Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Colony, Teror Zombie Cerdas dari Sutradara Train to Busan
Colony (dok. Showbox/Colony)
  • Colony menghadirkan konsep zombie berevolusi dengan kesadaran kolektif, menciptakan ancaman baru yang lebih cerdas dan tak terduga dibanding film zombie konvensional.
  • Atmosfer klaustrofobik di gedung karantina serta visual horor yang intens membuat ketegangan terasa nyata sepanjang dua jam durasi film.
  • Penampilan kuat Jun Ji Hyun sebagai ilmuwan Sejeong menjadi pusat emosi cerita, meski naskah yang inkonsisten sedikit mengurangi potensi maksimal film ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah sukses mendefinisikan ulang genre zombie modern lewat Train to Busan (2016), sutradara sekaligus penulis Yeon Sang Ho akhirnya kembali ke dunia zombie lewat film terbarunya, Colony (2026). Film ini lebih dulu mencuri perhatian saat melakukan pemutaran perdana di ajang Festival Film Cannes 2026 dalam program "Midnight Screenings" sebelum akhirnya tayang serentak di Indonesia mulai 3 Juni 2026.

Bukan sekadar menghadirkan sosok zombie yang ganas, Colony menawarkan sesuatu yang lebih segar sekaligus mengerikan. Kali ini, ancaman terbesar bukan hanya gigitan para terinfeksi, melainkan kemampuan mereka untuk berevolusi, berpikir, dan beradaptasi secara kolektif. Apakah film ini mampu melampaui bayang-bayang Train to Busan? Simak ulasannya berikut ini!

Sinopsis Colony (2026)

Colony mengikuti kisah Kwon Sejeong, seorang profesor bioteknologi yang menerima undangan dari mantan suaminya, Han Gyu Seong, untuk menghadiri sebuah konferensi ilmiah di Gedung Dongwoori. Pertemuan yang awalnya terasa canggung berubah menjadi mimpi buruk ketika seorang pria bernama Seo Young Cheol melancarkan aksi bioterorisme di tengah acara.

Virus yang disuntikkan kepada CEO perusahaan biofarmasi dengan cepat mengubah korbannya menjadi makhluk agresif yang menyerupai zombie. Dalam hitungan menit, wabah menyebar ke seluruh gedung konferensi dan memaksa pemerintah melakukan karantina total.

Terjebak bersama para penyintas lainnya, Sejeong berusaha memahami pola perilaku para terinfeksi. Namun semakin jauh ia meneliti, semakin jelas bahwa mereka bukan zombie biasa. Para makhluk ini terus berevolusi dan berbagi informasi satu sama lain layaknya koloni semut raksasa. Dengan waktu yang semakin menipis, Sejeong harus memimpin para penyintas keluar dari gedung sekaligus mencegah wabah tersebut menyebar ke dunia luar.

Colony
2026
3.5/5
Directed by Yeon Sang Ho
ProducerCharlie Shin, Yang Yoomin Hailey, Sung Joon Ho
WriterYeon Sang Ho, Choi Gyu Seok
Age RatingR13
GenreZombie, sci-fi, horror
Duration122 Minutes
Release Date3 Juni
ThemeSouth Korean horror, action horror, survival horror, infected virus
Production HouseShowbox
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
CastJun Ji Hyun, Koo Kyo Hwan, Ji Chang Wook, Kim Shin Rok, Shin Hyun Been, Go Soo

Trailer Colony (2026)

1. Zombie yang terus berevolusi menjadi daya tarik utama film

Jika Train to Busan membuat penonton takut terhadap zombie yang cepat dan brutal, maka Colony memperkenalkan ancaman yang jauh lebih mengerikan. Para terinfeksi dalam film ini mampu beradaptasi secara real-time terhadap ancaman yang mereka hadapi. Ketika satu zombie menemukan cara mengatasi hambatan tertentu, informasi tersebut langsung menyebar ke seluruh koloni.

Konsep "hive mind" atau kesadaran kolektif ala semut inilah yang membuat Colony terasa segar dibandingkan kebanyakan film zombie modern. Para penyintas tidak bisa mengandalkan trik yang sama dua kali karena para monster tersebut terus belajar. Setiap keberhasilan yang mereka gapai hanya menjadi solusi sementara sebelum koloni zombie menemukan cara baru untuk mengatasinya.

Sebagai sutradara, Yeon Sang Ho berhasil memanfaatkan premis ini untuk menciptakan banyak momen menegangkan. Ada sensasi tidak nyaman ketika penonton menyadari bahwa para terinfeksi bukan sekadar makhluk lapar yang berlari tanpa arah, melainkan organisme yang perlahan berkembang menjadi spesies baru yang lebih superior dari manusia.

2. Horor klaustrofobik yang intens sepanjang 2 jam

Sebagian besar cerita berlangsung di dalam satu kompleks bangunan yang dikarantina. Keputusan ini terbukti efektif dalam menciptakan atmosfer yang sempit, sesak, dan penuh tekanan. Penonton seperti ikut terjebak bersama para karakter yang tidak memiliki tempat aman untuk bersembunyi.

Desain produksinya juga patut diapresiasi. Gedung komersial yang awalnya terlihat modern perlahan berubah menjadi sarang zombie yang dipenuhi lendir putih menjijikkan, darah, parasit, dan tubuh-tubuh yang bermutasi. Visual tersebut membuat suasana horor terasa semakin nyata dan mengganggu.

Begitu film memasuki babak kedua, ritmenya nyaris tidak pernah melambat. Adegan kejar-kejaran, pertarungan melawan gerombolan terinfeksi, hingga upaya bertahan hidup para karakter berlangsung nyaris tanpa jeda. Bagi penggemar horor survival yang intens, Colony menawarkan pengalaman menonton yang cukup memuaskan sepanjang durasinya.

3. Penampilan Jun Ji Hyun dan para pemain berhasil mengangkat emosi cerita

Meskipun fokus utama film ini berada pada teror wabah, Colony tetap berusaha menyisipkan konflik emosional di antara para karakternya. Sosok Sejeong yang diperankan Jun Ji Hyun menjadi jangkar utama cerita dan berhasil mencuri perhatian setiap kali muncul di layar.

Aktris yang dikenal lewat My Sassy Girl (2001) dan Kingdom: Ashin of the North (2021) tersebut tampil meyakinkan sebagai ilmuwan yang harus mengambil keputusan sulit di tengah kekacauan. Karismanya membuat penonton mudah percaya bahwa ia adalah sosok yang mampu memimpin kelompok penyintas dalam situasi ekstrem.

Selain Ji Hyun, Koo Kyo Hwan juga tampil menonjol sebagai antagonis yang menjadi pemicu bencana. Sementara Ji Chang Wook dan Kim Shin Rok menghadirkan sisi emosional yang cukup menyentuh melalui hubungan kakak-adik yang terus berusaha saling menyelamatkan. Kehadiran mereka membuat film ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam aksi dan horor semata.

4. Naskah yang inkonsisten membuat potensinya tidak maksimal

Meski memiliki premis yang sangat menarik, Colony tidak sepenuhnya bebas dari masalah. Babak pertama film dipenuhi begitu banyak informasi mengenai virus, penelitian ilmiah, hubungan antarkarakter, hingga intrik korporasi. Akibatnya, penonton harus bekerja ekstra keras untuk mengikuti semua detail yang disajikan.

Masalah yang lebih terasa muncul ketika film memasuki paruh akhir. Beberapa karakter mulai mengambil keputusan yang terasa kurang logis hanya demi mempertahankan konflik. Padahal sebelumnya mereka telah memahami cara kerja para terinfeksi. Hal ini membuat sejumlah momen terasa dipaksakan dan sedikit mengurangi ketegangan yang sudah berhasil dibangun.

Dari sisi drama, Colony juga tidak sekuat Train to Busan. Film ini memang memiliki beberapa momen emosional yang efektif, tetapi pengembangan karakternya tidak sedalam karya Yeon Sang Ho sebelumnya. Akibatnya, dampak emosional yang ditinggalkan tidak berhasil menghantam penonton dengan kekuatan yang sama.

5. Apakah Colony recommended untuk ditonton?

Sangat direkomendasikan, terutama bagi penggemar film zombie dan horor survival. Meski tidak berhasil melampaui pencapaian legendaris Train to Busan, Colony tetap menawarkan sesuatu yang berbeda melalui konsep zombie berevolusi dengan kesadaran kolektif. Ide tersebut membuat ancaman dalam film terasa jauh lebih tidak terduga dibandingkan kebanyakan film sejenis.

Ditambah atmosfer klaustrofobik yang mencekam, visual horor yang menjijikkan, serta penampilan solid dari Jun Ji Hyun dan para pemain lainnya, Colony berhasil berdiri sebagai karya yang memiliki identitas sendiri. Memang ada beberapa kelemahan dalam penulisan naskah dan pengembangan karakter, tetapi hal itu tidak cukup untuk merusak keseluruhan pengalaman menonton.

Jika kamu mencari film zombie yang modern, lebih agresif, dan menghadirkan ancaman baru yang belum banyak dieksplorasi, Colony layak masuk daftar tontonan. Yeon Sang Ho mungkin belum menciptakan Train to Busan berikutnya, tetapi ia berhasil membuktikan bahwa dirinya masih menjadi salah satu kreator paling menarik di dunia horor Korea saat ini.

Editorial Team

Related Article