3 Diskriminasi Pekerja di Love Scout dan Motel California

Diskriminasi memang kerap muncul di mana saja, gak terkecuali tempat kerja. Selain itu, faktor budaya dan sosial membuat diskriminasi masih menjamur hingga saat ini. Kondisi ini juga terjadi dan digambarkan dalam beberapa drama Korea Selatan, lho.
Love Scout (2025) dan Motel California (2025) jadi dua drakor yang turut menggambarkan diskriminasi para pekerja. Kedua drakor ini memang punya latar belakang cerita yang cukup berbeda. Namun, baik drakor Love Scout dan Motel California juga mengangkat satu tema yang sama, yakni mengenai pekerjaan dan karier.
Keduanya juga membahas kesulitan para pekerja untuk bisa mempertahankan dan mengejar mimpi-mimpinya. Lalu, apa saja diskriminasi pekerja yang digambarkan di drakor Love Scout dan Motel California ini?
Peringatan, artikel ini mengandung spoiler.
1. Meremehkan kemampuan seseorang hanya karena lulusan kampus pinggiran

Yu Hye In (Park Yoo Rim) adalah seorang asisten chef terkenal yang kerap malang melintang di acara televisi. Hye In bukanlah lulusan universitas luar negeri. Dia lulusan kampus kecil di Korea Selatan.
Rekan kerjanya meremehkan Hye In karena gelarnya tersebut. Mereka beranggapan jika Hye In gak pantas untuk bisa jadi asisten utama chef Heo Joon Seok (Han Jeong Won). Kariernya juga diawali sebagai waiters di salah satu hotel.
Hal ini juga dialami oleh Ji Kang Hee (Lee Se Young). Ji Kang Hee kuliah interior desain di kampus pinggiran Korea Selatan. Selama ini, dia terpaksa bekerja kasar karena lamarannya banyak tertolak.
Pada akhirnya, banyak agensi desain interior yang hanya melihat lulusan kampus ternama dari Korea Selatan maupun luar negeri. Kondisi ini membuat hidup Ji Kang Hee berada diambang kemiskinan.
2. Gak memberi tempat berkembang pada seseorang yang dianggap kurang

Sebagai pekerja, ada kalanya kita gak merasa bisa dalam mengerjakan pekerjaan. Namun, biasanya rekan kerja dan atasan dengan leluasa memberikan kita waktu untuk belajar lebih banyak. Hal ini membuat kita bisa berkembang dari waktu ke waktu.
Hal ini ternyata gak berlaku bagi Yu Hye In. Hye In gak bisa bersosialisasi dengan rekan kerjanya. Hal ini karena rekan kerjanya banyak yang meremehkan gelar dan kemampuannya. Kondisi ini membuat Hye In gak bisa belajar dan berbagi pengetahuan dengan yang lain.
Kondisi ini juga turut dirasakan Ji Kang Hee. Dia gak bisa bekerja di biro interior desain bagus karena kampusnya. Pada akhirnya, dia bekerja di biro kecil yang berurusan langsung dengan konstruksi. Pada akhirnya, Ji Kang Hee dipecat karena melaporkan keterlambatan gaji.
Setelah masuk ke Moment, Ji Kang Hee juga mengalami diskriminasi oleh atasannya. Desain yang dibuatnya dianggap gak linier dengan panduan perusahaan. Padahal, klien telah tertarik dan menyetujui desain tersebut.
3. Memandang rendah perempuan di tempat kerja

Yu Hye In pada akhirnya berhasil bekerja sebagai asisten utama chef. Hal ini disebabkan Hye In tahu jika tangan chef Heo Joon Seok mengalami cedera dan operasi. Akhirnya, tangan tersebut gak bisa digunakan kerja berat.
Hasilnya, Hye In diminta tolong untuk membantu pekerjaan chef. Dia juga sambil belajar memasak dengan chef tersebut. Namun, rekan kerjanya iri dengan pencapaian cepatnya. Dia difitnah menjadi wanita simpanan chef Heo Joon Seok karena hal itu.
Kondisi yang hampir mirip juga terjadi dan dialami oleh Ji Kang Hee. Untuk menyambung hidup, dia bekerja kasar di tempat konstruksi. Namun, manajer konstruksi kerap meremehkan dirinya karena seorang perempuan.
Manajer tersebut bahkan dengan berani memegang bagian tubuh Ji Kang Hee tanpa persetujuannya. Kondisi ini membuat Ji Kang Hee cukup marah dan gerah.
Yang dialami Ji Kang Hee dan Yu Hye Jin ini juga dialami banyak orang di luar sana. Gak hanya itu, saat ini perempuan juga harus menjadi yang terbaik untuk diakui profesionalitasnya. Apakah kamu juga merasakan itu di tempat kerja atau belajarmu?