Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Toxic Positivity dalam Berkarier yang Wajib Dihilangkan di Usia 30-an
ilustrasi seorang perempuan berpikir (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)
  • Artikel menyoroti enam bentuk toxic positivity dalam karier yang sering muncul di usia 30-an, seperti memaksakan diri selalu kuat, menghindari masalah, dan terlalu bersyukur hingga menahan ambisi.
  • Toxic positivity dapat membuat seseorang menekan emosi, mengabaikan realitas kerja, serta menghambat pertumbuhan pribadi dan profesional jika terus dipertahankan tanpa refleksi jujur terhadap kondisi diri.
  • Penulis menekankan pentingnya keseimbangan antara berpikir positif dan kejujuran emosional agar individu mampu menghadapi tantangan karier secara realistis dan menjaga kesehatan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki usia 30-an sering kali menjadi fase refleksi dalam perjalanan karier. Banyak orang mulai mengevaluasi pencapaian, arah hidup, serta keputusan yang telah diambil selama ini. Di tengah proses tersebut, muncul dorongan untuk selalu berpikir positif agar tetap termotivasi. Namun, tidak semua bentuk positif membawa dampak baik, terutama ketika dipaksakan tanpa mempertimbangkan realitas yang ada.

Toxic positivity dalam berkarier justru bisa membuat seseorang mengabaikan perasaan, menutup mata terhadap masalah, dan sulit berkembang secara jujur. Alih-alih membantu, pola pikir ini dapat menghambat proses belajar dan pemulihan diri. Oleh karena itu, penting untuk kamu mengenali dan mulai melepaskan bentuk-bentuk toxic positivity berikut ini. Yuk, simak apa saja!

1. Keharusan untuk selalu kuat dan tidak boleh mengeluh

ilustrasi seorang perempuan bekerja (freepik.com/senivpetro)

Dalam dunia kerja, banyak orang merasa dituntut untuk selalu terlihat kuat dan profesional. Perasaan lelah, stres, atau kewalahan sering kali disembunyikan karena takut dianggap tidak kompeten. Pola pikir ini membuat seseorang terbiasa memendam emosi tanpa memberi ruang untuk mengakuinya secara jujur.

Padahal, terus menahan perasaan justru bisa berdampak pada kesehatan mental dalam jangka panjang. Mengeluh dalam batas wajar bukan berarti lemah, melainkan bentuk ekspresi yang sehat untuk melepaskan tekanan. Ketika kamu berani mengakui kondisi diri, kamu juga membuka peluang untuk mencari solusi yang lebih tepat, baik melalui komunikasi dengan orang lain maupun dengan mengatur ulang beban kerja secara realistis.

2. Menganggap semua akan baik-baik saja dan terlalu bersantai

ilustrasi seorang pria bekerja (pexels.com/Burst)

Keyakinan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik memang terdengar menenangkan, terutama saat menghadapi tekanan dalam pekerjaan. Namun, jika keyakinan ini digunakan untuk menghindari tanggung jawab atau menunda tindakan, hal tersebut justru bisa merugikan diri sendiri dalam jangka panjang.

Sikap terlalu santai tanpa perencanaan dapat membuat kamu kehilangan arah dan melewatkan peluang penting. Optimisme seharusnya berjalan beriringan dengan usaha yang nyata. Saat kamu tetap berpikir positif dan bertindak secara strategis, kamu tidak sekadar berharap keadaan membaik, melainkan juga berupaya menciptakan perubahan yang lebih baik dalam kariermu.

3. Menghindari masalah dan berharap masalah hilang sendiri

ilustrasi konflik dengan rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Mengabaikan masalah dengan harapan waktu akan menyelesaikan segalanya adalah salah satu bentuk toxic positivity yang sering tidak disadari. Dalam dunia kerja, masalah yang dibiarkan tanpa penyelesaian justru berpotensi menjadi lebih besar dan kompleks seiring berjalannya waktu.

Menghadapi masalah memang tidak selalu nyaman, tetapi hal ini penting untuk pertumbuhan diri. Proses memahami situasi secara sadar memungkinkan kamu melihat akar permasalahan dan menentukan solusi yang lebih tepat. Pendekatan ini membantu kamu menjadi pribadi yang lebih matang dan tidak mudah menghindar dari tanggung jawab, sehingga perkembangan karier dapat berjalan lebih sehat.

4. Tidak menuntut lebih dan mementingkan bersyukur

ilustrasi seorang perempuan stres (freepik.com/diana.grytsku)

Rasa syukur sering kali dijadikan alasan untuk tetap bertahan dalam kondisi yang sebenarnya tidak lagi ideal. Banyak orang menahan diri untuk tidak meminta kenaikan gaji, promosi, atau kesempatan baru karena merasa harus cukup dengan apa yang ada. Pola pikir ini dapat menghambat perkembangan karier dalam jangka panjang.

Bersyukur tidak berarti berhenti memiliki ambisi. Kamu tetap berhak menginginkan kondisi yang lebih baik selama hal tersebut dilakukan dengan cara yang sehat. Ketika kamu berani menyuarakan kebutuhan dan tujuan, kamu memberi ruang bagi diri sendiri untuk berkembang tanpa rasa bersalah. Keseimbangan antara rasa syukur dan keinginan untuk maju menjadi kunci dalam perjalanan karier.

5. Membandingkan diri dengan orang yang lebih susah agar tidak mengeluh

ilustrasi seorang pria berpikir (freepik.com/Drazen Zigic)

Membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap "lebih sulit" keadannya sering digunakan sebagai cara untuk menenangkan diri. Namun, pendekatan ini justru dapat membuat perasaan sendiri menjadi tidak valid. Setiap individu memiliki tantangan yang berbeda, sehingga perbandingan semacam ini tidak selalu relevan.

Alih-alih membantu, kebiasaan ini bisa membuat kamu terbiasa menekan emosi sendiri. Mengakui bahwa kamu sedang merasa lelah atau tidak puas adalah langkah yang lebih sehat. Dengan menerima perasaan tersebut, kamu bisa lebih jujur pada diri sendiri dan mencari solusi yang benar-benar sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi.

6. Tetap positif meski sudah jelas tidak sehat

ilustrasi seorang perempuan bekerja (freepik.com/marymarkevich)

Memaksakan diri untuk tetap positif dalam lingkungan kerja yang tidak sehat adalah bentuk toxic positivity yang paling berbahaya. Tidak semua situasi layak dipertahankan, terutama jika sudah berdampak negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan diri secara keseluruhan.

Melihat kondisi secara realistis membantu kamu mengambil keputusan yang lebih bijak. Terkadang, langkah terbaik bukanlah bertahan, melainkan berani mencari lingkungan yang lebih mendukung. Memahami batas diri dan berani mengambil tindakan membantu kamu menjaga keseimbangan hidup sekaligus melanjutkan karier ke arah yang lebih sehat.

Itulah 6 toxic positivity dalam berkarier yang wajib dihilangkan di usia 30-an. Berpikir positif memang penting, tetapi harus diimbangi dengan kejujuran terhadap diri sendiri dan keberanian menghadapi realitas. Dengan melepaskan pola pikir yang tidak sehat, kamu dapat menjalani karier dengan lebih sadar, seimbang, dan terus berkembang ke arah yang lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team