Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Backhanded Compliment, Saat Pujian Justru Jadi Sindiran Merendahkan

Backhanded Compliment, Saat Pujian Justru Jadi Sindiran Merendahkan
ilustrasi tatapan pria (pexels.com/August de Richelieu)
Intinya Sih
  • Artikel menjelaskan konsep backhanded compliment, yaitu pujian yang terdengar positif tapi sebenarnya mengandung nada merendahkan dan bisa menurunkan rasa percaya diri penerimanya.
  • Disebutkan beberapa contoh umum seperti komentar tentang usia, hasil kerja, gaya berpakaian, hingga sikap hidup yang tampak santai, yang sering disampaikan tanpa sadar bernada menyindir.
  • Penulis menekankan pentingnya peka terhadap makna di balik pujian serta berhati-hati memilih kata agar apresiasi terasa tulus dan tidak membuat orang lain merasa diremehkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pernah gak sih, kamu menerima pujian, tapi setelah dipikir-pikir malah bikin gak nyaman? Kalimatnya terdengar manis di permukaan, tapi ada nada meremehkan yang terselip di baliknya.

Bentuk pujian seperti ini sering disebut sebagai backhanded compliment atau pujian terselubung. Orang yang mengucapkannya kadang sadar dengan maksudnya, kadang juga enggak.

Meski terdengar sepele, ucapan seperti ini bisa memengaruhi rasa percaya diri kalau terlalu sering diterima. Supaya kamu lebih peka membedakan pujian tulus dan sindiran halus, coba perhatikan beberapa contoh berikut ini.

1. “Kamu kelihatan bagus untuk seusiamu”

ilustrasi teman ngobrol (freepik.com/tirachardz)
ilustrasi teman ngobrol (freepik.com/tirachardz)

Kalimat ini terdengar seperti pujian tentang penampilan. Masalahnya, tambahan kata “untuk seusiamu” justru membuat maknanya berubah. Secara gak langsung, orang tersebut seperti menganggap bahwa bertambah usia identik dengan penampilan yang menurun.

Ucapan seperti ini juga memperlihatkan standar kecantikan yang terlalu terpaku pada usia muda. Padahal setiap orang tetap punya nilai dan daya tarik di umur berapa pun. Banyak orang gak sadar kalau komentar semacam ini bisa terasa merendahkan, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap soal penampilan dan usia.

2. “Hasil kerja kamu ternyata lebih bagus dari yang aku kira”

ilustrasi rekan kerja (unsplash.com/Mimi Thian)
ilustrasi rekan kerja (unsplash.com/Mimi Thian)

Awalnya kalimat ini terdengar positif karena hasil kerja kamu dianggap memuaskan. Akan tetapi, bagian “dari yang aku kira” menunjukkan bahwa sejak awal mereka punya ekspektasi rendah terhadap kemampuanmu. Jadi, pujiannya terasa seperti dibarengi keraguan.

Menurut penelitian dalam Harvard Business School Working Paper, backhanded compliment sering dipakai orang untuk terlihat superior sekaligus tetap dianggap ramah. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa komentar seperti ini justru bisa menurunkan motivasi seseorang. Dalam lingkungan kerja yang kompetitif, ucapan semacam ini cukup sering muncul tanpa disadari.

Kalau memang ingin memuji, sebenarnya kalimat sederhana sudah cukup. Misalnya dengan mengatakan bahwa pekerjaanmu rapi, kreatif, atau memuaskan. Tanpa perlu menambahkan unsur keterkejutan yang membuat pujian terasa setengah hati.

3. “Style kamu unik banget”

ilustrasi pakaian warna hijau (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi pakaian warna hijau (pexels.com/cottonbro studio)

Banyak orang memakai kata “unik” saat sebenarnya mereka bingung atau gak suka dengan gaya berpakaian seseorang. Kalimat ini memang gak selalu bermakna negatif, tapi nada dan konteksnya sering membuat pujian tersebut terasa aneh. Terutama kalau disampaikan sambil melihat pakaianmu dari atas sampai bawah.

Menurut pembahasan dalam Fashion and Law Journal, fashion menjadi salah satu bentuk ekspresi diri dan cara seseorang menunjukkan identitasnya. Cara berpakaian sering dipakai untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekaligus memperlihatkan kepribadian masing-masing. Karena itu, komentar soal penampilan kadang membawa penilaian sosial yang lebih dalam daripada sekadar urusan baju.

Setiap orang punya selera berbeda soal fashion. Ada yang suka tampil aman, ada juga yang nyaman memakai outfit mencolok atau anti-mainstream. Selama membuatmu percaya diri dan nyaman, pendapat orang lain sebenarnya gak perlu terlalu dipikirkan, ya.

4. “Aku pengin bisa sesantai kamu”

ilustrasi santai, ngopi
ilustrasi santai, ngopi (pexels.com/Kevin Malik)

Kalimat ini sering muncul dalam situasi sehari-hari. Misalnya saat kamu terlihat santai menghadapi hubungan, pekerjaan, atau urusan hidup lainnya. Di permukaan memang terdengar seperti kekaguman, tapi sebenarnya ada unsur membandingkan diri mereka denganmu.

Ucapan tersebut bisa terasa seperti sindiran bahwa kamu dianggap terlalu cuek atau kurang serius. Orang yang mengatakannya biasanya punya standar hidup tertentu lalu menilai orang lain dari sudut pandang mereka sendiri. Kadang komentar itu lebih menggambarkan kecemasan mereka dibanding keadaanmu yang sebenarnya.

Gak semua hal harus ditanggapi secara emosional. Kalau kamu memang nyaman menjalani hidup dengan caramu sendiri, gak ada alasan untuk merasa bersalah hanya karena dianggap terlalu santai oleh orang lain. Selama keputusan yang kamu ambil tetap bertanggung jawab dan membuat hidupmu lebih tenang, pendapat orang lain gak harus selalu dijadikan patokan.

5. “Aku gak bakal sanggup kalau ada di posisi kamu”

ilustrasi sedih (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi sedih (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kalimat ini biasanya muncul saat kamu sedang cerita tentang masalah hidup. Sekilas terdengar seperti pujian atas kekuatanmu menghadapi keadaan sulit. Akan tetapi, ucapan tersebut juga bisa meninggalkan kesan bahwa hidupmu terlalu berat atau menyedihkan.

Alih-alih memberi dukungan, komentar ini kadang malah membuat seseorang merasa dikasihani. Banyak orang sebenarnya bingung harus merespons curhatan orang lain, sehingga tanpa sadar memilih kalimat yang kurang tepat. Niatnya mungkin baik, tapi hasilnya justru terasa gak nyaman.

Saat menghadapi komentar seperti ini, coba fokus pada dirimu sendiri daripada terus memikirkan maksud orang lain. Kamu sudah berusaha menjalani hidup sebaik mungkin dengan kemampuan yang ada. Itu saja sebenarnya sudah cukup membuktikan bahwa kamu lebih kuat dari yang kamu kira.

Pujian seharusnya membuat seseorang merasa dihargai dan lebih percaya diri. Namun dalam beberapa situasi, ada pujian yang justru terasa seperti sindiran tersembunyi. Bentuknya halus, tapi bisa meninggalkan rasa gak nyaman setelah mendengarnya.

Karena itu, penting buat kamu untuk lebih peka membedakan mana apresiasi tulus dan mana komentar yang sebenarnya meremehkan. Di sisi lain, memilih kata-kata dengan hati-hati juga bisa membantu supaya pujian yang kamu berikan benar-benar terasa hangat dan menyenangkan bagi orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More