7 Justifikasi Baek Ki Tae atas Bisnis Narkotikanya di Made in Korea

Bagi Baek Ki Tae (Hyun Bin), bisnis narkotika bukan sekadar kejahatan, melainkan keputusan rasionalnya. Sebagai agen KCIA, ia memahami bagaimana negara bekerja, siapa yang diuntungkan dan siapa yang selalu tertinggal.
Dalam logika Ki Tae, menjual sabu ke luar negeri bukan pengkhianatan, tetapi bentuk pengabdian versi lain. Ia membungkus bagaimana kejahatan bisa dibungkus dengan bahasa nasionalisme, stabilitas, dan kepentingan negara.
Inilah tujuh justifikasi Baek Ki Tae atas bisnis narkotikanya di Made in Korea. Apa saja?
1. Ki Tae meyakini bahwa menjual sabu ke negara lain adalah cara cepat menambah valuta asing. Ia menganggap bisnis ini adalah transaksi ekonomi semata

2. Baginya, negara yang kuat adalah negara yang punya modal besar. Kekayaan pribadi yang ia kumpulkan juga ia lihat sebagai investasi kekuasaan

3. Meski bekerja keras hingga menjadi agen elite KCIA, Ki Tae sadar bahwa jalur resmi tidak akan pernah membuatnya benar-benar sejahtera

4. Dalam pikirannya, sistem hanya menguntungkan segelintir orang di puncak, bukan mereka yang bekerja paling keras

5. Ki Tae tidak menolak moral, ia hanya menganggapnya fleksibel. Jika hasil akhirnya menguntungkan negara dan dirinya, maka cara apa pun dapat dibenarkan

6. Sebagai keturunan Jepang yang tumbuh di Korea dan mengalami diskriminasi, Ki Tae belajar sejak dini bahwa keadilan tidak pernah benar-benar netral

7. Bisnis narkotika jadi jalan keluar dari posisi sosial yang selalu membuatnya kalah. Ia akhirnya bisa menentukan masa depan dirinya dan keluarganya

Made in Korea tidak meminta penonton untuk memaafkan Baek Ki Tae, tetapi memaksa kita memahami logika di balik kejahatannya. Justifikasi Ki Tae memperlihatkan bagaimana nasionalisme, trauma, dan ambisi bisa berubah menjadi alibi yang sebenarnya salah.



















