Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bekerja di era digital
ilustrasi bekerja di era digital (pexels.com/Ketut subiyanto)

Intinya sih...

  • Dunia kerja berubah lebih cepat daripada jalur karier tradisional

  • Kenaikan gaji dan apresiasi lebih nyata saat pindah kerja

  • Pencarian lingkungan kerja yang sehat dan sejalan nilai pribadi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dulu, bertahan lama di satu perusahaan dianggap sebagai bukti loyalitas dan dedikasi. CV dengan satu nama perusahaan selama belasan tahun dipandang membanggakan. Namun, lanskap dunia kerja kini berubah drastis. Istilah job hopping berpindah kerja dalam rentang waktu relatif singkat, tak lagi otomatis dicap negatif.

Justru di era modern, praktik ini semakin dianggap realistis dan masuk akal. Perubahan kebutuhan individu, dinamika industri, hingga cara perusahaan memperlakukan karyawan membuat job hopping menjadi pilihan yang wajar. Berikut lima alasan mengapa job hopping kini dipandang sebagai strategi bertahan hidup, bukan sekadar ketidaksabaran.

1. Dunia kerja berubah lebih cepat daripada jalur karier tradisional

ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/ThisIsEngineering)

Perkembangan teknologi, digitalisasi, dan disrupsi industri membuat banyak pekerjaan berubah bahkan menghilang dalam hitungan tahun. Skill yang relevan hari ini bisa jadi usang besok. Dalam kondisi seperti ini, bertahan terlalu lama di satu posisi tanpa perkembangan justru berisiko.

Job hopping menjadi cara realistis untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Dengan berpindah kerja, seseorang bisa mengeksplorasi peran baru, teknologi baru, dan sistem kerja yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Karier tak lagi berbentuk tangga lurus ke atas, melainkan peta bercabang yang menuntut kelincahan.

2. Kenaikan gaji dan apresiasi lebih nyata saat pindah kerja

ilustrasi bersalaman (pexels.com/Fauxels)

Fakta yang sering terjadi di lapangan, kenaikan gaji internal kerap kalah signifikan dibandingkan penawaran dari perusahaan baru. Banyak pekerja menyadari bahwa loyalitas tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan. Job hopping kemudian dipilih sebagai cara rasional untuk mendapatkan kompensasi yang lebih adil sesuai skill dan pengalaman.

Dalam konteks ini, berpindah kerja bukan bentuk ketidaksetiaan, melainkan strategi negosiasi nilai diri. Selama dilakukan dengan pertimbangan matang, job hopping justru menunjukkan kesadaran akan harga kompetensi yang dimiliki.

3. Pencarian lingkungan kerja yang sehat dan sejalan nilai pribadi

ilustrasi rekan kerja solid (pexels.com/Mikhail Nilov)

Generasi pekerja modern tidak hanya bekerja demi gaji. Tetapi juga demi makna, keseimbangan hidup, dan kesehatan mental. Ketika lingkungan kerja terbukti toksik, tidak suportif, atau bertentangan dengan nilai pribadi, bertahan terlalu lama justru merugikan diri sendiri.

Job hopping menjadi bentuk keberanian untuk keluar dari situasi yang tidak sehat. Alih-alih memaksakan adaptasi sepihak, pekerja modern memilih mencari tempat yang lebih manusiawi. Dalam konteks ini, job hopping adalah bentuk perawatan diri yang realistis dan bertanggung jawab.

4. Pengembangan skill lebih cepat lewat pengalaman beragam

ilustrasi pekerjaan berbasis digital (pexels.com/Walls.io)

Berpindah kerja memungkinkan seseorang terpapar berbagai sistem, budaya organisasi, dan tantangan berbeda. Hal ini memperkaya perspektif serta mempercepat pengembangan skill, baik teknis maupun non-teknis. Pengalaman lintas perusahaan sering kali membuat seseorang lebih adaptif, komunikatif, dan solutif.

Di era modern, nilai seorang profesional tidak hanya diukur dari lamanya bekerja. Tetapi dari kedalaman pengalaman dan kemampuannya beradaptasi. Job hopping yang terarah dapat membentuk profil pekerja yang fleksibel dan relevan di berbagai situasi.

5. Loyalitas tidak lagi bersifat satu arah

ilustrasi rekan kerja solid (pexels.com/Mikhail Nilov)

Realitas pahit dunia kerja modern adalah kenyataan bahwa perusahaan juga bisa melakukan pemutusan hubungan kerja kapan saja atas nama efisiensi. Konsep kerja seumur hidup semakin jarang ditemui. Dalam kondisi ini, tuntutan agar karyawan selalu setia tanpa jaminan timbal balik terasa tidak seimbang.

Job hopping kemudian dipandang sebagai respons realistis terhadap sistem yang cair dan tidak pasti. Loyalitas kini lebih bersifat transaksional dan profesional, bukan emosional semata. Selama pekerja tetap bertanggung jawab, profesional, dan tidak membakar jembatan, berpindah kerja adalah pilihan rasional.

Job hopping di era modern bukan sekadar tren, melainkan refleksi dari perubahan besar dalam dunia kerja. Ia lahir dari kebutuhan untuk bertahan, berkembang, dan menjaga keseimbangan hidup. Tentu, job hopping yang dilakukan tanpa arah dan pertimbangan matang tetap berisiko. Namun ketika dilakukan dengan strategi, kesadaran diri, dan tujuan yang jelas, job hopping adalah langkah realistis bahkan cerdas. Bagaimana, setuju?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian