Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Dilema Resign yang Perlu Kamu Pertimbangkan Sebelum Keluar
ilustrasi stres kerja (pexels.com/Ron Lach)
  • Resign sering berbenturan dengan kebutuhan mencari kerja baru, sementara energi terkuras oleh pekerjaan saat ini dan belum ada kepastian penghasilan pengganti.
  • Sebelum keluar, pekerja perlu menghitung ketahanan tabungan, kewajiban finansial, serta menyiapkan serah terima agar tanggung jawab kepada tim tetap tertangani.
  • Perpindahan karier perlu didasari tujuan jelas: evaluasi sumber ketidaknyamanan, nilai keterampilan yang bisa dibawa, dan uji bidang baru tanpa langsung kehilangan penghasilan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keinginan untuk resign gak selalu muncul karena seseorang membenci pekerjaannya. Ada kalanya seseorang masih menyukai bidang yang ditekuni, merasa mampu menjalankan tanggung jawabnya, bahkan sudah cukup lama membangun karier di tempat tersebut, tetapi mulai mempertanyakan apakah dirinya sanggup bertahan lebih lama. Keinginan untuk pergi pun sering berbenturan dengan kenyataan bahwa kehidupan tetap membutuhkan penghasilan, sementara pekerjaan baru belum tentu bisa didapatkan dalam waktu dekat.

Situasi ini membuat keputusan resign terasa lebih rumit daripada sekadar memilih bertahan atau keluar. Kamu mungkin sudah mulai mencari lowongan, menghitung tabungan, dan membayangkan kehidupan setelah meninggalkan kantor, tetapi selalu menemukan alasan untuk menunda keputusan tersebut. Jika sedang menghadapi situasi serupa, ada beberapa dilema yang perlu kamu pahami sebelum menentukan langkah berikutnya.

1. Ingin punya waktu untuk mencari kerja, tetapi energi sudah habis untuk pekerjaan sekarang

ilustrasi perempuan sedang lelah bekerja (pexels.com/Ron Lach)

Mencari pekerjaan baru membutuhkan waktu dan tenaga yang gak sedikit. Kamu perlu memperbarui CV, menyesuaikan lamaran dengan posisi yang dituju, mempersiapkan wawancara, hingga memantau lowongan yang sesuai dengan kemampuanmu. Semua itu terasa lebih sulit ketika waktu luang justru habis untuk memulihkan diri setelah menjalani hari kerja yang melelahkan.

Mengundurkan diri mungkin terlihat seperti jalan keluar agar kamu bisa fokus mencari peluang baru. Akan tetapi, kamu juga perlu mempertimbangkan bahwa waktu luang tanpa penghasilan tetap bisa menghadirkan tekanan tersendiri, terutama ketika lamaran belum mendapatkan respons. Dilema ini membuatmu harus mencari cara untuk membuka peluang baru tanpa mengorbankan kestabilan hidup yang masih kamu butuhkan.

2. Ingin meninggalkan pekerjaan, tetapi belum siap melihat tabungan terus berkurang

ilustrasi perempuan menghitung menggunakan kalkulator (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Selama masih bekerja, gaji bulanan memberikan rasa aman karena berbagai kebutuhan bisa dipenuhi dengan lebih teratur. Kamu mungkin sudah terbiasa membayar tagihan, membantu keluarga, mencicil sesuatu, atau menyisihkan uang untuk kebutuhan mendatang. Keputusan resign membuat semua perhitungan tersebut perlu ditinjau ulang, terutama jika belum ada sumber pemasukan lain yang bisa diandalkan.

Tabungan yang terlihat cukup besar saat masih menerima gaji bisa terasa berbeda ketika menjadi satu-satunya sumber biaya hidup. Kamu perlu menghitung bukan hanya kebutuhan pokok, tetapi juga pengeluaran tak terduga dan kemungkinan proses mencari pekerjaan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Keinginan untuk segera keluar akhirnya harus berhadapan dengan kebutuhan menjaga cadangan uang agar kamu gak terpaksa menerima pekerjaan baru hanya karena kehabisan biaya hidup.

3. Ingin segera pergi, tetapi merasa bersalah meninggalkan tanggung jawab yang belum selesai

ilustrasi perempuan lelah bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Ada pekerja yang sebenarnya sudah mantap ingin resign, tetapi terus menunda pengajuan pengunduran diri karena memikirkan rekan kerja yang akan menerima tambahan beban. Perasaan tersebut bisa semakin kuat ketika kamu sedang menangani proyek penting, menjadi satu-satunya orang yang memahami alur pekerjaan tertentu, atau bekerja dalam tim yang kekurangan anggota. Kamu pun mulai merasa seolah-olah kepergianmu akan membuat orang lain kesulitan.

Kepedulian terhadap rekan kerja memang menunjukkan bahwa kamu mempertimbangkan dampak keputusanmu terhadap orang lain. Meski begitu, tanggung jawab atas pembagian pekerjaan dan keberlangsungan tim bukan sepenuhnya berada di pundak satu karyawan. Kamu tetap bisa menyelesaikan kewajiban sesuai masa pemberitahuan, merapikan dokumen kerja, dan membantu proses serah terima tanpa harus mengorbankan rencana hidupmu tanpa batas waktu.

4. Ingin mencoba bidang baru, tetapi takut pengalaman kerja sebelumnya menjadi sia-sia

ilustrasi perempuan berpikir (pexels.com/cottonbro studio)

Keinginan resign terkadang bukan karena lingkungan kerja yang buruk, melainkan karena kamu mulai tertarik pada jalur karier yang berbeda. Pengalaman bertahun-tahun di satu bidang bisa membuatmu merasa sayang meninggalkan keterampilan, posisi, dan reputasi yang sudah dibangun. Pada saat yang sama, bertahan hanya karena sudah telanjur berinvestasi dalam karier tersebut juga bisa membuatmu terus menunda kesempatan untuk berkembang ke arah lain.

Ketidakpastian menjadi lebih besar ketika bidang yang ingin kamu masuki membutuhkan kemampuan baru atau menawarkan gaji awal yang lebih rendah. Kamu perlu memikirkan apakah perubahan itu sesuai dengan tujuan jangka panjang, sekaligus menilai keterampilan lama yang masih bisa digunakan di pekerjaan berikutnya. Sebelum resign, mencoba proyek sampingan, mengikuti pelatihan yang relevan, atau berbicara dengan orang yang bekerja di bidang tujuan dapat membantumu menguji pilihan tersebut tanpa langsung kehilangan sumber penghasilan.

5. Ingin keluar dari situasi sekarang, tetapi belum tahu pekerjaan seperti apa yang sebenarnya dicari

Ilustrasi perempuan lelah bekerja (pexels.com/Anna Shvets)

Ketika rasa lelah menumpuk, keinginan untuk meninggalkan pekerjaan bisa terasa jauh lebih jelas daripada gambaran tentang pekerjaan yang ingin dijalani berikutnya. Kamu mungkin hanya ingin terbebas dari atasan yang sulit diajak berkomunikasi, jam kerja yang mengganggu kehidupan pribadi, atau tugas yang semakin jauh dari minat awal. Tanpa memahami sumber ketidaknyamanan tersebut, kamu berisiko membawa masalah serupa ke tempat kerja baru.

Mengambil jeda untuk mengevaluasi pengalaman kerja bisa membantumu membedakan hal-hal yang masih bisa diperbaiki dari kondisi yang memang ingin kamu tinggalkan. Cobalah mencatat situasi yang paling menguras energi, lingkungan kerja yang membuatmu berkembang, serta batasan yang ingin kamu jaga pada pekerjaan berikutnya. Langkah ini membuat pencarian kerja lebih terarah sehingga keputusan resign gak berhenti pada keinginan untuk pergi, tetapi juga memiliki tujuan yang ingin dicapai.

Memutuskan resign sebelum mendapatkan pekerjaan pengganti memang menuntut pertimbangan yang matang, terutama ketika penghasilan masih menjadi kebutuhan utama. Kamu gak harus bertahan selamanya di tempat yang membuatmu gak berkembang, tetapi memberi diri sendiri waktu untuk menyiapkan langkah berikutnya juga bukan berarti kamu takut mengambil keputusan. Pada akhirnya, keputusan yang baik bukan sekadar tentang kapan kamu berani pergi, melainkan tentang seberapa siap kamu menghadapi kehidupan setelahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article