Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
cuplikan drama Dead-End Job (x.com/NetflixID)
  • Dead-End Job menyoroti sulitnya mencari pekerjaan tetap tanpa koneksi, termasuk risiko penipuan berkedok wawancara dan kerentanan pekerja informal.
  • Serial ini menggambarkan pekerja yang mengabaikan moral demi uang, perusahaan lepas tangan atas kecelakaan kerja, serta pengabaian keselamatan di proyek konstruksi.
  • Kisahnya juga mengkritik kemiskinan ekstrem, mahalnya tempat tinggal, dan senioritas toksik yang melanggengkan perundungan di lingkungan kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dead-End Job merupakan drakor horor dan fantasi yang dibintangi Lee Jae Wook, Go Min Si, Kim Min Ha, Lee Hee Jun, dan banyak artis ternama sebagai kameo. Kisahnya membahas pekerjaan paruh waktu dengan upah tinggi, tapi harus menghadapi ancaman entitas gaib.

Drakor ini tidak mengandalkan jumpscare. Kisah seram setiap fenomena supranatural dalam Dead-End Job justru dibalut dengan beragam kritik sosial yang menohok. Yuk, simak enam di antaranya.

1. Sulitnya mencari pekerjaan tetap

Kim Min Ha dan Lee Hee Jun di Dead-End Job (x.com/NetflixKR)

Kritik sosial pertama yang diangkat dalam Dead-End Job adalah sulitnya mencari kerja, terutama tanpa koneksi. Hal ini tampak dari kesulitan Byeon Hyeok Jun dan adiknya, Byeon Ji Yoon (Kim Min Ha), yang tak kunjung mendapat pekerjaan tetap setelah lulus kuliah. Di tengah keputusasaan itu, Byeon Hyeok Jun bahkan hampir kena scam perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara, tapi ternyata itu skema piramida.

2. Orang bisa gelap mata demi uang

Lee Hee Jun di Dead-End Job (dok. Netflix/Dead-End Job)

Uang memang bukan segalanya, tapi hampir setiap hal butuh biaya. Hal ini yang membuat sebagian orang bisa menjadi gelap mata dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Misalnya, yang dilakukan Mandor (Ko Chang Seok) di episode 6 yang menjebak dan membiarkan banyak pekerja tewas di lokasi konstruksi.

3. Perusahaan menolak membayar kompensasi kecelakaan kerja

Lee Jae Wook dan Lee Suk Hyeong di Dead-End Job (instagram.com/netflixkr)

Di episode 3, Kwak Byeong Cheol (Lee Suk Hyeong) diceritakan terluka saat bekerja sehingga harus dirawat di rumah sakit. Mirisnya, pihak perusahaan justru lepas tangan dan tidak mau membayar kompensasi meski yang dialami Kwak Byeong Cheol termasuk kecelakaan kerja. Di sisi lain, Kwak Byeong Cheol sulit menuntut haknya karena statusnya bukan pegawai tetap sehingga tak punya asuransi, ditambah ia bekerja di sektor informal.

4. Pengabaian K3 di lokasi konstruksi

cuplikan drama Dead-End Job (dok. Netflix/Dead-End Job)

Di episode 6, Byeon Hyeok Jun bekerja di lokasi konstruksi. Sepanjang hari, ia melihat bagaimana pihak perusahaan mengabaikan pedoman keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Mandor menyuruh pekerja melakukan pekerjaan berbahaya dengan alat keamanan minim. Akibatnya, seorang pekerja terluka. Namun, ambulans justru dilarang masuk ke sana.

5. Kemiskinan lebih menakutkan daripada fiksi horor

Kim Min Ha di Dead-End Job (dok. Netflix/Dead-End Job)

Byeon Ji Yoon pernah berkata bahwa ia lebih takut miskin daripada hantu. Ucapannya merupakan bentuk kritik sebab kemiskinan ekstrem bisa membunuh atau membuat seseorang melakukan kejahatan. Karena itu, ada orang yang bisa tinggal di tempat angker, tapi murah sebab harga properti yang terlalu mahal meski hanya untuk sewa bulanan maupun tahunan.

6. Senioritas toksik di tempat kerja melestarikan bullying

cuplikan drama Dead-End Job (x.com/NetflixKR)

Drakor ini juga mengkritik perihal senioritas toksik di tempat kerja yang berujung pada tindakan perundungan. Contohnya, yang terjadi di episode 2. Jo Jun Seop (Yoon Kyung Ho) kasar dan bertindak arogan, tapi ternyata ia pun korban bullying oleh orang lain. Sementara itu, didorong kekasaran Jo Jun Seop, Jolly Pierrot (Lee Sung Hyung) bertindak brutal di akhir episode.

Tak hanya seru dan penuh kejutan, alasan drakor Dead-End Job istimewa karena banyak mengangkat kritik sosial yang relateable. Khususnya, mengenai kapitalisme, kemiskinan struktural, hingga job market yang semakin sulit diakses.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article