5 Dampak Status Kelahiran Rendah Bagi Seong Hui Ju di Perfect Crown

Seong Hui Ju, anak haram dari keluarga konglomerat, menghadapi diskriminasi keras di masyarakat monarki modern karena status kelahirannya yang rendah.
Meski berprestasi di Akademi Kerajaan dan sukses sebagai CEO Castle Beauty, Seong Hui Ju tetap dianggap tidak pantas dihormati oleh kaum bangsawan.
Kesadaran bahwa kerja keras saja tak cukup membuatnya dihargai, mendorong Seong Hui Ju berambisi masuk keluarga kerajaan lewat Pangeran Agung I-An.
Drama Korea Perfect Crown memakai alam semesta alternatif ketika Korea modern adalah monarki konstitusional. Sistem kelas pada era ini begitu ketat. Keluarga konglomerat sekali pun tetap menyandang status rakyat biasa, lebih rendah dari kaum bangsawan.
Sepanjang hidupnya, Seong Hui Ju (IU) sudah mengalami sendiri efek negatif dari sistem kelas yang turun-temurun itu. Telebih lagi ia bukan hanya rakyat biasa, tapi juga anak haram di dalam keluarga konglomerat. Status kelahiran yang rendah memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupannya. Berikut ini enam dampak yang dirasakan oleh Seong Hui Ju di Perfect Crown.
1. Dipandang menyalahi tatanan karena berprestasi

Para bangsawan selalu merasa punya kedudukan sosial yang lebih tinggi, jadi rakyat biasa yang melampaui mereka disebut menyalahi tatanan yang ada. Karena itulah kaum bangsawan tidak terima saat Seong Huiju selalu meraih peringkat satu di Akademi Kerajaan.
Seong Huiju dianggap tidak tahu diri karena tempatnya bukanlah di atas para bangsawan. Ia pun diminta untuk bersyukur karena Akademi Korea bisa memberinya kesempatan berada di tempat yang sama dengan mereka. Sebab, akademi ini didirikan atas asas kesetaraan kesempatan.
2. Sindiran selalu lebih utama dibanding pujian

Seong Huiju telah menorehkan prestasi yang layak untuk dipuji. Sayangnya, ia tidak pernah benar-benar mendapat pujian secara terhormat. Dibanding itu, sindiran justru lebih sering diterimanya.
Semua orang sudah tahu kalau Seong Huiju berprestasi. Hanya saja mereka sulit untuk memberikan penghargaan yang layak kepadanya. Bahkan Seong Huiju disamakan dengan Jang Yeong Sil yang merupakan ilmuwan, teknisi, dan penemu pada era Joseon, tetapi berasal dari kelas bawah karena lahir dari seorang gisaeng atau penghibur.
3. Tidak mendapat kesempatan yang sama dengan bangsawan

Asa kesetaraan kesempatan memang jadi alasan utama Akademi Kerajaan Korea didirikan. Akademi ini menjawab keterbatasan dari Sungkyunkwan yang hanya dikhususkan untuk bangsawan. Namun, asas itu tidak selalu tercermin dalam praktik sehari-hari akademi itu.
Seong Huiju mendapati bahwa murid dari kaum bangsawan memiliki kunci ke lapangan panah. Pangeran Agung I-an (Byeon Woo Seok) pun bisa dengan mudah mendapatkan izin dari kepala sekolah untuk menggunakan fasilitas itu. Ia merasa tidak adil karena aturan ketat hanya berlaku bagi rakyat biasa. Mereka tidak punya kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik.
4. Jalannya menuju kesuksesan selalu dihadang

Seong Huiju tak pernah berhenti untuk terus membuktikan kelayakan dirinya. Ia membenci kekalahan dari siapa pun itu. Kini dirinya pun berjaya sebagai CEO Castle Beauty karena kerja keras.
Tentu banyak orang tidak suka dengan kesuksesan Seong Huiju, tak terkecuali keluarganya sendiri. Ayahnya bahkan berencana menikahkannya dengan anak CEO perusahaan yang lebih kecil. Rencana itu sudah membuktikan kalau jalan kesuksesan Seong Huiju dicegat.
5. Selalu dianggap tidak layak untuk dihormati

Seong Huiju di bangku sekolah sudah sering didiskriminasi oleh bangsawan. Bukannya berkecil hati, ia malah jadi semakin teobsesi untuk selalu unggul. Menggunakan cara kotor pun tak jadi masalah bagi Seong Huiju.
Begitu dewasa, ia berhasil membawa mereknya meraih posisi atas industri. Akan tetapi, berbagai prestasi tersebut seperti tidak pernah mengubah apa pun di dalam hidupnya. Seong Huiju tetap dianggap tidak layak dihormati karena status kelahirannya pun tidak berubah sama sekali.
Seong Hui Ju di drama Perfect Crown mengubah hinaan yang didapatnya jadi sumber semangat. Ia pun sadar kalau kerja keras untuk berprestasi saja tidak cukup untuk membuatnya dihormati orang lain. Karena itulah ia mulai mengejar Pangeran Agung I-An agar bisa masuk menjadi bagian dari keluarga kerajaan.