cuplikan MV A2O LITE (youtube.com/A2O LITE)
Salah satu hal yang membuat A2O LITE menjadi perbincangan adalah koreografi pembuka “NEON”, terutama duet Aijing dan Xili. Gerakannya menuntut koordinasi, kontrol tubuh, dan ketepatan teknik. Bagian ini semakin menarik setelah koreografer J Black membagikan cerita di balik proses pembuatannya.
J Black merupakan penari dan koreografer Korea Selatan yang dikenal lewat gaya tari khasnya. Ia menciptakan koreografi pembuka “NEON” yang dibawakan Aijing dan Xili, bersama kontribusi Lee Dong Gyu dan Choi In Young dari Cream Dance dalam proses koreografi dan pelatihan. Dalam video yang diunggah kanal YouTube Studio Waggle Waggle pada 16 Oktober 2026, J Black hadir bersama istrinya, Mari, yang juga berprofesi sebagai koreografer, untuk membahas penampilan tersebut.
J Black mengungkap bahwa permintaan A2O LITE berbeda dari pengalamannya menggarap koreografi idol selama ini. Biasanya, pihak agensi meminta gerakan dalam video demo dibuat lebih mudah agar dapat dibawakan dengan baik. Namun, kali ini mereka justru meminta tingkat kesulitannya ditingkatkan.
“Biasanya, ketika aku diminta untuk membuat koreografi idol, mereka memintaku untuk membuatnya lebih mudah dibandingkan video demo. Namun kali ini berbeda. Setelah aku mengirimkan demo, mereka memintaku untuk membuatnya lebih sulit lagi. Aku bertanya-tanya, 'Apakah boleh seperti ini?', tapi aku akhirnya meningkatkan kesulitannya,” jelas J Black.
Ia juga mengungkap bahwa pihak grup secara khusus menginginkan koreografi dengan gaya khasnya. J Black sempat terkejut karena permintaan itu berbeda dari pendekatan koreografi idol yang biasanya mengutamakan gerakan lebih mudah diikuti. Ia kemudian mengaku melihat potensi Aijing dan Xili, meski keduanya belum langsung menguasai gerakan tersebut saat latihan awal. Tiga pelatih pun dilibatkan untuk membantu mereka berlatih secara intensif.
Komentar lain datang dari Gabee, koreografer yang dikenal sebagai pemimpin kru tari La Chica dan salah satu peserta program kompetisi Street Woman Fighter. Ia menyoroti energi yang ditampilkan para member dan merasa penampilan tersebut mengingatkannya pada semangat performer yang ingin membuktikan kemampuan lewat kerja keras.
“Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali melihat sesuatu seperti ini. Mereka gak bilang, ‘Tolong cintai aku,’ atau ‘Aku cantik banget, kan?’” ujar Gabee sambil mengikuti gaya imut idol.
Ia melanjutkan dengan lebih gahar, “Mereka justru menunjukkan, ‘Aku jago banget menari,’ ‘Aku benar-benar sudah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh,’ ‘Mama, Papa, lihat aku!’"
Gabee pun tertawa sendiri dengan kiasan yang ia buat. Dancer hits tersebut lalu menutup, "Rasanya seperti bisa melihat semangat mereka yang begitu besar secara langsung. Ada keberanian yang terasa dari sikap mereka yang seolah berkata, ‘Aku akan membuktikan diriku lewat kemampuan saja.’ Sensasi mendebarkan seperti ini rasanya sudah lama gak kurasakan.”
Dua tanggapan tersebut memberi gambaran mengapa koreografi “NEON” menarik perhatian. Daya tariknya bukan hanya pada tingkat kesulitan gerakan, tetapi juga pada kemampuan para member mengeksekusinya. Di tengah tren koreografi yang kerap dirancang agar mudah ditiru sebagai tantangan di media sosial, pendekatan yang lebih menantang ini menawarkan pengalaman menonton yang berbeda. Meski begitu, satu koreografi saja tentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa arah KPop akan berubah secara keseluruhan.