4 Budaya Fandom KPop Ini Dianggap Sepele tapi Toksik, Jangan Dilakukan

- Fenomena fandom KPop makin meluas secara global pada 2026, namun muncul perilaku toksik seperti fanwar di media sosial yang memicu cyberbullying dan ketidaknyamanan pengguna lain.
- Budaya streaming dan voting berlebihan membuat penggemar mengorbankan waktu serta prioritas pribadi demi mendukung idola, menunjukkan sisi ekstrem dari dedikasi fandom modern.
- Sikap anti kritik dan obsesi ekstrem seperti sasaeng memperlihatkan bagaimana fanatisme bisa mengganggu privasi idola serta menciptakan lingkungan fandom yang tidak sehat.
Di tahun 2026 ini, penggemar KPop semakin meluas di berbagai belahan dunia. Hal ini menunjukkan pengaruh industri hiburan Korea Selatan yang semakin kuat sejak gelombang KPop merajalela hampir 2 dekade ini. Meluasnya pengaruh industri hiburan ini turut membuat penggemar semakin bertambah, lho.
Gak hanya itu, budaya penggemar juga semakin beragam. Sayangnya, berbagai perilaku penggemar yang ditunjukkan di media sosial ini turut mengundang perhatian banyak pengguna lainnya. Namun, ada beberapa budaya dari fandom KPop yang dianggap sepele namun kenyataannya toksik dan mengganggu untuk diperhatikan. Apa saja itu?
1. Fanwar antar fandom atau unit

Fanwar adalah istilah beradu argumen yang dilakukan penggemar antara fandom sebuah grup maupun individu. Perilaku ini biasanya banyak ditemukan di media sosial, seperti X, TikTok, maupun Instagram. Perilaku adu argumen di media sosial ini umumnya dipicu karena rasa fanatik yang cukup intens dalam menanggapi suatu hal.
Perilaku ini umumnya muncul karena beberapa topik yang cukup sepele namun berusaha berkompetisi dengan fandom lain. Beberapa topik pemicu biasanya disebabkan karena sebuah kompetisi, kritik, atau acara award yang dihadiri oleh grup yang mereka sukai. Banyak penggemar menganggap fanwar ini cukup sering ditemukan di dunia KPop sendiri.
Sayangnya, penggemar gak sadar jika kondisi ini bisa memicu perilaku toksik, seperti cyberbullying. Gak hanya itu, bagi pengguna media sosial lainnya, berbagai ketikan pedas ini bisa jadi sebuah gangguan, lho. Hal ini membuat pengguna lainnya merasa gak nyaman untuk menggunakan platform tersebut.
2. Tekanan untuk streaming dan voting secara berlebihan

Sejak satu dekade belakangan, fandom KPop punya sebuah budaya baru untuk dilakukan setiap idola mereka merilis album ataupun akan menghadiri sebuah acara penghargaan. Ketika grup idola mereka merilis sebuah album ataupun lagu, para penggemar biasanya dikoordinasikan untuk melakukan mass streaming.
Aktivitas ini biasanya didorong langsung oleh sebuah akun base grup idol mereka. Gak hanya itu, setiap acara penghargaan juga menyediakan voting atau pemungutan suara publik untuk menambah aspek penilaian pemenang penghargaan. Dengan kedua aspek ini, akun base grup idol atau individu biasanya menekankan penggemar untuk meluangkan waktu mereka.
Dedikasi waktu dan uang yang dilakukan penggemar secara intensif ini untuk menunjukkan dukungan emosional pada grup idola mereka. Sayangnya, perilaku ini jelas cukup berbahaya apabila penggemar gak punya kontrol penuh akan dirinya. Mereka akan melupakan prioritas kehidupan mereka demi menunjukkan dukungan ke grup idola.
3. Antikritik berlebihan

Salah satu pemicu fanwar adalah kritik yang biasanya muncul untuk beberapa grup idol atau individu. Sayangnya, fanatisme penggemar ini cukup membuat para penggemar hati-hati. Beberapa penggemar fanatik kerap menunjukkan sikap defensif ketika muncul teguran untuk idola mereka.
Sekelompok penggemar ini biasanya gak segan untuk menunjukkan jika sikap yang mereka lakukan ini paling benar. Mereka juga kerap merasa harus menyerang sosok yang mengkritik ini untuk membela idola mereka. Makanya, banyak pihak secara langsung menunjukkan ketakutannya ketika mereka salah sebut ataupun gak mengenali anggota grup idol yang penggemarnya dikenal cukup intens.
4. Obsesi ekstrem fans terhadap kehidupan idol

Obsesi ekstrim ini sebenarnya banyak sekali contohnya, seperti sasaeng. Sasaeng sendiri merupakan sekelompok yang menganggap dirinya sebagai penggemar dan mengikuti idola mereka hingga ke lingkungan personal. Imbasnya, idola mereka akan merasa terganggu dan membahayakan diri sendiri.
Kasus sasaeng sendiri memang banyak contohnya. Mereka bisa dengan mudah mengakses tempat tinggal idola hingga menelpon nomor pribadi idola dengan sangat intens.
Beberapa perilaku di atas memang cukup sepele bagi sekelompok orang. Sayangnya, perilaku ini jelas akan membuat merasa kelelahan untuk berkecimpung di dunia fandom lagi. Menurutmu, apakah penggemar bisa menikmati dan menghargai karya idola mereka secukupnya tanpa harus mengikuti segala budaya di atas?

















