Pada akhirnya, pergeseran budaya encore menjadi sebuah tragedi ketegangan ini tidak lepas dari ego industri itu sendiri. Untuk mengakomodasi tren koreografi yang semakin akrobatik, agensi menormalisasi penggunaan backing track tebal seperti AR (All Recorded) dan LAR (Live All Recorded). Praktik ini menciptakan ilusi kesempurnaan artifisial yang mustahil direplikasi secara mentah di panggung encore.
Pertanyaannya, jika fenomena ini terus memakan korban mental idolanya, mengapa agensi terkesan tutup telinga? Jawabannya ada pada kalkulasi bisnis. Berbeda dengan skena musik rock seperti saat kita menonton penampilan live dari band beraliran keras di mana nyawa utamanya murni berada pada kualitas vokal mentah dan instrumen organik di atas panggung, KPop memiliki formula berbeda.
KPop menjual paket lengkap, visual yang memukau, koreografi sinkron, dan ikatan parasosial yang kuat. Agensi tahu persis bahwa hujatan di media sosial tidak berbanding lurus dengan kebangkrutan. Justru, semakin seorang idola diserang, penggemar inti atau core fandom akan semakin solid dan memborong album untuk membuktikan dukungan. Di mata agensi, publisitas buruk tetaplah publisitas yang menghasilkan cuan.
Sudah saatnya industri KPop berhenti berlindung di balik ilusi audio dan mulai bertanggung jawab atas kesejahteraan fisik serta mental artisnya. Menuntut idola tampil sempurna bak pemutar CD di panggung encore adalah sebuah kemustahilan, namun membiarkan mereka naik ke atas panggung tanpa fondasi vokal yang layak juga merupakan bentuk pengabaian dari agensi.
Mari kembalikan panggung encore pada fungsi aslinya, yaitu sebuah ruang hangat yang manusiawi. Tempat di mana vokal yang sedikit bergetar atau tawa yang membuat lirik terlupa bukanlah sebuah dosa yang layak diadili massal, melainkan bukti nyata bahwa di balik riasan memukau tersebut, mereka sedang bernapas lega dan merayakan kerja kerasnya.