Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Carmen H2H Training dari Pagi ke Pagi, Pendam Lelah dari Orang Rumah
Carmen Hearts2Hearts (X.com/Hearts2Hearts)
  • Carmen Hearts2Hearts menghadapi kendala bahasa Korea dan rasa minder saat trainee, sehingga berlatih lebih keras untuk mengejar kemampuan menyanyi serta menari trainee lain.
  • Ia berlatih dari pukul 7 pagi hingga 4 pagi setiap hari, tetapi menyembunyikan kelelahan dan tekanan dari orangtuanya agar mereka tidak khawatir.
  • Setelah beradaptasi dengan bahasa, budaya, dan kehidupan di Korea, Carmen debut pada 2025 serta meraih kemenangan grup dan penghargaan individu pada 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Carmen Hearts2Hearts kini menjadi salah satu idol KPop asal Indonesia yang mencuri perhatian. Kemampuannya dalam bernyanyi dan menari, gerakan yang sinkron bersama member Hearts2Hearts, hingga kefasihannya berbicara bahasa Korea saat tampil di berbagai variety show membuat banyak penggemar kagum.

Padahal, sebelum debut, Carmen justru datang ke Korea Selatan tanpa kemampuan berbahasa Korea yang memadai.

"Aku merasa sedih karena awalnya aku gak bisa berbicara bahasa Korea. Awalnya, sulit bagiku untuk berkomunikasi dengan trainee lain maupun para member. Mereka bilang, ‘Oh, kamu harus melakukan ini, kamu harus melakukan itu,’ tetapi aku gak mengerti apa yang mereka katakan," ujar Carmen dalam siniar HeartsPod yang tayang di Spotify pada Kamis (8/10/2026).

Carmen menceritakan perjuangannya selama menjadi trainee. Ia bahkan sempat menyembunyikan perasaan sebenarnya dari orangtuanya agar mereka gak ikut khawatir.

1. Carmen Hearts2Hearts training dari pagi hingga dini hari

Carmen Hearts2Hearts pakai kebaya Bali (dok. Weverse/Hearts2Hearts)

Di balik pujian yang diterimanya sekarang, ada masa trainee yang gak mudah untuk dilalui. Menjadi trainee di agensi besar seperti SM Entertainment tentu bukan perkara mudah.

Carmen harus mengembangkan kemampuan menyanyi dan menari sekaligus mengejar ketertinggalannya dalam berbahasa Korea. Kondisi tersebut membuatnya merasa harus berlatih lebih keras dibandingkan trainee lainnya.

Sambil tetap tersenyum, Carmen bercerita bahwa dirinya sempat kesulitan berkomunikasi dengan trainee lain maupun para member karena belum memahami bahasa Korea. Ketika orang-orang di sekitarnya memberikan arahan, ia gak selalu mengerti apa yang harus dilakukan. Di saat bersamaan, kemampuan menari dan menyanyi trainee lain juga membuatnya merasa minder.

“Dan aku merasa sedih karena awalnya aku gak bisa berbicara bahasa Korea. Awalnya, sulit bagiku untuk berkomunikasi dengan trainee lain maupun para member. Mereka bilang, ‘Oh, kamu harus melakukan ini, kamu harus melakukan itu,’ tetapi aku gak mengerti apa yang mereka katakan. Itulah yang membuat semuanya terasa sulit bagiku. Mereka benar-benar punya kemampuan menari dan menyanyi yang sangat bagus. Aku jadi merasa gak percaya diri, seperti, ‘Ya Tuhan, apa aku bisa melakukan ini?’ Aku juga berpikir seperti itu. Karena itulah, menurutku, selama masa training, aku benar-benar berlatih jauh lebih keras dibandingkan trainee lainnya,” ujar Carmen.

Keinginan untuk mengejar ketertinggalan membuat Carmen menghabiskan banyak waktu untuk berlatih. Bahkan, ia datang ke agensi jauh lebih awal daripada jadwal yang seharusnya.

Perjuangannya gak berhenti ketika trainee lain mulai beraktivitas, sebab Carmen bisa terus berlatih hingga dini hari. Carmen dan Stella lalu sempat membahas bagaimana jadwal berangkat latihan sebenarnya dimulai sekita 09.30 hingga 11.00, tetapi ia selalu berangkat lebih awal.

“Dari pukul 7 pagi sampai pukul 4 pagi. Aku benar-benar naik bus sendirian, pergi ke sana naik bus, lalu pulang dan kembali lagi ke agensi. Aku melakukan itu setiap hari sampai akhirnya aku merasa sangat stres,” tuturnya.

2. Carmen gak mau bikin orangtuanya khawatir

Potret carmen (instagram.com/hearts2hearts)

Menjalani masa trainee di negara asing bukan hanya soal latihan dan persiapan debut. Bagi Carmen, ada kerinduan terhadap rumah yang harus dihadapi setiap hari.

Ia datang ke Korea Selatan seorang diri, sementara bahasa dan lingkungan di sekitarnya masih terasa asing. Dalam obrolan tersebut, Carmen mengungkapkan kekhawatiran kalau orangtuanya akan ikut cemas jika mengetahui bahwa dirinya sebenarnya sedang kewalahan.

“Lalu, aku gak mau menceritakannya kepada orangtuaku karena mereka pasti akan sangat khawatir. Makanya, aku hanya bilang, ‘Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja,’ padahal sebenarnya aku gak baik-baik saja,” ujar Carmen sambil tertawa.

Stella yang juga menjadi lawan bicaranya dalam siniar tersebut tampak memahami kebiasaan Carmen. Ia bahkan menyahut sambil memukul ringan lengan Carmen dan mengatakan, “Aku tahu. Maka dari itu, aku selalu bilang, ketika kamu bilang kamu baik-baik saja, aku tahu kamu lagi gak baik-baik saja."

Keduanya lalu melembut dengan mengatakan, "Kerja bagus," kepada satu sama lain.

3. Hiburan Carmen yang sederhana di tengah padatnya jadwal latihan

Carmen Hearts2Hearts di K-World Dream Awards 2026 (dok. Weverse/Hearts2Hearts)

Di tengah jadwal latihan yang padat dan rasa rindu rumah, Carmen tetap berusaha menemukan hal-hal kecil yang bisa membuatnya senang. Salah satunya adalah menyantap tteokbokki, makanan Korea yang ia sukai. Makanan tersebut menjadi hiburan sederhana yang bisa ia nikmati setiap minggu di tengah rutinitasnya sebagai trainee.

Selain beradaptasi dengan makanan dan kehidupan sehari-hari di Korea Selatan, Carmen juga harus menghadapi tantangan bahasa. Belajar bahasa Korea bukan sekadar menghafalkan kosakata, tetapi juga memahami perbedaan cara berbicara kepada orang yang lebih tua, teman sebaya, atau orang yang baru dikenal.

Hal tersebut cukup berbeda dengan kebiasaan berbahasa di Indonesia. Carmen menjelaskan bahwa penggunaan bahasa formal dan informal di Korea Selatan memiliki aturan yang lebih ketat. Kondisi ini membuat proses adaptasinya semakin menantang, terlebih saat ia belum memahami percakapan para member di sekitarnya.

“Sulit menyesuaikan diri dengan bahasa informal dan formal karena di Indonesia, kita tidak seperti itu. Kita memang menggunakan bahasa formal, tapi tidak seperti di Korea. Di Korea ketat. Kamu benar-benar harus melakukan ini. Kalau tidak, kamu akan dapat masalah, kan?” ujarnya.

Kesulitan tersebut membuat perjalanan Carmen selama masa trainee menjadi jauh lebih berat daripada yang terlihat dari luar. Ia bukan hanya harus mempersiapkan diri untuk debut sebagai idol, tetapi juga belajar memahami bahasa dan budaya baru sambil berusaha mengejar kemampuan trainee lainnya. Kini, perjuangan itu menjadi bagian dari perjalanan Carmen bersama Hearts2Hearts.

Carmen resmi debut pada 24 Februari 2025 melalui single album The Chase dan mencatat sejarah sebagai idol perempuan Indonesia pertama yang debut di bawah naungan SM Entertainment. Bersama Hearts2Hearts, Carmen juga meraih kemenangan pertama di program musik mingguan Korea lewat The Show pada Maret 2025.

Pada Agustus 2026, Carmen kembali menorehkan pencapaian individu setelah memenangkan kategori Female Solo Popularity Award di K-World Dream Awards. Ia menjadi pemenang pertama dari Asia Tenggara untuk kategori tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article