Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kritik yang Disorot dari Kasus Na Dae Il di Doctor X: Mafia in White
still cuts drama Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White)
  • Na Dae Il menyalahgunakan kewenangan medis dengan mengukir inisial pada hati pasien tanpa alasan medis, tindakan yang merendahkan martabat serta hak pasien atas tubuhnya.

  • Kasus Kwon Chung Hyeon menggambarkan ketimpangan kuasa: pasien dapat memilih diam karena bergantung pada rumah sakit dan takut menghadapi konsekuensi bagi keluarganya.

  • Meski dikenal berbakat, Dae Il tidak menunjukkan penyesalan dan melukai Su Jeong; ia ditahan, diberhentikan, serta menghadapi upaya pencabutan izin praktik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Drakor Doctor X: Mafia in White (2026) tidak hanya menyuguhkan konflik di lingkungan rumah sakit, tetapi juga menyoroti berbagai persoalan etika dalam dunia medis. Salah satu yang paling mencolok terlihat lewat kasus Na Dae Il (Jang Seung Jo), dokter berbakat yang ternyata pernah mengukir inisial namanya di organ hati pasien.

Bukannya merasa bersalah, Dae Il justru menganggap tindakannya bukan masalah selama pasien tetap hidup dan tidak merasakan sakit. Kasus ini pun membuka sejumlah persoalan yang patut menjadi perhatian, mulai dari penyalahgunaan wewenang hingga hak pasien. Berikut lima kritik yang disorot lewat kasus Na Dae Il!

1. Penyalahgunaan wewenang oleh tenaga medis

still cuts drama Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White)

Sebagai dokter, Na Dae Il memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukan tindakan medis terhadap pasien. Namun, ia justru menggunakan keahliannya untuk mengukir inisial di hati Kwon Chung Hyeon tanpa alasan medis yang jelas, seolah-olah tubuh pasien merupakan miliknya untuk diperlakukan sesuka hati.

Lewat kasus ini, Doctor X: Mafia in White menyoroti bahwa keahlian medis tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk menyalahgunakan kekuasaan. Dokter memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan martabat pasien, bukan memanfaatkan posisi mereka demi kepuasan pribadi.

2. Mengabaikan hak pasien atas tubuhnya sendiri

still cuts drama Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White)

Ketika Su Jeong mengonfrontasinya, Dae Il berdalih bahwa tindakannya tidak bermasalah karena pasien tetap hidup, tidak merasakan sakit, dan tidak bisa melihat ukiran tersebut. Baginya, selama tidak ada dampak yang langsung dirasakan, tindakannya seolah tidak perlu dipermasalahkan.

Padahal, persoalannya bukan hanya soal rasa sakit atau kondisi fisik pasien. Tubuh pasien bukan objek yang boleh diperlakukan tanpa pertimbangan etis, dan tindakan medis harus dilakukan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan serta menghormati hak pasien.

3. Pasien bisa memilih diam karena takut menghadapi konsekuensi

still cuts drama Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White)

Kwon Chung Hyeon sempat memilih untuk melupakan ukiran di hatinya. Sebagai tenaga penjualan farmasi, ia merasa sulit menentang dokter dari rumah sakit besar, terlebih anak keduanya akan segera lahir dan ia berencana menggunakan rumah sakit tersebut untuk persalinan.

Sikap Chung Hyeon memperlihatkan bahwa pasien tidak selalu berada dalam posisi yang nyaman untuk memperjuangkan haknya. Ketimpangan kuasa, ketergantungan pada layanan kesehatan, dan kekhawatiran terhadap keluarga bisa membuat seseorang memilih diam meskipun merasa dirugikan.

4. Reputasi dokter tidak menjamin perilaku yang etis

still cuts drama Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White)

Sebelum kasusnya terungkap, Dae Il dikenal sebagai dokter berbakat dengan citra berhati malaikat. Reputasi tersebut membuatnya terlihat seperti sosok yang bisa dipercaya, padahal ia menyimpan tindakan serius yang bertentangan dengan tanggung jawab profesinya.

Melalui karakter Dae Il, drama ini mengingatkan bahwa kemampuan medis dan citra positif tidak otomatis mencerminkan integritas seseorang. Dokter tidak cukup hanya kompeten dalam menyelamatkan pasien, tetapi juga harus mampu menjaga etika dan menghormati orang yang berada dalam perawatannya.

5. Pelanggaran etika medis membutuhkan pertanggungjawaban yang serius

still cuts drama Doctor X: Mafia in White (dok. SBS/Doctor X: Mafia in White)

Kasus Dae Il menjadi semakin rumit ketika ia tidak menunjukkan penyesalan dan justru menyerang Su Jeong menggunakan pisau bedah hingga melukai lengan kanannya. Akibatnya, ia ditahan polisi dan diberhentikan dari Rumah Sakit Guseo, sementara Direktur Bu Seung Kwon bertekad memperjuangkan pencabutan izin praktiknya secara permanen.

Konflik ini menyoroti pentingnya pertanggungjawaban ketika tenaga medis melakukan pelanggaran serius. Keahlian dan kedudukan seorang dokter tidak seharusnya membuatnya kebal dari konsekuensi, meskipun proses penanganan kasus tetap perlu dilakukan secara adil dan berdasarkan bukti.

Melalui kasus Na Dae Il, Doctor X: Mafia in White menunjukkan bahwa persoalan dalam dunia medis tidak berhenti pada keberhasilan menyelamatkan nyawa. Kepercayaan pasien juga bergantung pada integritas, penghormatan terhadap hak pasien, dan kesediaan tenaga medis untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Sebab, dokter yang kompeten sekalipun bisa menyalahgunakan keahliannya jika mengabaikan etika profesi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article