7 Cara Raja Melindungi Saeng Gang dari Bahaya di The East Palace

Raja (Cho Seung Woo) dalam drama Korea The East Palace punya banyak rahasia kelam. Orang mengenalnya sebagai raja yang naik takhta karena kutukan arwah. Sebab, semua kakaknya dirumorkan tewas karena kutukan satu per satu hingga tersisa dirinya seorang.
Meskipun lekat dengan citra negatif, Raja adalah sosok ayah yang menyayangi putrinya, Saeng Gang (Roh Yoon Seo). Raja berusaha melindungi Saeng Gang karena tahu posisi mereka gak aman, tapi caranya sering disalahartikan. Berikut adalah lima cara yang dipilih Raja untuk melindungi Saeng Gang dalam cerita The East Palace.
1. Karena Saeng Gang lahir dengan kemampuan mendengar suara arwah, Raja memberinya lonceng untuk menghalau suara-suara itu agar ia tak takut

2. Raja tahu bahaya yang bisa datang begitu orang mengetahui kemampuan Saeng Gang, jadi ia mencoba memperingatkan putrinya untuk tutup mulut

3. Ketika situasi kacau karena Ibu Suri menuduh ibu Saeng Gang atas benda terlarang di gudang garam, Raja memutuskan untuk mengusir mereka dari istana

4. Menjauhkan Saeng Gang dari istana menjadi pilihan Raja karena Ibu Suri sudah pasti akan terus mengganggunya karena dianggap sebagai ancaman

5. Sebelum itu, Saeng Gang kecil sudah dibekali kemampuan memanah oleh Raja terlepas dari statusnya sebagai putri kerajaan

6. Bagi Raja, mencegah Saeng Gang mendengar fakta kematian Putra Mahkota adalah pilihan yang tepat karena membahayakan diri untuk menguliknya

7. Meski berlika-liku, pada akhirnya Raja membiarkan putrinya keluar istana bersama Gu Cheon karena hanya dia yang bisa melindungi Saeng Gang

Raja memang sudah dibutakan oleh kekuasaan setelah semua yang dilaluinya dalam cerita The East Palace. Namun, kasih sayangnya sebagai ayah terhadap Saeng Gang masih tersisa. Hanya saja hubungan mereka terlanjur merenggang usai tuduhan palsu dilayangkan kepada istri Raja sekaligus Ibu Saeng Gang. Meskipun ada niat untuk melindunginya, Saeng Gang tidak bisa memandangnya secara positif. Ia hanya melihat tindakan ayahnya sebagai wujud dari ketamakan seorang penguasa.





















