7 Hal yang Bikin Kasus Prostitusi di Honour Sulit Dilacak, Rumit!

- Jaringan prostitusi terorganisir melibatkan kalangan atas, sulit dihukum karena pengaruh dan perlindungan hukum.
- Aplikasi "Connect In" tertutup dan sulit dilacak, menjadi penghalang utama dalam pengusutan kasus ini.
- Korban dipaksa bungkam oleh ancaman dan tekanan psikologis, kesaksian sengaja dibuat tidak kredibel untuk melindungi pelaku.
Di drakor Honour (2026), tiga pengacara perempuan dari firma L&J (Listen & Join) awalnya menangani kasus pelecehan seksual yang dialami oleh Jo Yoo Jeong (Park Se Hyun). Kasus tersebut awalnya terlihat seperti perkara kekerasan seksua biasa yang melibatkan aktris ternama, sampai perlahan muncul kejanggalan demi kejanggalan yang sulit dijelaskan.
Tanpa disangka, kasus tersebut justru menjadi pintu masuk ke jaringan prostitusi besar yang jauh lebih rumit dan berbahaya. Setiap petunjuk seolah berujung buntu, sementara para pelaku terasa selalu selangkah lebih maju. Lewat perjuangan pengacara L&J, Honour memperlihatkan betapa sulitnya menembus kejahatan yang sudah tertata rapi, terutama ketika korban dipaksa bungkam dan pelaku dilindungi oleh kekuasaan. Lalu, apa sebenarnya yang membuat kasus prostitusi di drama ini begitu sulit dilacak? Ini tujuh alasannya.
1. Jaringannya terorganisir dan melibatkan kalangan atas

Kasus prostitusi di drakor Honour bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari jaringan besar yang sudah berjalan lama. Jaringan ini melibatkan artis, figur publik, dan orang-orang berpengaruh yang punya akses pada kekuasaan, uang, dan perlindungan hukum.
Ketika pelaku berasal dari kalangan atas, proses hukum otomatis jadi timpang. Setiap langkah penyelidikan terasa lebih berat karena berhadapan dengan pengaruh yang tak terlihat, tapi sangat terasa. Inilah alasan kenapa kasus ini seperti selalu lolos dari jerat hukum meski indikasi kejahatannya kuat.
2. Akses tertutup lewat aplikasi misterius

Diketahui bahwa jantung portitusi ini melalui sebuah aplikasi digital yang disebut "Connect In". Keberadaan aplikasi Connect In menjadi salah satu penghalang terbesar dalam pengusutan kasus ini. Aplikasi tersebut tidak muncul di pencarian internet, tidak tercatat secara publik, dan hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu yang sudah diundang.
Sistem tertutup ini membuat jejak digital hampir mustahil dilacak. Bahkan ketika L&J mulai mencurigai keberadaannya, mereka tidak punya pegangan teknis apa pun. Connect In berfungsi seperti ruang gelap, semua tahu ia ada, tapi tak satu pun bisa menunjuk wujudnya dengan jelas.
3. Korban dipaksa bungkam oleh ancaman dan tekanan

Salah satu alasan utama kasus ini sulit dibongkar adalah karena korban memilih diam. Namun kebungkaman ini bukan pilihan bebas, melainkan hasil dari ancaman, ketakutan, dan tekanan psikologis yang terus-menerus.
Drama ini menunjukkan bagaimana korban berada dalam posisi serba salah. Jika bicara, nyawa dan keselamatan mereka terancam. Jika diam, kejahatan terus berulang. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran jadi sesuatu yang mahal dan berbahaya.
4. Kesaksian korban sengaja dibuat tidak kredibel

Dalam kasus Jo Yoo Jeong, kesaksiannya dengan mudah dipatahkan karena dianggap tidak konsisten. Kebohongan kecil yang dipaksakan padanya, seperti soal lokasi pertemuan, langsung digunakan untuk menggugurkan keseluruhan ceritanya.
Strategi ini sangat efektif, karena begitu korban dianggap “tidak jujur”, publik dan hukum berhenti percaya. Padahal, inkonsistensi tersebut justru muncul karena korban berada di bawah tekanan dan manipulasi pihak lain.
5. Pelaku dilindungi oleh citra publik yang bersih

Status Kang Eun Seok (Lee Chang Hyeong) sebagai artis membuat kasusnya sejak awal sudah tidak adil. Citra baik yang dibangun bertahun-tahun menjadi tameng kuat yang melindunginya dari kecurigaan publik.
Di mata masyarakat, korban justru diposisikan sebagai pihak yang mencurigakan. Drama ini dengan tajam menyoroti bagaimana popularitas dan reputasi bisa menjadi alat perlindungan paling ampuh bagi pelaku kejahatan.
6. Ada upaya aktif membungkam pencari fakta

Kematian reporter Lee Jun Hyeok menjadi bukti bahwa ada pihak yang secara aktif menjaga agar kebenaran tidak terungkap. Ia bukan sekadar korban, melainkan peringatan bagi siapa pun yang mencoba menggali terlalu dalam.
Teror, intimidasi, hingga pembunuhan digunakan sebagai alat untuk menutup mulut. Dalam kondisi seperti ini, mengungkap fakta bukan hanya soal kemampuan, tapi juga keberanian menghadapi risiko nyawa.
7. Sistem hukum lebih berpihak pada yang berkuasa

Honour memperlihatkan realita pahit bahwa sistem hukum tidak selalu berpihak pada yang benar. Mereka yang punya uang dan kuasa bisa mengatur narasi, memperlambat proses, bahkan membelokkan kebenaran.
Sebaliknya, korban harus berjuang dua kali lebih keras hanya untuk didengar. Melalui perjuangan pengaraca L&J, drama ini mempertanyakan ulang, apakah hukum benar-benar netral, atau justru ikut menjaga sistem yang timpang?
Kasus prostitusi di Honour sulit dilacak bukan karena kurang bukti, melainkan karena kejahatannya dilindungi oleh sistem yang rapi dan kekuasaan yang besar. Setiap lapisan yang terbuka justru memperlihatkan betapa dalam dan gelapnya jaringan tersebut.


















