Sebagai seorang Psikolog Klinis, Putri Aisya Pahlawani beranggapan, “Adalah sesuatu yang wajar ketika seseorang sedang merasa tidak nyaman, aman mencari tempat yg lebih aman dan nyaman. Secara alamiah tentu seperti ini. AI hadir salah satunya memfasilitasi hal ini.”
[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)
Jakarta, IDN Times - Kehilangan seseorang bukan hal yang mudah. Selain kehadiran fisik, rutinitas pun hilang. Namun, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi pemantik untuk menciptakan percakapan seolah orang tersebut masih ada. Bahkan, kecanggihan AI pun bisa membuat foto seolah hidup dan nyata.
Kecerdasan buatan bukan sembarang teknologi. Kini, AI menjadi bagian umum dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang terus berkembang seiring waktu. Buat Gen Z dan Milenial, AI bukan sekadar alat bantu untuk mempermudah pekerjaan sehari-hari.
Kedua generasi itu tumbuh berdampingan dengan perkembangan internet dan teknologi. Meski begitu, Gen Z dan Milenial tetap punya kebutuhan untuk didengar tanpa takut dihakimi. Ketika lingkungan sekitarnya tak selalu mampu menyediakan ruang itu, maka mereka menjadikan AI sebagai tempat bercerita dan mencari validasi.
Itulah mengapa muncul fenomena curhat dengan chatbot AI di kalangan muda. Sejumlah riset yang dijelaskan dalam jurnal “The algorithm of friendship: literature review and integrative model of relationships between humans and artificial intelligence (AI) (2025)” ini menunjukkan adanya hubungan emosional yang tercipta antara manusia dengan AI.
Sayangnya, ketergantungan seseorang terhadap AI bisa menimbulkan dampak dan risiko tertentu. Lantas, bagaimanakah AI mengambil alih kehidupan Gen Z dan Milenial? Apakah AI sekadar teknologi atau sudah menjadi teman emosional?
1. Demografi responden survei

Fenomena curhat pada AI ini kembali ditelusuri oleh IDN Times melalui survei yang berlangsung selama Januari-April 2026. Jajak pendapat yang disebar secara daring ini berhasil menghimpun data dari 183 responden terkait pandangan mereka terhadap fenomena curhat pada AI.
Mayoritas responden adalah perempuan dengan persentase 67,2 persen. Sedangkan laki-laki hanya 32,8 persen. Responden menyasar seluruh wilayah di Indonesia tetapi sebanyak 77 persen berasal dari Jawa. Disusul pulau Sumatera (12 persen), Kalimantan (4,4 persen), dan Sulawesi (3,3 persen).
Sebagian besar (57,9 persen) merupakan Gen Z yang lahir pada tahun 1997-2012. Sedangkan 42,1 persen lainnya adalah responden Milenial yang lahir pada tahun 1981-1996. Dari kedua generasi ini, 81,1 persen Gen Z pernah curhat ke AI dibandingkan 63,6 persen Milenial. Hal ini menunjukkan bahwa kedua generasi ini memang tumbuh bersama dengan teknologi dan menggunakan AI sebagai ruang untuk berbagi.
Ada banyak AI tools yang bisa dipakai. Sebanyak 72,7 persen responden menggunakan Chat GPT dan 19,1 persen lainnya memilih Gemini. Dibanding Milenial, ada 69,8 persen Gen Z yang setiap hari menggunakan AI tools tersebut.
AI mulai terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pekerjaan. Hal ini ditunjukkan melalui data dari Microsoft & LinkedIn dalam Work Trend Index 2024 yang menyebut 75 persen pekerja dari 31 negara menggunakan AI dalam pekerjaannya.
2. Bukan sekadar alat bantu, AI juga menciptakan ruang emosional

Sebagai alat bantu, AI sangat fungsional dalam membantu seseorang. Dari jajak pendapat yang disebar oleh IDN Times mengungkapkan 77,6 persen responden merasa AI sangat membantu mereka untuk mencari jawaban atau penjelasan seperti belajar maupun bertanya tentang istilah atau suatu konsep yang belum paham.
Sebanyak 58,5 persen responden pernah meminta saran, pandangan, atau mencari validasi terkait overthinking, hubungan, karier, keputusan hidup, dan lain-lain. Menurut 53,6 persen responden, AI sangat membantu dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan. AI juga digunakan untuk merencanakan sesuatu, mencari rekomendasi, dan membantu hal-hal teknis. Dari data survei juga diketahui bahwa ada 45,4 persen responden yang memanfaatkan AI untuk curhat ringan atau refleksi diri.
AI bukan sekadar mesin pencari. Nyatanya, AI bisa menciptakan ikatan emosional dengan penggunanya. Hal ini ditandai dengan 73,8 persen responden yang mengaku bahwa mereka pernah curhat ke AI.
3. Banyak orang curhat ke AI dilatarbelakangi kurangnya perasaan aman

Lebih dari 70 persen orang mengaku pernah curhat ke AI. Topik terbesar yang biasa mereka sampaikan ke AI meliputi overthinking atau kecemasan, karier dan masa depan, hingga burnout atau kelelahan mental. Hampir semua aspek kehidupan bisa diceritakan kepada AI.
Lantas, mengapa mereka memilih curhat ke AI daripada manusia? Data survei mengungkapkan fakta bahwa ada 43,7 persen responden merasa lingkungan sekitar kurang menyediakan ruang aman untuk menuangkan cerita, curhatan, keluh kesah. Gak ada wadah yang tepat untuk menyalurkan apa yang responden pikirkan dan rasakan.
Dari segi psikologis, Putri menjelaskan bahwa ruang aman adalah ruang di mana kita bisa menjadi diri sendiri, bebas berekspresi, berpendapat, tanpa buru-buru dikoreksi. Terkadang, manusia hanya butuh penerimaan bahwa begitulah mereka apa adanya.
“Ada kalanya keluarga dan teman hadir secara fisik, namun tidak secara emosional. Entah karena mereka mungkin judging, atau beberapa klien merasa sungkan/tidak enak untuk merepotkan keluarga/teman dengan cerita mereka. Apalagi topik yang berulang,” sambungnya.
Hal yang sama juga dijelaskan oleh Sri Rahayu Setiani, Gen Z yang berasal dari pulau Jawa ini berpendapat, “Kemungkinan ketika di real life seseorang tersebut mengalami hal yang tidak diinginkan seperti tidak didengar, dihakimi, atau bahkan dianggap berlebihan sehingga salah satu solusi yang seseorang itu pikirkan adalah curhat ke AI yang mana bisa membawa 'ruang aman'.”
Mayoritas responden yang curhat ke AI merasa nyaman dengan hal tersebut karena merasa tidak dihakimi (68,9 persen). Perasaan ini juga yang dirasakan oleh responden asal pulau Jawa, Sisilia Selestkha K Gustie.
"Aku pakai Chat GPT buat curhat sambil berusaha kembali mengoreksi diri sendiri, apa yang harus aku ubah. Tapi, aku juga masih rajin berdoa dan melanjutkan hobi. Hanya agak kecewa dengan orang-orang yang gak pernah mengerti perasaan lebih dalam lagi, jadinya salah paham terus,” ujarnya.
Bagi beberapa orang lainnya, curhat ke AI dirasa nyaman karena privat (54,8 persen) dan selalu tersedia (73,3 persen), dan tidak merepotkan (44,4 persen).
Dari sudut pandang seorang Milenial bernama Aliya, ia mengatakan, “Kebanyakan anak muda sekarang 'sensitif' terhadap 'judgement' yang diterima saat lagi curhat. Jadi, AI dianggap sebagai ruang aman tanpa penghakiman, karena AI justru memberi support dan solusi.”
Itulah mengapa mereka lebih memilih AI. Kecenderungan seseorang untuk curhat ke AI dipengaruhi oleh kebutuhan akan ruang aman. Survei menunjukkan 88 persen responden yang kurang mendapatkan ruang aman dari lingkungannya, memilih untuk curhat ke AI.
Putri menuturkan, “Hal yang sebenarnya mereka inginkan adalah perasaan didengar. Bahwa apa yang dia sampaikan bisa diterima tanpa buru buru mengoreksi. Kadang ketika kita sedang dalam kondisi emosional tinggi, fakta apapun "belum" bisa masuk, sehingga kita perlu ruang nyaman untuk bercerita/berekspresi tanpa dihakimi itu.”
Di lingkungan nyata, beberapa orang mungkin merasakan kekosongan afeksi. Bagi mereka, ruang aman bukan soal kehadiran seseorang. Ada orang yang selalu hadir tapi gak aktif mendengarkan. Namun, ada pula yang bersedia membuka telinga meski raganya jauh.
Bagi orang yang merasa kekurangan ruang aman, yang mereka butuhkan adalah ruang atau tempat yang tidak menghakimi dan sosok yang selalu tersedia kapan pun. Namun, Gen Z dan Milenial juga beranggapan bahwa curhat ke AI bisa membantu memberikan penjelasan yang lebih komprehensif.
“Saya juga pernah mencoba menggunakan AI, dan AI cukup lihai untuk melihat sudut pandang atau alasan lain yang bisa memvalidasi perasaan kita, yang bahkan kita tidak pikirkan sebelumnya,” ujar Putri.
Di samping itu, mereka merasa curhat ke AI terasa nyaman karena sifatnya lebih privat. Mereka bisa menceritakan hal-hal yang mungkin gak bisa diceritakan kepada orang lain.
4. Perempuan lebih mudah berbagi hal personal & emosional ke AI dibanding laki-laki

Hasil survei menunjukkan bahwa 64,4 persen perempuan lebih mudah berbagi hal personal dan emosional kepada AI dibanding laki-laki. Namun, bukan berarti laki-laki tidak punya beban emosional. Dalam data yang didapatkan IDN Times, ada 48 dari 60 orang laki-laki yang mengatakan bahwa mereka pernah curhat ke AI.
Selama ini beredar narasi bahwa laki-laki kerap tumbuh dengan norma untuk menjadi kuat dan tidak mengeluh. Namun, data ini menunjukkan bahwa laki-laki tetap memiliki emosi dan ruang untuk mengekspresikannya.
Artinya, mereka bukan tidak mau curhat melainkan laki-laki juga butuh ruang agar mereka merasa aman dan bebas dari penilaian. Hal ini sejalan dengan pandangan 44,4 persen responden yang memandang AI lebih objektif. Selain itu, juga ada kemungkinan dari 21,5 persen responden yang merasa mereka tidak punya tempat bercerita baik itu dari teman, keluarga, maupun pasangan.
Jika membahasnya dari segi gender, laki-laki dan perempuan punya ketimpangan soal kebutuhan akan ruang aman. Hasil survei menyebut ada 55 persen laki-laki yang sudah merasa punya ruang aman yang cukup dari lingkungan sekitarnya. Data ini berkebalikan dengan perempuan, 39 persen di antaranya merasa gak punya ruang yang aman untuk curhat.
Temuan tersebut menyingkap suatu pola. Perempuan tampaknya lebih terbuka secara emosional. Di sisi lain, data yang sama memasukkan perempuan ke dalam kelompok yang merasa kurang memiliki ruang aman. Apa artinya? Pola ini merupakan sebab akibat.
Perempuan kerap menanggung beban emosional berlebih, terlebih mereka sering berperan ganda dalam kehidupan sehari-hari. Sisi lembut dan penuh empati dari perempuan menimbulkan ekspektasi bahwa perempuan diharapkan bisa mendengar dan menjadi sandaran.
Padahal, perempuan juga butuh giliran untuk bercerita dan didengar oleh orang lain. Ketika perempuan ingin bercerita, ruang aman itu gak selalu tersedia. Di sinilah AI hadir sebagai teknologi yang membawa ‘hawa baru’. Sebabnya, keterbukaan perempuan kepada AI mungkin merupakan respons terhadap kekosongan itu.
Dalam istilah psikologi, apa yang dialami oleh perempuan ini merupakan emotional labor. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Arlie Hochschild pada tahun 1983 dalam bukunya berjudul The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling. Konsep ini menuntut seseorang mengatur dan “menampilkan” emosi tertentu demi memenuhi ekspektasi sosial atau profesional.
Buruknya, dijelaskan dalam jurnal The impact of emotional labor on mental health: A systematic review and meta-analysis of multi-occupational groups (2025), orang dengan emotional labor yang cukup tinggi juga menunjukkan korelasi positif yang signifikan dengan hasil kesehatan mental negatif secara keseluruhan. Nyatanya, perempuan yang menghadapi tekanan emosional cenderung lebih mudah kehilangan dukungan sosial dan sulit membuka diri.
5. AI punya peran sebagai pemberi saran dan decision maker

Setiap orang punya cara dan alasannya masing-masing mengapa memilih curhat ke AI. Ketika seseorang merasa nyaman untuk bercerita, tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan bertanya, meminta saran, hingga akhirnya meminta AI untuk menentukan berbagai keputusan hidup.
Percakapan kemudian bergeser dari sekadar emosional menjadi konsekuensial, di mana apa yang AI katakan bisa memberikan dampak atau akibat terhadap suatu hal. Data yang dihimpun IDN Times menunjukkan 51,9 persen responden menganggap AI sebagai pemberi saran atau masukan terhadap masalah yang mereka ceritakan.
Contohnya seperti responden asal pulau Jawa bernama Nabila Amalia Supyana. Baginya, AI memberikan pandangan baru untuk melihat dunia yang lebih luas berbasis teknologi data. Namun kenyataannya, keputusan tetap harus kembali kepada individu itu sendiri.
Namun, sebanyak 74,1 persen responden mengaku bahwa AI pernah memengaruhi keputusan hidup mereka. Mayoritas melihat AI sebagai alat bantu tetapi punya peran dalam pengambilan keputusan.
6. Sisi lain dari mereka yang memilih tidak curhat kepada AI

Ada suara lain dari seperempat responden yang memiliki jalan berbeda. Mereka adalah 26,2 persen responden yang memilih untuk tidak berbagi hal-hal personal dan emosional kepada AI. Responden ini punya akses yang sama terhadap teknologi tetapi mereka punya pertimbangan lain mengapa tidak curhat kepada AI.
Bagi mereka, AI adalah teknologi yang digunakan untuk kepentingan teknis seperti mencari informasi atau pengetahuan, tools untuk brainstorming ide, hingga mengerjakan hal-hal yang kompleks seperti coding.
Lantas, apa yang membuat mereka enggan mengutarakan hal-hal personal dan emosional kepada AI? Data survei menjelaskan beberapa alasan di baliknya. Sebanyak 22,9 persen percaya bahwa AI gak bisa memahami emosi manusia. Ketika menghadapi masalah, sebanyak 33,3 persen responden lebih nyaman curhat ke teman atau pasangan.
Pandangan Dina Fadillah Salma (27) memperkuat temuan survei tersebut. Responden termasuk dalam kelompok orang yang memilih tidak curhat ke AI. Menurutnya, AI gak bisa memberikan informasi yang logis dan gak sesuai dengan data.
“Ada kecenderungan ketika curhat ke AI cuma menginginkan validasi dan membuat kita gak kritis terhadap perasaan atau masalah. Kita hanya menggunakan AI untuk memvalidasi perasaan tanpa kita diberi pandangan atau sudut pandang lain terkait masalah tersebut,” tuturnya.
Perempuan yang bekerja sebagai karyawan swasta tersebut mengaku bahwa AI digunakan hanya untuk membantu pekerjaan saja. Soal urusan personal, Dina merasa interaksi sosial yang nyata dengan individu lain itu jauh lebih penting. Menurutnya, manusia punya pengalaman dan sikap yang bisa memberikan pandangan berbeda ketika dirinya menghadapi suatu masalah.
Kelompok yang memilih tidak curhat ke AI bukan berarti tidak punya masalah. Namun, sebanyak 12,5 persen responden merasa cukup dengan cara coping lain. Tapi hanya ada 6,3 persen responden yang memilih untuk konseling profesional ke psikolog. Yang lainnya (20,8 persen), memilih menumpahkan isi pikiran dan perasaannya ke hal lain seperti menulis atau journaling.
Karena tidak curhat ke AI, Dina memilih coping mechanism lain dengan cara journaling dan konseling ke psikolog. Untuk hal-hal tertentu, ia merasa psikolog punya kapasitas dan kapabilitas untuk membantu individu memahami apa yang terjadi pada diri mereka masing-masing.
Sebagai psikolog, Putri mengingatkan untuk terus memantau kesehatan mental masing-masing. Apabila masalah hidup rasanya terlalu berat dan gak bisa diatasi sendiri, ada baiknya meminta pertolongan dari profesional.
Putri menyarankan untuk datang ke profesional seperti psikolog, psikiater, konselor atau terapis apabila ada gejala, “Kalau sudah merasakan gejala yang berdampak pada keseharian, merasa sudah tidak ada efek yang dirasakan ketika berbicara dengan AI atau mulai muncul self harm atau keinginan bunuh diri.”
7. Apa yang didapatkan dan dikorbankan dari fenomena curhat ke AI

Fenomena curhat ke AI gak terlepas dari dampak baik dan buruk. Mungkin hal ini kerap luput dari perhatian banyak orang bahwa AI tidak selamanya memberikan hal-hal positif.
Meski begitu, Putri menyebut AI tetap punya dampak positif yang cukup krusial. Menurutnya dengan curhat ke AI merupakan bantuan krusial saat seseorang belum bisa berkonsultasi secara profesional dengan konselor atau psikolog.
“AI menjadi jalan yang cepat bagi seseorang untuk feel better at that time,” sebutnya.
Sebenarnya Gen Z dan Milenial ini sama-sama sadar akan risiko sosial yang diterima akibat menggunakan AI. Maka dari itu, IDN Times meneliti bagaimana pandangan Gen Z dan Milenial mengenai fenomena ini. Pasalnya, walaupun tahu bahwa AI juga punya risiko atau dampak negatif, Gen Z dan Milenial tetap menggunakannya setiap hari (64,5 persen).
Temuan survei menunjukkan sebab akibat yang dialami Gen Z dan Milenial ketika mereka curhat ke AI. Mayoritas responden setuju terlalu sering curhat ke AI bisa menjauhkan dirinya dari orang lain dan menjadi pribadi yang tertutup. Di samping itu, mayoritas responden juga merasa bahwa respons AI gak bisa sepenuhnya memahami seluruh konteks hidup manusia.
Sejalan dengan data tersebut, Putri juga setuju, “Dampak yang negatif adalah kehilangan koneksi dengan orang di kehidupan nyata. Orang di kehidupan nyata memiliki value yang berbeda yang terkadang memperkaya sudut pandang kita. Atau sentuhan lembut secara fisik yang membuat kita nyaman. (AI) Makin menarik diri ke dalam kesendirian.”
Menurut Putri, kita gak boleh sepenuhnya menaruh ekspektasi berlebih dan bersandar pada AI. Suatu teknologi diciptakan untuk memberikan kemudahan. Begitu pun AI yang juga punya banyak jalan atau sudut pandang untuk memvalidasi perasaan yang mungkin sebenarnya salah dan perlu diluruskan.
“Terkadang, jika terlalu bergantung atau percaya (pada AI), kamu kurang bisa melihat sudut pandang yang lain,” lanjut Putri.
Hasil survei mengindikasikan bahwa tidak terdapat kecenderungan yang dominan pada generasi Z dan milenial dalam hal preferensi curhat ke AI, yang tercermin dari proporsi jawaban netral yang cukup signifikan.
Sekitar tiga dari lima responden memberikan penilaian netral, sementara lainnya menganggap AI dapat menjadi alternatif yang lebih nyaman untuk berbagi cerita. Namun demikian, masih ada pandangan agar AI tidak digunakan untuk kepentingan personal yang melibatkan sisi emosional.
8. AI gak bisa menggantikan posisi dan menghilangkan sisi emosi manusia

Mau seberapa canggih AI bekerja, teknologi ini belum bisa menggantikan peran manusia. Temuan lainnya dalam survei ini menyatakan Gen Z dan Milenial sangat setuju bahwa hubungan sosial yang nyata itu lebih penting daripada curhat lewat AI. Mayoritas juga sangat setuju harus ada keseimbangan antara penggunaan AI dengan interaksi sosial di dunia nyata.
Terkait pengambilan keputusan, hanya ada 16,3 persen responden beranggapan bahwa AI bisa menjadi problem solver. Nyatanya, sebagian besar memang merasa perlu perspektif manusia ketika mereka harus membuat keputusan.
Melihat fenomena ini, Putri mengatakan, “Boleh saja (curhat ke AI). Namun perlu diimbangi dengan relasi sehat dengan orang lain secara nyata. Jangan self diagnose atau percaya pada diagnosis AI karena keterangan yang kamu berikan bisa jadi salah, sehingga tentu AI akan menanggapinya dengan salah juga.”
Sejatinya, AI bukan sekadar teknologi. AI menjadi bagian hidup yang bisa menciptakan ikatan emosional dengan penggunanya. Namun, AI belum sepenuhnya bisa memberikan sisi humanis yang manusia butuhkan.
Justru dari riset kecil ini, mulailah merefleksikan diri. Bukan soal "apakah kita terlalu bergantung pada AI?" tetapi "apa yang harus kita benahi supaya manusia tidak perlu mencari mesin untuk sekadar merasa didengar?"


![[QUIZ] Dari Karakter Masha and The Bear, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega!](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_a69e752741ecb28c67ff3a7d88570426_5f9dbad1-24e0-4b05-9d9a-0c3d2cd57d3c.png)















