menerus mengelak dan tidak ada permintaan maaf sama sekali. Sesuai dengan kenyataannya, lho!
2. Tidak ada karma setimpal seperti drama atau film lain

Di awal episode penonton dibuat fokus dengan kasus pembunuhan yang terjadi di masa lalu dan penanganan yang buruk dari para pejabat yang keji. Intrik politik dan manipulasi hukum terjadi sama seperti kenyataan. Kemudian, di akhir episode penonton mengharapkan adanya keadilan bagi korban di masa lalu dan hukuman setimpal bagi para pelaku kejahatan.
Namun, semua hanya jadi angan-angan saja. Pasalnya, para pelaku yang duduk di pemerintahan atau pun yang sudah pensiun tidak menerima hukuman itu dengan alasan kasusnya sudah kadaluarsa. Jadi, karma yang tidak setimpal ini memang disesuaikan dengan kenyataan yang ada, ya, dan tidak ada unsur dramatisir untuk penyelesaiannya.
3. Cerita berfokus pada korban

Akhir drama ini lebih berfokus pada korban. Misalnya, korban salah tangkap bernama Im Seok Man (Jeon Suk Chan) harus mendekam di penjara selama 30 tahun. Padahal ia tak melakukan pembunuhan berantai itu. Kemudian, dengan peninjauan kembali, ia bisa membersihkan namanya dan pengadilan pun meminta maaf secara langsung. Nah, kisah ini sama seperti aslinya. Di mana korban salah tangkap dalam kasus Hwaseong juga sudah bebas dan dinyatakan tak bersalah meski harus dipenjara puluhan tahun.
Dibuat ending seperti ini karena tim dari drama memang berfokus pada korban. Tidak ada yang dilebih-lebihkan atau didramatisir. Jika ingin lebih sensasional dan mengikuti prediksi penonton, ending-nya bisa lebih dari ini.


















