Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Mengatasi Trigger Trauma di Kantor agar Tetap Tenang
ilustrasi perempuan panik (magnific.com/magnific)
  • Pengalaman buruk seperti bullying dapat memicu ketegangan, jantung berdebar, dan sulit fokus di kantor baru; mengenali situasi pemicu membantu membedakan ingatan lama dari ancaman nyata.

  • Saat terpicu, ambil jeda dengan mengatur napas dan lakukan grounding melalui benda atau sensasi sekitar agar perhatian kembali pada situasi saat ini sebelum merespons.

  • Tetapkan batas profesional terhadap komentar menyakitkan, dokumentasikan pelanggaran berulang, serta cari dukungan orang tepercaya atau psikolog bila reaksi trauma mulai mengganggu pekerjaan dan rutinitas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengalaman buruk di tempat kerja bisa meninggalkan rasa takut yang bertahan lama. Setelah pernah jadi korban bullying, teguran atasan atau nada bicara rekan kerja yang meninggi bisa membuat tubuh langsung tegang. Padahal, kamu sudah pindah kantor dan berusaha memulai lembaran baru.

Menghadapi trigger trauma memang gak selalu mudah, terutama ketika kamu harus tetap bekerja di tengah situasi yang terasa mengancam. Reaksi seperti jantung berdebar, sulit berkonsentrasi, atau ingin segera meninggalkan ruangan bisa muncul tanpa direncanakan. Yuk simak lima cara menghadapi situasi tersebut agar kamu tetap bisa menjalani pekerjaan tanpa mengabaikan kondisi diri sendiri.

1. Kenali pemicu yang membuatmu merasa terancam

ilustrasi berbicara dengan atasan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Rapat mendadak dengan atasan membuat telapak tangan berkeringat, padahal kamu hanya diminta menjelaskan progres pekerjaan. Suara rekan kerja yang meninggi juga terasa mengganggu karena mengingatkanmu pada pengalaman saat dulu dipermalukan di depan tim. Reaksi itu terkadang muncul sebelum kamu sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Cobalah mengenali situasi yang paling sering memicu rasa takutmu. Kamu bisa mencatat kejadian, reaksi tubuh, dan hal yang membantumu kembali tenang setelahnya. Catatan tersebut membantu kamu membedakan situasi yang mengingatkan pada pengalaman lama dari ancaman nyata yang sedang terjadi.

2. Atur napas sebelum merespons situasi

ilustrasi perempuan mengatur napas (magnific.com/yanalya)

Ketika rekan kerja melontarkan komentar tajam, kamu mungkin langsung ingin membela diri atau meninggalkan ruangan. Tubuh terasa panas, napas memendek, dan pikiran sulit menyusun jawaban yang masuk akal. Memaksakan diri terlihat tenang justru bisa membuat ketegangan semakin terasa.

Berikan jeda singkat sebelum menjawab. Tarik napas perlahan, lalu hembuskan sedikit lebih panjang selama beberapa putaran tanpa memaksakan ritme. Cara ini membantu mengarahkan perhatian pada kondisi saat ini, sehingga kamu punya ruang untuk memilih respons yang lebih terukur.

3. Gunakan benda di sekitar untuk kembali fokus

ilustrasi perempuan memegang gelas (magnific.com/KamranAydinov)

Suasana kantor mendadak terasa seperti tempat kerja lamamu ketika seseorang membentak di dekat meja. Kamu mungkin kesulitan mengikuti percakapan, meski sebenarnya orang tersebut gak sedang berbicara kepadamu. Pada momen seperti ini, perhatianmu bisa tertarik pada ingatan lama sampai pekerjaan yang sedang dihadapi terasa kabur.

Alihkan perhatian ke hal konkret di sekitarmu. Rasakan telapak kaki menyentuh lantai, amati warna benda di meja, atau pegang gelas minum sambil memperhatikan sensasinya. Teknik grounding membantu kamu menyadari bahwa kamu sedang berada di tempat dan waktu yang berbeda dari pengalaman sebelumnya.

4. Pasang batas profesional tanpa merasa bersalah

ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Rekan kerja yang suka menyindir mungkin mengingatkanmu pada pelaku bullying di kantor sebelumnya. Karena takut dianggap terlalu sensitif, kamu memilih tertawa meski sebenarnya merasa tersinggung. Jika terus dibiarkan, kamu bisa semakin sulit membedakan sikap profesional dari kebiasaan menoleransi perlakuan yang menyakitkan.

Kamu berhak menyampaikan keberatan dengan kalimat singkat dan tegas. Misalnya, sampaikan bahwa kamu lebih nyaman membahas pekerjaan tanpa komentar pribadi. Jika perilaku tersebut berulang, simpan bukti kejadian dan pertimbangkan melapor kepada atasan tepercaya atau bagian human resources (HR).

5. Cari dukungan ketika reaksi mulai mengganggu pekerjaan

ilustrasi berbicara dengan psikolog (magnific.com/magnific)

Rasa takut yang muncul berulang kali bisa membuatmu sulit tidur menjelang rapat atau terus memikirkan percakapan setelah pulang kantor. Notifikasi grup kerja pada malam hari bahkan terasa mengancam karena kamu mengantisipasi konflik yang belum tentu terjadi. Jika kondisi ini terus mengganggu rutinitas, kamu gak harus menghadapinya sendirian.

Ceritakan situasinya kepada orang tepercaya yang mampu mendengarkan tanpa meremehkan pengalamanmu. Jika reaksi terasa intens atau menetap, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapat bantuan yang sesuai. Dukungan profesional dapat membantumu memahami pola reaksi dan menyusun strategi menghadapi pemicu secara bertahap.

Menghadapi trigger trauma di tempat kerja bukan berarti kamu harus selalu mampu mengendalikan emosi dalam setiap situasi. Kamu tetap boleh mengambil jeda, meminta bantuan, atau mengevaluasi lingkungan kerja yang terus membuatmu tertekan. Yang perlu dijaga adalah kemampuanmu bekerja tanpa harus terus mengorbankan rasa aman diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article