Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Sikap Manipulatif Kang Eun Seok dalam Persidangan di Drakor Honour

5 Sikap Manipulatif Kang Eun Seok dalam Persidangan di Drakor Honour
Still Cut Honour (dok.ENA/Honour)

Menjadi pembuka kasus di drakor Honour (2026) , Kang Eun Seok (Lee Chan Hyeong) menunjukkan sikap yang penuh perhitungan dan manipulatif selama persidangan. Dengan bantuan pengacaranya Ia  memilih kata-kata dengan hati-hati untuk mengarahkan opini dan mengendalikan situasi di ruang sidang. Tindakannya sering terlihat tenang di permukaan, tetapi memiliki tujuan tertentu yang menguntungkan dirinya.

Eun Seok juga kerap memanfaatkan celah dalam kesaksian dan tekanan psikologis untuk melemahkan lawan. Ia tidak ragu membangun narasi yang bisa memengaruhi pandangan hakim maupun publik. Sikap ini membuatnya menjadi sosok yang sulit ditebak serta menyulitkan pihak Joo Yoo Jeong (Park Se Hyun). Berikut sikap manipulatif yang ditunjukkan Kang Eun Seok dalam persidangan di drakor Honour.

1. Mengaku tidak ingat karena mabuk

Still Cut Honour
Still Cut Honour (dok.ENA/Honour)

Kang Eun Seok merupakan pelaku pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Dalam persidangan, ia mengaku tidak mengingat kejadian tersebut karena berada dalam kondisi mabuk. Pernyataan ini digunakan sebagai bentuk pembelaan untuk mengurangi tanggung jawabnya.

Alasan tersebut menimbulkan kemarahan dan kekecewaan dari pihak korban. Pengakuan tidak ingat dianggap sebagai cara untuk menghindari konsekuensi hukum. Sikap ini menunjukkan upayanya untuk melemahkan tuduhan tanpa benar-benar mengakui perbuatannya.

2. Memaksa korban hadir dalam persidangan

Still Cut Honour
Still Cut Honour (dok.ENA/Honour)

Ia meminta Joo Yoo Jeong (Park se Hyun) datang langsung ke persidangan meskipun mengetahui bahwa korban masih mengalami trauma. Permintaan ini membuat korban harus kembali berhadapan dengan pelaku di ruang sidang. Situasi tersebut memperberat kondisi psikologis korban.

Keputusan itu dinilai tidak mempertimbangkan keadaan mental korban. Kehadiran langsung korban justru membuka kembali luka yang belum pulih. Tindakan ini menunjukkan kurangnya empati dalam proses persidangan.

3. Memanfaatkan ketidakjelasan kesaksian korban

Still Cut Honour
Still Cut Honour (dok.ENA/Honour)

Kang Eun Seok memanfaatkan fakta bahwa Joo Yoo Jeong tidak bisa menjelaskan secara rinci di mana mereka pertama kali bertemu. Ia menggunakan celah tersebut untuk mempertanyakan konsistensi kesaksian korban. Strategi ini dilakukan untuk meragukan kebenaran pernyataan korban.

Dengan cara itu, ia mencoba membangun keraguan di hadapan hakim. Fokus persidangan diarahkan pada detail kecil, bukan pada inti peristiwa. Hal ini menjadi taktik untuk melemahkan posisi korban secara hukum.

4. Menekan psikologis korban dengan trauma masa lalu

Still Cut Honour (dok.ENA/Honour)
Still Cut Honour (dok.ENA/Honour)

Ia memanfaatkan trauma yang masih dirasakan korban untuk menekan kondisi psikologisnya di ruang sidang. Tekanan tersebut membuat korban kesulitan menyampaikan kesaksian dengan tenang. Situasi ini secara tidak langsung menguntungkan pihak pelaku.

Trauma yang belum pulih menjadi hambatan bagi korban saat memberikan keterangan. Kondisi emosional yang terganggu dapat memengaruhi kejelasan jawaban. Taktik ini menunjukkan pola manipulatif yang digunakan selama persidangan.

5. Memanfaatkan citra publik sebagai “menantu nasional”

Still Cut Honour
Still Cut Honour (dok.ENA/Honour)

Kang Eun Seok memanfaatkan citra publiknya sebagai sosok “menantu nasional” untuk membentuk opini masyarakat. Ia dikenal memiliki reputasi baik dan dukungan penggemar yang kuat. Citra ini secara tidak langsung digunakan sebagai tameng dalam menghadapi tuduhan.

Akibatnya, sebagian penggemarnya tidak mempercayai korban dan justru menyerang dengan komentar negatif. Korban kembali mendapat tekanan, kali ini dari opini publik di luar ruang sidang. Situasi ini memperlihatkan bagaimana popularitas dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap sebuah kasus hukum.

Sikap Kang Eun Seok selama persidangan menunjukkan bagaimana kekuasaan, strategi, dan citra publik dapat digunakan untuk memengaruhi jalannya hukum. Tindakannya tidak hanya berdampak pada proses persidangan, tetapi juga pada kondisi psikologis korban. Melalui konflik ini, Honour menampilkan sisi gelap pertarungan hukum ketika kebenaran harus berhadapan dengan manipulasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us

Latest in Korea

See More

Mengapa Hubungan Hyun Jin-Yoon Seong Tak Direstui di Our Universe?

03 Mar 2026, 10:01 WIBKorea