Mengulas Tren Pekerjaan dan Penggunaan AI dari LinkedIn Career Expert

AI menolong orang-orang untuk work life balance

Jakarta, IDN Times - Dunia karier gak akan pernah lepas dan selalu berjalan seiring perkembangan revolusi digital. Gak bisa dimungkiri, kini Artificial Intelligence (AI) mengambil peran yang sangat dominan dalam dunia profesional. Kekhawatiran bahwa teknologi AI akan menggantikan profesi manusia, kerap terjadi.

Lantas, bagaimana kita bisa menghadapi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam dunia karier? Melalui interview dengan IDN Times pada Senin (20/11/2023) silam, Serla Rusli selaku LinkedIn Career Expert membagikan insight menarik seputar tren pekerjaan, penggunaan AI, dan apa yang diberikan LinkedIn untuk membantu para profesional. 

1. Tren pekerjaan di masa depan

Mengulas Tren Pekerjaan dan Penggunaan AI dari LinkedIn Career ExpertSerla Rusli selaku LinkedIn Career Expert. (IDN Times/Adyaning Raras)

LinkedIn merupakan jaringan profesional terbesar yang sudah ada sejak 20 tahun lalu. Setiap detiknya, ada 140 lamaran yang masuk dan enam orang yang dipekerjakan setiap menit melalui LinkedIn. Hal ini menjelaskan bahwa perusahaan dan pencari kerja perlu saling terhubung berdasarkan keahlian yang ingin dibangun atau mereka miliki, serta nilai-nilai bisnis apa yang ada di dalam perusahaan.

“Sebagai profesional, kita dihadapkan pada tantangan besar untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga, menguasai tren yang sedang berkembang, serta terus belajar dan mengasah keterampilan baru,” kata Serla.

Bukan hanya platform pencarian kerja atau berjejaring, LinkedIn berkontribusi menciptakan peluang ekonomi dengan membantu anggotanya untuk selalu memperbaharui keterampilan mereka. Dengan satu miliar pengguna dan 67 juta perusahaan di platform ini, LinkedIn juga turut membantu merancang karier impian dan dunia kerja di masa depan yang didukung Generative AI.

Menurut Serla, percakapan soal AI di LinkedIn sejak Desember 2022 hingga September 2023, meningkat signifikan hingga 70 persen. Artinya, pengaruh teknologi ini gak main-main dalam sektor apa pun termasuk dunia kerja.

“Di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, lowongan pekerjaan yang menyebutkan AI atau AI Generatif meningkat dua kali lipat (2,4 kali) dari tahun 2021 hingga 2023. Selain itu, lowongan pekerjaan yang menyebutkan AI atau AI Generatif, juga mengalami peningkatan jumlah pelamar sebanyak 1,7 kali lipat di Asia Tenggara selama dua tahun terakhir dibandingkan dengan lowongan pekerjaan yang tidak menyebutkan keduanya,” sambungnya.

Peningkatan tersebut sejalan dengan penelitian terbaru LinkedIn yang mengungkapkan bahwa lebih dari 78 persen profesional di Indonesia, percaya akan adanya perubahan signifikan pada pekerjaan mereka di tahun depan karena AI. Adanya AI juga berimbas pada kecenderungan Gen Z dalam menghadapi disrupsi pekerjaan. Secara tidak langsung, AI mempermudah pekerjaan atau tugas-tugas Gen Z, tetapi akhirnya serba diotomatisasi oleh teknologi tersebut.

Namun, hal tersebut gak menghalangi Gen Z untuk tetap bisa berjejaring dengan profesional lain. Data LinkedIn menunjukkan bahwa 80 persen lebih Gen Z masih menggunakan laman karier dan13 persen lebih mencari peluang karier di LinkedIn daripada generasi sebelumnya.

Untuk menghadapi tren yang masif ini, para profesional di Indonesia perlu belajar dari berbagai sumber seperti mempererat relasi dari para pakar industri atau leader di LinkedIn.

Serla memaparkan, “Peningkatan jumlah lowongan pekerjaan yang menyebutkan AI juga menunjukkan naiknya permintaan akan talenta dengan keterampilan AI. Sementara itu, para profesional yang terus meningkatkan keterampilan, serta menyoroti keahlian mereka kepada pemberi kerja, akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan karier mereka di era AI.”

2. Untuk menghadapi masa depan, soft skills menjadi elemen penting yang harus dikuasai

Mengulas Tren Pekerjaan dan Penggunaan AI dari LinkedIn Career Expertilustrasi bekerja (unsplash.com/Emmanuel Ikwuegbu)

Jangan lupakan pentingnya soft skills yang memperlengkapi seseorang untuk survive dalam dunia profesional. Cambridge Dictionary mendefinisikan soft skills sebagai kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dan bekerja secara optimal. Dengan adanya AI, justru kamu bisa mengembangkan keterampilan lebih banyak karena terfasilitasi oleh banyaknya akses informasi.

Serla melanjutkan, “Data kami menunjukkan bahwa kesenjangan keterampilan yang paling signifikan di Indonesia ada pada kompetensi Data Science, Web Development, dan Graphic Design. Namun, seiring dengan semakin meningkatnya penggunaan AI untuk mengotomatisasi pekerjaan, pentingnya keterampilan lunak pun meningkat.”

Untuk itu, LinkedIn juga berperan membantu individu memperbaharui soft skills mereka melalui LinkedIn Learning. LinkedIn Learning merupakan platform pengembangan keterampilan yang cerdas dengan rekomendasi pembelajaran yang dipersonalisasi dan didukung oleh AI. 

Bak perpustakaan, LinkedIn Learning memiliki lebih dari 21 ribu kursus yang diperbarui secara berkala. Tiap minggunya, ada 60 kursus baru untuk memberdayakan karyawan dalam memajukan karier mereka dan membantu perusahaan atau organisasi mengembangkan talenta karyawannya.

Lebih lanjut, “Data LinkedIn Learning di seluruh Asia Pasifik menunjukkan peningkatan yang signifikan pada beragam pelatihan, seperti Speaking Confidently and Effectively dan Cultivating a Growth Mindset yang menyoroti pergeseran global dalam mengakui nilai keterampilan lunak.”

Sebagai LinkedIn Career Expert, Serla melihat adanya lonjakan besar sebanyak 1,6 kali lipat waktu yang dihabiskan para pekerja Indonesia di LinkedIn Learning. Speaking Confidently and Effectively, Learning Data Analytics: Foundations, Coaching and Developing Employees, dan Strategic Thinking, merupakan keterampilan-keterampilan yang paling banyak dipelajari.

“Soft skill yang dipasangkan dengan keterampilan AI sangat penting untuk masa depan. Jadi, jangan remehkan pentingnya menunjukkan soft skill Anda, seperti kerja sama tim, problem-solving, dan pemikiran kreatif atau strategis untuk memajukan karier Anda,” katanya.

Hal ini sejalan dengan pandangan Gen-Z terhadap apa yang mereka jadi dalam pekerjaan. Riset yang tercantum dalam Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2024 by IDN Media menjelaskan sebanyak 47 persen menginginkan pekerjaan yang cocok dengan minat dan bakat mereka. Artinya, soft skill memang berpotensi menciptakan perubahan di masa depan.

3. AI memfasilitasi tenaga kerja dan membantu pekerja mencapai work life balance

Mengulas Tren Pekerjaan dan Penggunaan AI dari LinkedIn Career Expertilustrasi bekerja sambil melukis (pexels.com/veerasak Piyawatanakul)

Teknologi AI nyatanya cukup membantu memfasilitasi tenaga kerja yang lebih beragam dan inklusif di masa depan. Serla mengungkapkan bahwa data studi LinkedIn menunjukkan kepercayaan para profesional Indonesia terhadap AI dan peluang karier yang lebih setara bagi tenaga kerja lokal.

dm-player

Selain itu, 70 persen profesional menyatakan bahwa kehadiran AI menciptakan lebih banyak peluang kerja di luar kota. Dalam arti, mulai banyak orang yang meningkatkan keterampilan mereka terkait AI dan memanfaatkan AI untuk bekerja dari jarak jauh.

Sementara itu, 50 persen orang Indonesia menganggap bahwa keterampilan AI akan membantumu untuk mendapatkan posisi yang lebih sejajar dengan profesional lainnya, terlepas dari kualifikasi pendidikan. Mengapa? Pasalnya, kecerdasan buatan akan sangat meningkatkan kemampuan organisasi atau perusahaan bukan hanya dalam merekrut dan mengembangkan talenta, melainkan juga memahami tren pasar tenaga kerja secara real time.

Serla menambahkan, “Dalam dunia kerja yang mengutamakan keterampilan saat ini, penting untuk membangun keterampilan dan personal brand melebihi kualifikasi pendidikan. Memiliki kehadiran yang solid dan personal brand yang profesional di LinkedIn, sangat penting karena perusahaan semakin melihat lebih dari sekadar gelar untuk mempertimbangkan keterampilan, nilai, dan network.”

Baca Juga: 5 Tips Maksimalkan Profil LinkedIn untuk Mendapatkan Pekerjaan

4. Pengguna akan termudahkan dengan beberapa inovasi produk AI LinkedIn

Mengulas Tren Pekerjaan dan Penggunaan AI dari LinkedIn Career Expertilustrasi LinkedIn (unsplash.com/Souvik Banerjee)

Perkembangan AI kian masif dan signifikan, tetapi AI sebenarnya bukanlah teknologi baru. AI juga bukan hal baru untuk LinkedIn dalam memberikan layanan bagi perusahaan atau para profesional.

“Awal tahun ini, kami meluncurkan Collaborative Articles, sebuah fitur pembuka percakapan dibantu AI yang menyatukan wawasan dan perspektif para pengguna dengan topik-topik pengetahuan yang dipublikasikan oleh LinkedIn. Ini merupakan cara terbaik untuk berbagi dan menyerap pengetahuan kolektif para pengguna serta memicu percakapan, pembelajaran, dan koneksi,” tutur Serla.

Ada pula LinkedIn Learning dengan lebih dari 300 kursus AI yang dapat digunakan oleh perusahaan. Dengan begitu, karyawan akan terbekali dengan beragam keterampilan yang cerdas dan akan mengoptimalisasi talenta masing-masing.

“Kami memahami bahwa kami memiliki peluang dan peran di dunia kerja masa depan dengan membantu anggota dan pelanggan kami menavigasi transformasi ini. Saat ini, kami memanfaatkan potensi penuh platform kami dan kemajuan AI untuk menciptakan pengalaman yang baru. Mulai dari menavigasi perubahan karier, membangun bisnis, mempelajari keterampilan baru, hingga menyuarakan aspirasi, pengalaman terbarukan di LinkedIn yang didukung AI, hasil dari gabungan pelatih, penasihat, co-pilot, asisten, dan kolega terpercaya, menjadi mitra untuk tetap menjadi yang terdepan,” jelas Serla.

LinkedIn juga melakukan evolusi signifikan dengan meluncurkan Recruiter 2024, pelatihan berbasis AI dari LinkedIn Learning untuk para karyawan yang mencari panduan karier, menata kembali experience menggunakan LinkedIn melalui AI generatif, serta Premium Experience LinkedIn berbasis AI (belum tersedia di Indonesia)

“Pengalaman perekrutan baru dengan bantuan AI di LinkedIn yang membuat perekrutan menjadi lebih efisien dan mudah, sehingga para talent leaders dapat fokus pada pekerjaan strategis yang berpusat pada manusia,” ungkap Serla mengenai Recruiter 2024.

Premium Experience LinkedIn baru ada bagi pelanggan premium terpilih di Amerika Serikat. Platform ini memungkinkan untuk mengambil langkah karier yang dipersonalisasi, misalnya menganalisis unggahan feed untuk mengungkap hal-hal penting dalam hitungan detik. Serla juga menjelaskan apabila ada pertanyaan tentang topik yang sedang trending, jawaban yang didapatkan bisa lebih cepat dari artikel atau hasil diskusi

Serla melihat bahwa pencarian pekerjaan yang ideal atau sesuai impian kadang terasa sulit dan menakutkan. Oleh karena itu, Premium Experience LinkedIn hadir untuk menilai apakah pekerjaan tertentu cocok untukmu. LinkedIn membantu penggunanya menavigasikan diri dengan menganalisis pekerjaan hingga perusahaan serta membantu mempersiapkan wawancara.

5. Ada fitur-fitur yang menunjang ekosistem inklusif untuk para penyandang disabilitas

Mengulas Tren Pekerjaan dan Penggunaan AI dari LinkedIn Career Expertilustrasi bekerja (unsplash.com/John Schnobrich)

Meskipun banyak lapangan pekerjaan yang terbuka, gak bisa menampik kenyataan bahwa penyandang disabilitas kerap kesulitan menemukan pekerjaan yang tepat atau menggunakan platform untuk mencari pekerjaan. Itu sebabnya, ekosistem yang inklusif dalam beragam sektor sangat dibutuhkan oleh para penyandang disabilitas.

Menurut Serla, setiap anggota LinkedIn punya ciri khasnya sendiri. Keberagaman itulah yang membuat komunitas LinkedIn menjadi istimewa.

“Kami sedang berupaya menjadikan aksesibilitas dan desain inklusif sebagai bagian dari prinsip-prinsip utama kami, membangun aksesibilitas dari bawah ke atas dan menguji produk kami dengan teknologi bantuan untuk memastikan bahwa setiap orang dapat menggunakan LinkedIn untuk memajukan tujuan profesional mereka,” pungkasnya.

Terdapat disability desk yang menerima tanggapan untuk meningkatkan pengalaman bagi para pengguna penyandang disabilitas. Selain itu, ada aplikasi gratis Be My Eyes yang bisa menghubungkan penyandang tunanetra dan low vision dengan sukarelawan untuk mendapatkan bantuan visual melalui panggilan video langsung.

Serla menambahkan, “Inklusi di tempat kerja sangat penting tidak hanya untuk keadilan bagi setiap karyawan, tetapi juga untuk memaksimalkan nilai yang didapat dari adanya perspektif yang berbeda dalam tim. Para profesional neurodivergent, termasuk penderita disleksia, memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah, seperti cara berpikir, yang dapat membantu memperluas pemahaman kita tentang keberhasilan. Untuk menunjukkan bakat-bakat tersembunyi ini, pengguna LinkedIn dapat menambahkan Dyslexic Thinking as a skill di profil mereka dan terhubung dengan hampir 23.000 orang yang telah bergabung sejak diperkenalkan tahun lalu.”

Ternyata AI juga membukakan jalan untuk para penyandang disabilitas agar lebih dimudahkan, lho! Hal ini juga diungkapkan dalam survei LinkedIn. Serla menunjukkan bahwa mayoritas orang Indonesia (92 persen) percaya bahwa AI akan menjadi rekan kerja bayangan dalam 5 tahun ke depan.

Sebanyak 71 persen melihat bahwa AI dapat membuat pekerjaannya jadi lebih mudah dan mampu meningkatkan kepuasan kerja. Sementara itu, 55 persen beranggapan AI menolong orang-orang untuk bisa memiliki work life balance yang lebih baik.

Nah, apakah kamu sudah termasuk orang yang bisa beradaptasi dengan adanya teknologi AI? Apakah memudahkan atau justru menyulitkan?

Baca Juga: 6 Koneksi yang Wajib Kamu Tambahkan di LinkedIn, Perluas Networking!

Topik:

  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya